Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 23 Januari 2018   10:19 WIB
SIRIH BONGKOK (TIANG TENGAH )


SIRIH BONGKOK ( TIANG TENGAH)

Konon di desa Ndoso hiduplah seorang laki-laki bernama Jandu . Ia termasuk orang yang sangat rajin. Setiap hari ia ke kebun untuk merawat pisang dan tebu yang sudah ditanaminya. Ia juga dikenal sebagai seorang pengiris tuak. Hasil dari pisang, tebu, dan tuak ini yang membuatnya bertahan hidup. Suatu ketika persediaan makanannya menipis, ia berniat kekebun untuk memetik pisang.

Namun sesampainya di kebun, ia sangat heran melihat keadaan kebunnya. Buah pisang yang mau dipetik, ternyata sudah tidak berisi. Hal ini membuatnya marah. Tiba-tiba ada seekor burung nuri terbang dan hinggap disebuah pohon pisang lalu memakan buahnya. Ia pun mencari cara untuk menangkap burung nuri itu. Usahanya berhasil, burung nuri ditangkap lalu di bawah pulang dan dipelihara.

Keesokan harinya, ia berangkat lagi kekebun untuk memastikan keadaan kebunnya. Sebelum berangkat, ia membuat api dari batu dan bambu kering sampai menyala lalu berangkat kekebun. Sepulangnya dari kebun ia sangat kaget melihat makanan (nasi, sayur, dan ikan) yang telah siap untuk dihidangkan. Ia mengamati makanan tersebut dan bertanya dalam hati siapa yang menyiapkan semuanya ini. Jenis makanan yang disiapkan berbeda dengan makanan yang selama ini dimakannya (pisang, tebu dan tuak).

Karena sangat lapar ia langsung mencicipi makanan tersebut sampai habis. Namun perasaan hatinya mengajaknya untuk memeriksa rumahnya. Alangkah kagetnya, ia mendapati seorang gadis berwajah sangat cantik, berambut panjang, dan bersayap berada dalam kamarnya. Sesaat ia terperangah melihat kejadian ini,
“Siapa kamu dan dari mana asalmu?” tanyanya
Gadis itu menjawab “Aku adalah jelmaan dari burung nuri.”

Dia meminta kepada Jandu agar dilepaskan. Tapi karena takut gadis itu pergi, ia memotong sayapnya dan secara sembunyi ia menyimpannya dalam bakul ayam. Keesokkan hari Jandu melamarnya untuk menjadi pendamping hidupnya dan jelang beberapa menit jelmaan burung langsung jawab ia, tetapi dengan syarat,
“Apa syaratnya,” tanya Jandu
“Kalau kau ingin menikahi Ku kau jangan pernah bertanya siapa namaku dan dari mana saya berasal,” tuturnya.
”Ia, aku berjanji aku tidak akan bertaya tentang nama dan asalmu.”
Dan pada saat itu mereka berdua menikah dan hidup bahagia, apalagi ditambah dengan kehadiran anak laki-laki.

Keberadaan istrinya ini justru menimbulkan pertanyaan untuk warga sekitar yang mengetahuinya. Rasa penasaran yang berkepanjangan membuat Jandu terus memikirkan cara untuk mengetahui nama dan asal istrinya. Tibalah suatu pagi ia pergi mengiris tuak.

Dalam perjalanan ia bertemu dengan teman-teman pengiris tuak. Mereka mulai menyusun rencana. Jandu pura-pura jatuh dari pohon tuak. Maka tersiarlah kabar ini sampai ketelinga istrinya. Mendengar kabar itu istrinya sedih, lalu pergi mendapati suaminya dan memeluknya, sambil menangis ia menceritakan kisah hidupnya. Aku berasal dari langit ketuju dan namaku Jun.

Mendengar semuanya itu Jandu langsung bangun. Istrinya kaget ketika mengetahui suaminya belum mati, ia merasa dipermainkan oleh suaminya. Namun Jandu memegang tangan istrinya dan mengajaknya untuk pulang ke rumah, tetapi istrinya tidak mau karna jandu telah mengingkari perjanjiannya.

Perasaan malu karena namanya diketahui membuat Jun berusaha pulang keasalnya. Suatu hari ketika mengetahui suaminya kekebun, Jun mencari sayapnya yang disembunyikan oleh suaminya, akhirnya Jun berhasil menemukan. Sayap itu dipakai untuk terbang bersama anaknya ke tempat asalnya.

Kepergian Jun membuat Jandu merasa sedih dan bersalah. Saat dia bersedih seorang Kakek tua menghampirinya dan bertanya,
“kenapa kamu menangis?”
“Saya ingat anak dan istri saya, mereka pergi entah ke mana,” jawabnya.
“Saya tahu ke mana mereka pergi,” sahut kakek itu.


