Televisi, Sahabat Manusia

Yudi Rahardjo
Karya Yudi Rahardjo Kategori Inspiratif
dipublikasikan 27 Februari 2016
Televisi, Sahabat Manusia

Saat kembali ke rumah dan telah lelah dengan aktifitas yang dilakukannya seharian, seseorang akan butuh hiburan, hiburan yang bisa dia akses dengan mudah dan sambil beristirahat dengan nyaman, televisi adalah media hiburan yang tepat. Televisi, benda yang kerap disebut layar kaca yang keberadaannya sudah bertahun tahun jadi "sahabat" manusia. Tapi apa yang terjadi, jika sahabat ini malah memberi pengaruh buruk pada kita.

?

?

Saat kita butuh hiburan apa yang televisi berikan ? Hanya program program yang isinnya tidak bermutu. Hiburan itu memang sifatnya membuat tertawa, tapi tidak dengan membuat orang tertawa karena celaan yang bahasannya kasar dan tidak layak dikonsumsi publik. Ada acara yang tayang tiap sore dan isi hiburannya adalah dengan menghina salah satu pemainnya karena wajahnya yang (maaf) jelek, lalu pemain jelek tersebut dibully lalu disemprotkan tepung ke kepalanya.

?

?

Malamnya, ini jadi jam prime time bagi acara televisi, biasannya masing-masing stasiun televisi berlomba menyajikan program terbaik mereka, dan yang jadi program unggulan mereka adalah sinetron. Kalau sudah bahas sinetron, pasti banyak sekali yang mengkritik, ada yang bilang tayangan nggak bermutu, isinnya gaya hidup ?mewah, hedonisme.

?

?

Sinetron yang baru-baru ini cukup terkenal adalah sinetron yang menceritakan tentang kehidupan remaja SMA yang kerjaanya balapan motor gede. Lihat apa dampaknya ? Banyak anak remaja yang minta kepada orangtuanya untuk dibelikan motor besar, ini nyata ada di kampungku, ada seorang remaja yang mogok sekolah dan mengancam tidak mau sekolah lagi, jika orangtuanya tidak membelikannya motor gede. Apa yang dia tonton akan menjadi sangat berpengaruh bagi anak dan remaja. Tontonan bagi mereka juga sekaligus menjadi tuntunan,? saat mereka tidak punya tontonan yang bermutu, maka mereka jadi kehilangan arah dan makin tak karuan.

?

?

Selain butuh hiburan, manusia juga butuh informasi. Televisi, menjadi salah satu sumber informasi yang paling mudah diakses. Informasi adalah menyajikan fakta kepada masyarakat, tapi kenyataannya..terkadang informasi atau berita direkayasa, direkayasa layaknya sebuah kisah dalam sinetron, sesuai dengan kepentingan pihak pihak yang berkuasa.

?

?

Masih inget dengan kejadian pemilu presiden 2014 lalu ? Saat itu ada 2 kubu televisi, kubu televisi merah menyatakan calon presiden A sebagai pemenang tapi kubu televisi biru menyatakan calon presiden B sebagai pemenang. Meski pada akhirnya ketahuan juga siapa yang sebenarnya jadi presiden, tapi ternyata "perang" antara kubu merah dan biru? belum juga usai sampai sekarang. Tivi merah yang calon presidennya tidak jadi presiden yang sebenarnya, berusaha mengkritisi mati-matian kebijakan presiden tersebut, berusaha selalu mencari celah keburukan presiden tersebut. Tivi biru kebalikannya, membesar besarkan kebijakan dari presiden yang sebenarnya biasa aja, terkadang pemberitaanya malah terasa begitu berlebihan dan terkesan "lebay".

?

?

Tapi, si merah dan biru ini malah jadi punya kesamaan, mereka memberitakan berita yang sesuai dengan kepentingan pihak tertentu. Dan akhirnya informasi menjadi informasi penuh rekayasa, masyarakat bingung dengan mana informasi yang benar benar aktual.

?

?

Makin lama, makin hancur saja si sahabat kita ini, pengaruh buruknya bisa berdampak makin besar, tapi layaknya seorang sahabat, kita mesti menasehatinya untuk menjadi baik dan nantinnya memberi pengaruh baik bagi kita.

  • view 179