ASAL USUL KAMPUNG WAEREBO

Yulita Irawati Jumun
Karya Yulita Irawati Jumun Kategori Agama
dipublikasikan 13 Desember 2017
ASAL USUL KAMPUNG WAEREBO

 

ASAL- USUL KAMPUNG WAEREBO

Pada suatu hari ada seorang pemuda tampan dari Minangkabau yang bernama Maro. Maro dan keluarganya berlayar dari sumatera hingga tiba di Labuan Bajo. Ia yang pada saat itu sedang mencari jati diri mempunyai bakat yang cukup bagus yaitu melakukan permainan ayam taji dengan orang kampung Labuan Bajo yang bernama Tinus.
Di dalam permainan itu ayam Maro menang, setelah membuat ayam milik lawannya kalah. Tinus yang kalah dalam permainan ayam taji itu tidak terima dengan kemenangannya Maro. Ia menuduh Maro bermain curang. Setelah Tinus mendapat dukungan dari orang sekampung Labuan Bajo, ia mengancam akan membunuh Maro.
Setelah Maro mendengar ancaman dari orang sekampung tersebut, ia langsung pergi meninggalkan kampung Labuan Bajo. Ia pergi ke suatu daerah yang bernama Nangapa’ang yang sekarang tempat tersebut berada di dekat kampung Iteng.
Pada suatu hari Maro duduk di depan teras rumahnya yang ada di Nangapa’ang sambil minum kopi, ia melihat ke arah gunung. Tiba-tiba Maro melihat asap di sebuah gunung. Gunung itu adalah kampung Todo. Tetapi ia bingung dengan asap itu, maka muncullah pertanyaan di dalam dirinya. Apakah asap tersebut berasal dari rumah yang terbakar atau berasal dari orang yang sedang membakar sampah.
Maro merasa penasaran dan ia ingin segera pergi kampung itu. Ia pun pergi ke kampung Todo beruntung Maro langsung di terima baik oleh masyarakat kampung Todo.
Sejak adanya Maro di kampung Todo, orang kampung Todo langsung mengadakan pemilihan ketua suku, meski bukan warga asli kampung Todo, karena ketampanan dan kepintaran, Maro dipilih sebagai ketua suku orang Todo.
Selama tiga tahun Maro tinggal di kampung Todo, ia mulai bosan dan akhirnya ia memilih untuk berpindah ke kampung Popo. Di kampung Popo ini Maro tinggal lebih lama. Hingga pada suatu hari, timbullah perselisihan antara Maro dengan kampung tetangga yang berada di samping kampung Popo. Perselisihan ini membawakan kabar yang buruk bahwa kampung Popo akan di serang tengah malam oleh kampung tetangga(Lamba). Mendengar kabar tersebut kampung Popo malah melindungi Maro yang notabene adalah pendatang. Namun perlindungan tersebut tidak berhasil, ternyata tidak membuat kampung tetangga(Lamba) gentar. Mereka semakin marah dengan Maro.
Pada suatu malam, ada seekor kera datang ke kamarnya Maro di Popo. Kera itu duduk diatap rumah Maro. Maro merasa bahwa kera itu bukanlah sembarang kera. Maro berusaha berbicara dengannya.

“ Hai kera, kalau kau membawa berita baik padaku maka bersuaralah,” ucap Maro.

Tiba-tiba, Kera ini mengeluarkan suaranya, dia mengajak Maro untuk segera pindah dari kampung Popo. Sebab di kampung itu akan terjadi kebakaran. Mendengar berita itu, Maro langsung pindah ketempat yang lain.

Beberapa hari kemudian, Maro pergi meninggalkan kampung Popo bersama kera itu. Kera itu menuntun Maro untuk pergi ke sebuah kampung bernama Modo dan ia menetap di kampung itu. Setelah beberapa bulan Maro di kampung itu, ia mulai menguasai kampung Modo dan di sini timbulah percekcokan antara Maro dan warga kampung Modo. Beruntung, Maro sempat menjalin hubungan baik dengan seorang pria yang bernama Tinus. Tinus adalah warga kampung Modo yang sangat mempercayai Maro. Pada hari itu di mana warga kampung Modo ingin membunuh Maro,Tinus langsung mengajak Maro ke gunung.
Setibanya di gunung Maro menemukan sebuah persimpangan jalan. Di sini Maro benar-benar binggung mau memilih jalan ke kiri atau ke kanan. Akhirnya Maro memilih jalan ke kanan. Jalur yang dipilih Maro ternyata membawanya ke kampung Golodamu. Di kampung itu Maro mendapat istri. Maro mulai menanam jagung dan memanen hasil yang sangat memuaskan untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya.
Hari demi hari Maro dan istrinya selalu bertengkar. Maro justru mendapatkan kutukan yang sangat berat, bahwa Maro dan istrinya tidak boleh tinggal di Golodamu karena ada sebuah kutukan yang mungkin saja datang karena karma di perbuatnya di masa lalu.
Maro dan istrinya tidak pernah putus asa, mereka akan memutuskan untuk pindah kesebuah daerah yang bernama Waraloka. Hingga pada suatu malam penuh bintang, Maro mendapat sebuah mimpi yang bisa merubah cara hidupnya. Dalam mimpinya, ada seorang nenek tua datang menghampirinya dan menyampaikan sebuah pesan agar Maro mencoba memandang ke bawah, di sana ada tanah yang sangat besar dan ia akan berkembang di tempat itu. Ia harus menamai tempat itu dengan Waerebo. Setelah menyampaikan pesan itu, nenek tua itu langsung hilang dari mimpinya.
Setelah mimpi itu datang padanya. Maro mulai berpikir agar segera pindah ke kampung waerebo itu. Di kampung Waerebo inilah Maro menetap dan sampai sekarang keturunan Maro masih ada di Waerebo.

 

SELESAI

 

  • view 229