CINTA TERHALANG BUDAYA

Yulita Benedikta Dairo
Karya Yulita Benedikta Dairo Kategori Budaya
dipublikasikan 08 Januari 2018
CINTA TERHALANG BUDAYA

CINTA TERHALANG BUDAYA

            Kisah cinta sejati yang dijalani oleh sepasang kekasih yaitu Rambu Dorkas dan Umbu Yanto. Rambu dan Umbu panggilan kasih sayang atau sapaan halus untuk perempuan atau laki-laki di Sumba. Mereka berpacaran sejak di kelas 2 SMA. Saat ini pula mereka sudah semester 3 di bangku kuliah. Walaupun berbeda kampus dan dipisahkan oleh jarak sepasang sejoli ini tetap saling mencintai dan menyayangi satu sama lain. Suka duka mereka lalui bersama.

            Hingga suatu hari, orang tua Rambu mendengar kabar dari orang-orang di sekitar mereka bahwa Rambu sedang berpacaran dengan Umbu. Bapak Rambu sangat mendengar kabar itu karena Umbu anguleba atau sepupu Rambu sendiri. Orang tua Rambu sebagai tokoh adat dalam kampung itu. Mereka benar-benar berpegang teguh pada budaya dan adat istiadat mereka. Dalam budaya Sumba bahwa orang yang masih memiliki hubungan keluarga dekat atau sepupu kandung dilarang untuk bersatu ataupun menikah.

            Rambu sedang duduk di bale-bale sambil memikirkan keadaaan kekasihnya yang sangat jauh darinya. Tiba-tiba ibunya datang menghampirinya.

“Apa yang sedang kamu pikirkan Rambu?” tanya Ibunya

“Tidak Inna,” jawab Rambu

“Rambu..,” panggil Ibunya

“Ya Inna. Ada apa ?

Dengan hati yang tenang Ibunya menjawab, “sebentar malam kalau Rambu sudah selesai belajar datang di Mbali tonga atau ruang tamu, ada yang Ama mau tanyakan sama kamu.”

“Iya Inna,” jawab Rambu.

Lalu Ibu Rambu pergi ke kebun mengambil sayur. Pikiran Rambu mulai tidak karuan. Dia selalu memikirkan perkataan Ibunya barusan karena tidak seperti biasanya Bapak Rambu memanggilnya untuk datang di mbali tonga. Dia sangat takut pada Bapaknya. Apalagi hubungannya dengan Umbu belum pernah diceritakan kepada kedua orang tuanya.

Malam pun tiba. Bisa dikatakan Rambu sedang belajar di kamarnya tetapi kenyataannya Rambu tidak bisa fokus untuk belajar karena dia masih memikirkan perkataan ibunya tadi siang. Sambil berjalan mondar-mandir di kamar tidurnya, banyak pertanyaan yang muncul dari pikirannya. Apa yang sebenarnya Bapak tanyakan kepadaku? karena pikiran tidak tenang dan tidak bisa menemukan sendiri jawaban yang pasti lalu dia menelepon Umbu.

Telepon Umbu berdering.

“Hallo Rambu. Kenapa telepon malam-malam? Kamu, tidak belajar jam begini,” tanya Umbu.

“Hallo juga Umbu, saya tidak bisa belajar soalnya pikiranku benar-benar tidak tenang ini Umbu,” jawab Rambu.

“Kenapa Rambu ? Kasi tahu saya Rambu,” kata Umbu lagi.

“Umbu begini. Tadi siang Ibu menyuruhku ini malam setelah selesai belajar untuk datang di mbali tonga, katanya ada sesuatu yang Ama mau tanyakan kepada saya. Saya kepikiran Umbu kalau hubungan kita sudah diketahui oleh kedua orang tuaku. Saya benar-benar takut berhadapan dengan Ama ini Umbu. Kamu tahu sendirikan Ama saya sangat kejam dan kuat marah juga,” kata Rambu.

            Umbu kaget mendengar hal itu. Dia diam sesaat. Lalu dengan penuh pengertian, dia member nasihat kepada Rambu katanya, “Rambu, kamu harus tenang, sabar dan tidak ada yang perlu kamu takutkan. Apapun yang Ama tanya, kamu harus jawab dengan jujur saja. Dan kalau memang benar hubungan kita sudah diketahui oleh Ama dan Inna, kamu katakan yang sebenarnya saja kepada mereka. Mungkin ini saat yang tepat keluarga kita mengetahui semuanya.”