Kakek tua itu menunjukkan cara bertemu dengan anak dan istrinya. Karena perjalan menuju ke sana jauh Kakek tua meminta Jandu untuk menyiapkan ketupat sebanyak tujuh ikat, air sebanyak tujuh ruas bambu, dan membuat kursi dari bambu yang dipakai untuk mengantar mereka ke atas. Ketika semuanya siap, sore hari mereka berangkat. Kakek tua mengingatkan kepada Jandu bahwa untuk menuju ke sana mata harus dipejam dan selalu mendengar aba-aba darinya.

Dalam perjalanan, mereka melalui beberapa dunia dengan bahasa dan manusia yang berbeda. Tujuh hari tujuh malam lamanya perjalanan, akhirnya mereka tiba di tempat Jun berada. Sebelum berpisah, Kakek tua sakti ini berpesan akan selalu menolong Jandu disaat mengalami kesulitan. Jandu mulai menjalankan rencananya, sesampai di sumur ketujuh tempat Jun mengambil air, ia langsung bersembunyi di atas pohon beringin yang berada di samping sumur tersebut.

Sesaat kemudian muncul seorang perempuan yang mau mengambil air di sumur tersebut. Jandu tidak gegabah, ia harus membuktikan bahwa yang datang ke sumur tersebut adalah istrinya. Dipetiknya buah dari pohon beringin sebanyak enam buah, lalu buah itu dilempar ke dalam tempat air perempuan itu dengan maksud airnya kotor dan berharap perempuan itu melihat ke atas pohon beringin.

Namun enam kali lemparan tidak membuahkan hasil. Jandu pun berpikir lagi bagaimana cara yang lebih meyakinkan bahwa yang datang ke sumur itu istrinya, dan berharap istrinya juga mengetahui kedatangannya. Akhirnya ia melempari lagi perempuan itu tapi lemparannya dengan cincin. Dan ternyata berhasil, perempuan itu adalah Jun. Lalu Jun memandang ke atas pohon dan memanggil suaminya turun.

Dalam perjalanan menuju kerumah, Jun menceritakan tentang keadaan keluarganya. Kedua orang tuanya tinggal di Todo bersama dengan anak mereka. Setiap malam ketujuh kedua orang tuanya pulang ke rumah. Karena takut dengan kehadiran suaminya yang dari dunia lain, ia menyebunyikan suaminya di bawah sarung yang lagi ditenunnya. Namun usahanya sia-sia karena orang tuanya mengetahui ada bau manusia di dalam rumahnya.


Awalnya ia membantah, namun karena orang tuanya berjanji tidak mau makan tubuh suaminya, ia pun mengakuinya. Mengetahui hal ini kedua orang tua memanggil suaminya dan bertanya apa tujuannya datang ke sini. Jandu menyampaikan maksud kedatangannya untuk menjemput istri dan anaknya.

Kedua orang tua menyanggupi niatnya, tapi dengan syarat harus melewati beberapa ujian, kalau berhasil kamu boleh membawah mereka tapi kalau tidak berhasil, tubuhmu akan jadi santapan kami. Mendengar perkataan kedua orang tua itu, Jandu menjadi takut namun dalam hatinya dia akan berusaha untuk melaluinya walaupun berat ujiannya.

Ujian pertama, orang tua Jun meminta Jandu untuk mengenal anaknya yang lagi asik bermain petak umpet bersama teman-tamannya di Todo. Jandu merasa gugup dan malu kalau salah mengenali anaknya. Namun tiba-tiba ada seorang anak pemenang permainan tersebut berteriak memberi gelar dirinya “Bapa jandu,saya ini Poti anakmu”.

Mendengar itu Jandu langsung menghampiri anak itu dan menciumnya sambil memperkenalkan dirinya dan disaksikan oleh orang-orang dari tujuh kampung. Orang tua Jun melihat kejadian ini sambil memberi peringatan kepada Jandu akan ada ujian lain yang lebih berat lagi.

Ujian kedua, orang tua Jun membongkar sirih bongkok lalu menyuruh Jandu membangun sirih bongkok selama tujuh hari lamanya. Jandu menangis dan sedih karena ujiannya sangat berat. Dalam kesusahannya ini, datanglah penolong yang dikirim kakek tua untuk siap membantunya.

