KISAH CINTA YUS DAN WALDUS

Yuliana Magi
Karya Yuliana Magi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Januari 2018
KISAH CINTA YUS DAN WALDUS

KISAH CINTA YUS DAN WALDUS

Suatu ketika ada seorang lelaki yang bernama Waldus berasal dari Flores. Saat itu ia bertemu dengan seorang wanita yang berasal dari Sumba. Tidak  sengaja mereka bertemu di salah satu Kampus yang berada di kota kupang, Kampus Universitas Muhammadiyah. Waldus yang jatuh hati pada perempuan itu tanpa menunggu lama, ia memberanikan diri untuk berkenalan dengan wanita itu  bernama Yus. Ia adalah salah satu mahasiswa  dari fakultas sosiologi.

“Haii..kamu kuliah juga di kampus ini,” kata Waldus membuka percakapan.

“Haii juga kaka, ia saya kuliah di kampus ini,” balas Yus.

“Terus kamu jurusan apa?” tanya Waldus.

“Saya jurusan sosiologi kaka, kalau kaka?” ucap Yus sambil balik bertanya.

“Kalau saya jurusan bahasa indonesia. Oh ia hampir lupa, nama saya Waldus kalau boleh tahu nama kamu siapa,” kata Waldus memperkenalkan dirinya sambil menjulurkan tangannya kearah Yus.

“Nama saya Yus kaka,” kata Yus sambil menjabat tangan Waldus.

“Kamu asal dari mana,” tanya Waldus

 “Saya berasal dari Sumba kaka. Trus kaka dari mana juga?” tanya Yus.

“Saya berasal dari Flores adik,” kata Waldus.

Setelah berbasa-basi sedikit, keduanya mulai akrab. Sejak awal perkenalan itu, ternyata mereka berdua memiliki perasaan yang sama sampai saat yang tepat Waldus mengutarakan perasaannya, Yus yang juga terpikat dengan kebaikan dan ketampanan Waldus, akhirnya mereka berdua menjalani hubungan. Keduanya menjalani cinta selama 3 tahun sampai mereka wisuda. Lika-liku kisah cinta mereka penuh dengan suka duka, namun karena ketulusan dan kesetiaan mereka berdua, keduanya berjanji akan menjalani hubungan itu lebih serius. Waldus sudah merasa nyaman dengan Yus. Waldus memberanikan diri untuk pergi menghadap kedua orang tua Yus untuk menyatakan cinta dan kasih sayangnya terhadap Yus. Orang tua dari perempuan telah menyetujui hubungan mereka. Namun ada sesuatu yang mengganjal di hati Waldus ketika ia bertemu orang tua Yus, yaitu tentang belis atau mahar yang harus dipakai dalam adat  masyarakat Sumba.

Sedikit cerita tentang belis, dari dahulu nenek moyang orang Sumba hingga saat ini, belis wanita sumba sangat   mahal, karena terlalu berpegang teguh pada tradisi atau adat yang berlaku sehingga terbawa sampai sekarang.  Laki-laki yang mau mengambil wanita Sumba, pasti akan ragu dengan masalah belis yang begitu banyak sehingga, banyak pria yang sudah terlanjur saling mencintai wanita asal sumba, harus berpisah karena tidak mampu dengan belis perempuan Sumba.

            Oleh sebab itu Orang tua dari laki-laki mengambil alih untuk pergi menghadap kepada kedua orang tua  Yus untuk menyatakan bahwa anak dari pada  mereka yang bernama Waldus itu benar-benar mencintai anak mereka yang bernama Yus. Orang tua Yus kaget  dengan maksud kedatangan orang tua dari Waldus datang kepada kedua orang Tua  dan keluarga Yus, menerima kedatangan kedua orang tua dari  Waldus tentang maksud dan tujuan mereka datang. Mereka datang hendak ingin bertemu dengan kedua orang TuaYus mereka ingin melamar anak perempuan mereka yang bernama Yus.

Orang Tua Yus  menerima kedatangan orang Tua Waldus untuk  melamar Yus. Oleh karena itu adanya  persetujuan antara orang Tua laki-laki dan orang Tua perempuan, maka kedua belah pihak melangsungkan pembicaraan mereka, yang berkaitan dengan acara adat perkawinan Sumba. Orang Tua dari  Yus menananyakan kepada Waldus.

“Apakah kamu serius ingin melamar anak saya,” tanya ayah Yus pada waldus.

“Ia om, saya serius dengan anak gadis om, maka dari itu saya datang jauh-jauh dari pulau flores bersama kedua orang tua saya,ingin melamar putri bapak,” kata Waldus membalas pertanyaan dari bapaknya Yus.

“Baiklah kalau memang itu sudah menjadi keputusan kamu dengan anak saya Yus, bapak menerima kedatangan saudara dan merestui hubungan kalian,” ucap bapaknya Yus

“Terimakasih banyak om, karena sudah menerima kedatangan kami dan menyetujui hubungan saya dengan anak om,tapi saya minta maaf, jujur saya belum mengetahui tradisi dan adat-istiadat di Sumba, terutama di daerah ini om,” kata Waldus

“Begini cara dan tradisi kami orang sumba dalam hal peminangan. Untuk masuk dalam cara adat, orang tua keluarga Laki-laki harus masuk minta atau buka surat, dengan membawa satu batang parang, satu ekor kerbau,satu ekor kuda. Ini adalah taraf  pertama, setelah itu  ketuk pintu. Dari pihak keluarga perempuan  juga membalas dengan satu lembar sarung dan satu lembar kain Sumba, dan juga dibunuh satu ekor babi tanda penghargaan bahwa itu benar-benar keluarga perempuan menerima kedatangan keluarga laki-laki. Dan masuk pada acara berikutnya kedua belah pihak dari keluarga laki-laki dan keluarga perempuan mengadakan pertemuan keluarga, dimana akan ditentukan tanggal yang pasti untuk melangsung kan pernikahan mereka.Setelah mereka mendapatkan hasil pertemuan maka mereka menemukan bahwa tanggal yang mereka sudah tentukan untuk melangsungkan pernikahan sudah direstui oleh kedua belah pihak keluarga,” kata Bapak Yus menjelaskan kepada Waldus dan kedua orang tuanya.