“Iya Umbu,”jawab Rambu dengan nada lemah. Lalu menutup teleponnya.

            Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00. Rambu keluar dari kamar tidur dan menghampiri Bapak dan Ibunya di ruang tamu.

            Bapak Rambu memasang muka yang sangat menakutkan bagi Rambu. Rambu sudah duduk didepan orang tuanya, namun tidak ada seorangpun yang berbicara. Lalu Rambu memberanikan diri membuka pembicaraan dalam keheningan itu.

“Ama, kenapa Ama memangil saya ? Apa yang Ama mau tanyakan kepada saya ?” tanya Rambu.

“Rambu, Ama mau tanya apa betul berita yang Ama dengar dari orang-orang bahwa kamu sedang berpacaran dengan Umbu?”

Rambu kaget mendengar apa yang dikatakan Bapaknya. Ternyata dugaannya benar. Dengan  nada rasa takut Rambu menjawab “Iya Ama, benar saya dengan Umbu lagi berpacaran. Sudah lama kami pacaran Ama. Sejak kami masih kelas 2 SMA.

“Kenapa Rambu? Apa kamu tidak tahu bahwa kamu dengan Umbu masih memiliki hubungan keluarga atau kalian masih sepupu ?”

            Rambu hanya membisu, tidak mengeluarkan sepatah katapun.

“Rambu, kita ini masih terikat kuat dengan budaya dan adat istiadat. Dalam kita punya adat istiadat, orang yang masih memiliki hubungan keluarga dekat seperti Rambu dan Umbu dilarang untuk saling mencintai apalagi jika sampai menikah,” kata Ama Rambu lagi

Budaya kita ini turun temurun dari nenek moyang dulu. Jadi kita harus mengikuti aturan adat istiadat dan nilai-nilai budaya yang sudah ada. Jika kita melanggarnya maka bisa saja terjadi hal-hal yang kita tidak  diinginkan seperti sakit yang tidak akan pernah sembuh, meninggal tanpa penyebabnya dan sebagainya.

“Iya Ama. Saya tahu bahwa hal seperti itu dilarang keras, tetapi Ama saya sangat mencintai dan menyayangi Umbu dan begitu juga dengan Umbu,” jawab Rambu

Ama Rambu menjadi tambah marah ketika mendengar jawaban Rambu.

“Tapi Rambu, Ama dan Inna tidak akan pernah menyetujui hubungan kalian. Rambu harus menceritakan hal ini kepada Umbu. Dan Ama mau hubungan kalian harus diakhiri. Jika kalian terus menjalaninya dan sampai menikah,itu bisa berakibat fatal pada diri kalian sendiri dan pada anak-anak kalian nanti. Kamu harus mengerti itu Rambu,” Ama Rambu sangat marah mendengar jawaban putrinya.

“Iya Ama” Jawab Rambu.

            Bapak dan Ibunya beranjak dari ruang tamu dan Rambu pun menuju kamar tidurnya. Di kamar tidur Rambu hanya bisa menangis dan menangis setelah mendengar semua perkataan Bapaknya. Dia benar-benar tidak mau meninggalkan Umbu.

            Esok harinya, Rambu menelepon Umbu dan menceritakan apa yang sudah dikatakan Bapaknya tadi malam. Dalam telepon Umbu hanya diam. Dia juga benar-benar sedih dan tidak ingin meninggalkan Rambu.

“Bagaimana Umbu? Kenapa kamu hanya diam saja ?” tanya Rambu.

“Rambu, saya tidak tahu mau omong apa lagi. Yang dikatakan oleh orang tua kamu memang benar. Mungkin itu juga yang terbaik buat kita. Kita harus mengikuti dan mendengar nasihat mereka Rambu,” jawab Umbu

“Apa maksud kamu Umbu?” tanya Rambu.

Iya Rambu. “Mungkin kita harus mengakhiri hubungan kita ini. Lebih baik kita ambil keputusan dari sekarang sebelum semuanya ada yang terlanjur. Bagaimana Rambu?” kata Umbu dengan sedih

“Baiklah Umbu. Kalau itu juga keputusan kamu,” kata Rambu.

            Walaupun Rambu dan Umbu sangat berat untuk mengakhiri cinta mereka namun apa daya mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena masih terikat kuat dan percaya pada budaya dan adat istiadat, Rambu dan Umbu harus mengakhiri hubungan cinta mereka.

  

  

  • view 21