Ada babi landak, kerbau, burung elang, ulat, semut, dan hama kayu. Mereka ini yang membantu Jandu untuk membangun korek dalam tujuh hari. Babi landak membantu Jun untuk memotong tiang kayu, menggali lubang dan merapikan atap siri bongkok. Kerbau membantu Jandu untuk menarik tiang besar yang dipotong untuk membawah ke sirih bongkok.

semut membantu Jandu untuk menganyam atap sirih bongkok dan melipat daun lontar. Hama kayu membantu Jandu untuk memotong daun lontar. Hama kayu membantu Jandu untuk membuat motif atau ukiran di kayu. Sedangkan pengatapan sirih bongkok, burung elang mengundang semua burung datang membantu. Kerja sama ini yang membuat pembangunan sirih bongkok tepat tujuh hari. Orang tua Jun pun tiba dan mengakui kebolehan Jandu.

Ujian ketiga, orang tua Jun memerintahkan warganya untuk membuang woca sebanyak tujuh bakul ke pasir, lalu meminta warga untuk menari di atas woca itu agar tercampur dengan pasir. Jandu diminta untuk memilih woca itu agar terkumpul seperti semula dan dilakukan selama satu hari saja.

Jandu menangis dan sedih karena ujiannya sangat berat. Dalam kesusahannya ini, datanglah penolong yang siap membantunya. Semua semut turun memilih semua woca dan menyimpannya kembali menjadi tujuh bakul. Ketika orang tua Jun tiba, pekerjaan Jandu sudah selesai. Orang tua Jun memeriksa woca tersebut dan mereka mengakui kelebihan Jandu.

Ujian keempat, orang tua Jun memerintahkan lagi semua warga untuk menumpahkan tujuh gumbang gula aren ke tengah laut. Lalu meminta Jandu untuk mengambil kembali gula aren tersebut dalam satu hari saja. Jandu menangis dan sedih karena ujiannya sangat berat. Dalam kesusahannya ini, datanglah penolong yang siap membantunya.

Ada kura-kura yang siap membantu. Gula aren yang sudah ditumpahkan, ternyata sudah ditadah di bawah dasar oleh kura-kura sebanyak tujuh gumbang. Jandu memikul gula aren tersebut dan menyimpan di sirih bongkok. Orang tua Jun yang sudah ada di siri bongkok langsung menyaksikan kejadian itu dan mengakui akan kelebihan Jandu

.Ujian kelima, orang tua Jun memerintahkan semua warga perempuan agar malam ini membawah tikar dan tidur di nama suka sebuah tempat upacara di Todo. Mereka semua tidur dalam kegelapan (lampu dimatikan). Jandu diminta mencari istrinya dalam susanan gelap tersebut lalu memeluk istrinya. Apabila salah tubuh Jandu langsung dimakan oleh orang tua Jun. Jandu menangis dan sedih karena ujiannya sangat berat.

Dalam kesusahannya ini, datanglah penolong yang siap membantunya. Ada kutu busuk yang siap membantu Jandu. Kutu busuk akan menggigit kaki dan tangan istrinya sehingga istrinya merasa tidak nyaman sehingga bergerak kesana-kemari lalu Jandu memeluk istrinya. Dan rencana inipun berhasil. Ketika lampu dinyalakan Jandu sedang memeluk istrinya. Orang tua Jun pun mengakui kelebihan Jandu. Ujian belum selesai, masih ada satu ujian lagi yang harus dihadapinya.

Ujian keenam, orang tua Jun memerintahkan semua warga untuk membuat nasi kolo, lalu letakan di nama suka. Jandu diminta untuk mencari nasi tumpeng yang dibuat istrinya. Jandu menangis dan sedih karena ujiannya sangat berat. Dalam kesusahannya ini, datanglah penolong yang siap membantunya.

Ada Kunang-kunang yang membantunya. Kunang-kunang terbang mengelilingi nasi kolo yang dibuat Jun, lalu Jandu memakan nasi tumpeng tersebut. Ketika lampu menyalah ternyata nasi tumpeng yang dimakan Jandu benar milik istrinya. Orang tua Jun pun berbangga kepada Jandu dan mengakui kekalahannya.

Ketika semua ujian berhasil dilalui, orang tua Jun menjemput Jandu,Jun dan Poti untuk naik dan duduk bersama di dalam siri bongkok . Hujan pun turun selama tujuh hari tujuh malam. Semua warga tidak boleh keluar dari siri bongkok karena hujan lebat.

Kekalahan yang dialami orang tua Jun membuatnya membagi tujuh kampung dan tujuh siri bongkok menjadi dua bagian. Sebagian untuk Jandu, dan sebagiannya untuk orang tua Jun. Orang tua Jun akhirnya mengizinkan Jandu turun ke asalnya bersama istri dan anaknya. Bersamaan dengan itu tanah dan siri bongkok terbelah menjadi dua. Jandu, Jun dan Poti turun bersama tanah yang dipijak.

 

 

 

 

Karya : yulin hadia