Waldus dan keduaa orang tuanya,mengangguk-anggukan kepala mendengar penjelasan yang begitu panjang dari ayah Yus. Namun dalam hati kecil mereka, pernikahan di Sumba, dari belis hingga pindah adat mamoli salah satu belis (Mahar) pada saat melamar gadis  Sumba. Perkawinan merupakan salah satu tahap penting dalam hidup seseorang. Melalui perkawinan masa remaja Waldus danYus ditinggalkan, kehidupan dewasa dengan segala tanggung jawab dimulai, dan generasi dilanjutkan.

Sebelum melangsungkan pernikahan yang sudah disepakati maka keluarga dari pihak laki-laki harus melunaskan semua belis yang sudah di sepakati yaitu belis yang dimaksudkan 100 ekor hewan yang berupa 50 ekor kerbau dan 50 ekor kuda dan masing masing ini setelah sampai di keluarga perempuan akan diserahkan pada masing-masing orang yang bersangkutan.

Cinta mereka terhalang karena adat Sumba. Namun Waldus tidak pernah menyerah karena belis yang diminta oleh pihak keluarga perempuan meminta belis yang begitu banyak,namun keluarga dari waldus tidak menerima permintaan  dari keluarga perempuan,tapi Waldus tetap memperjuangakan cintanya agar bisa bersatu. Dengan begitu banyak hewan yang diminta oleh keluarga perempuan, Waldus bisa memenuhi semua permintaan dari keluarga perempuan, karena cinta waldus kepada yus terlalu besar dan mereka tidak bisa dipisahkan, jadi mau tidak mau Waldus harus menerima permintaan dari keluarga perempuan apapun cobaan yang ia hadapi dia harus memenuhi permintaan dari keluarga perempuan.

     Pembayaran belis pun jarangdilakukan sekaligus. Sebagian diberikan saat pindah rumah, sebagian lagi diberikan sedikit-sedikit setiap kali pihak keluarga atau istri mengadakan pesta dan  lain sebagainya, Mengingat mahalnya harga hewan, jadi jarang pula ada satu keluarga yang bisa memenuhi belis yang berjumlah besar dengan kemampuannya sendiri, Lebih sering hewan-hewan ini diperoleh sebagai sumbangan dari keluarga-keluarga yang lain, setelah belis itu diberikan kepada keluarga perempuan maka keluarga perempuan melakukan pembagian kepada keluarga yang turut membantu dalam urusan adat tersebut.

Satu ekor kerbau di berikan kepada om yang mana omnya sebentar dia akan membalas dengan satu lembar sarung dan satu lembar kain

Air susu ibu, yang mana satu ekor kerbau dibalas satu lembar sarung dan satu lembar kain

Rumah adat satu ekor kerbau dan balasan nya juga satu lembar sarung dan satu lembar kain

Keluarga perempuan akan menyiapkan barang-barang bawaan anak gadis mereka yang mana satu pasang gading dan satu buah mamoli perhiasan yang sering dipakai sebagai anting-anting. Sekilas mamoli tidak bersifat maskulin, tetapi perhiasan dalam gambaran rahim atau simbol kemampuan kaum wanita, dan dalam perkawinan diberikan sebagai simbol pengganti wanita yang akan dibawa pergi. Perempuan dan diluar dari itu keluarga perempuan memberikan kain adat sumba atau  (inggipoddu) yang mana kain ini untuk laki dan untuk perempun ini  tidak bisa dikasih kepada siapapun melainkan dibawah sampai mati. Dua kain lagi yang dikasih kan oleh keluarga perempuan satu lembar kain dan satu lembar sarung untuk bapak mantu dan mama mantu dari perempuan, begitu pula dari laki-laki satu lembar kain dan satu lembar sarung juga untuk mama mantu dan bapak mantu dari perempuan dan setelah itu hubungan keluarga akan berjalan dengan lancar dan acara tunangak anak- anak mereka akan berjalan dengan lancar, sesuai dengan keinginan kedua anak mereka yaitu, Waldus dan Yus akan berjalan dengan lancar. Maka semua urusan keluarga selesai, maka pernikahan ini akan berjalan dengan lancar.

Semua permintaan dari pihak perempuan sudah terpenuhi semunya oleh Waldus maka kedua belah pihak antara keluarga laki laki dan keluarga perempuan akan melang sungkan pernikan kudus yang dimana kedua sejoli itu bersanding dalam pernikahan kudus mereka sudah menjadi satu bukan lagi merekamen jadi dua.

Akhirnya cinta mereka menyatu menjadi satu dan hidup mereka bahagi selamanya Karena Tuhanlah yang mempersatukan mereka dalam satu cinta yaitu cinta suci mereka yang abadi selamanya.

 

 

 

 

 

 

  • view 45