Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Ekonomi 10 Juli 2018   17:55 WIB
Inilah Beberapa Penyebab Foreign Direct Investment Indonesia Lebih Tinggi

Penanaman modal asing, merupakan salah satu bentuk investasi yang diberikan oleh Pemerintah Indonesia, terhadap warga negara lain, untuk dapat menanamkan modal yang mereka miliki, dalam berbagai bidang Investasi di Indonesia. Penanaman modal asing di Indonesia, untuk saat ini sendiri menempati angka yang lebih tinggi dari nilai investasi yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia sendiri.

 

Mengapa hal ini dapat terjadi? Berbagai latar belakang peningkatan foreign direct investment Indonesia inilah, yang akan kita telusuri dalam bahasan kali ini, agar nantinya dapat mengikatkan kesadaran kita untuk dapat melakukan investasi diberbagai sektor real yang terdapat di Indonesia, sehingga pengelolaan dan aset yang dimiliki oleh Indonesia, nantinya akan jatuh ke tangan kita sendiri.

 

Menurut catatan dari BKPM atau Badan Koordinasi Penanaman Modal Indonesia, Foreign direct Investment atau yang biasa disebut dengan FDI untuk periode tahun ini, dengan hitungan per Januari sampai dengan Maret telah mengalami kenaikan yang cukup signifikan dengan angka sebesar 14%. Angka kenaikan investasi asing ini sendiri jika dihitung dalam kalkulasi rupiah dapat mencapai 82 triliun.

 

Tidak berhenti sampai disitu untuk periode April hingga Juni saat ini angka tersebut terus meningkat dan bertambah menjadi 92 triliun. Angka ini berbanding terbalik dengan nilai investasi yang dilakukan oleh para pengusaha dalam negeri dalam hal pemanfaatan sumber yang dimiliki oleh negara.

 

Meskipun mengalami peningkatan nilai, namun investasi domestik yang terjadi di negara ini memang masih belum dapat mengalahkan nilai investasi asing yang terjadi.

 

Berikut ini beberapa faktor yang menyebabkan foreign direct investment Indonesia masih memiliki rate yang lebih tinggi, dibanding dengan investasi domestik, yang antara lain adalah:

 

  1. Kecenderungan usia dari masyarakat Indonesia, yang masih muda dimana rata-rata usia tersebut berada dibawah 40 tahun. Usia muda inilah yang menyebabkan masyarakat Indonesia belum memiliki pikiran yang kuat untuk dapat melakukan investasi sebagai jaminan dihari tua, karena kecenderungan keyakinan mereka masih dapat bekerja dalam jangka waktu yang lama.
  2. Pola hidup konsumtif dari masyarakat yang cenderung hanya ingin memanfaatkan berbagai barang produksi, dibanding dengan menghasilkan sendiri barang yang akan mereka pergunakan.
  3. Pola pemikiran masyarakat secara luas yang memang pada umumnya hanya ingin menjadi seorang pekerja, dibanding dengan membuka lapangan usaha, yang memungkinkan untuk mendapatkan penghasilan lebih dan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat lainnya.

 

Ketiga faktor diataslah yang memang menyebabkan tingkat investasi dalam negeri cenderung tidak mengalami kenaikan yang cukup signifikan di negeri sendiri. Namun hal tersebut kini agaknya terus berkurang seiring dengan berbagai upaya yang terus ditingkatkan oleh pemerintah dalam mengembangkan dan mendukung berbagai sektor industri kreatif untuk dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

 

Melalui sektor usaha kreatif inilah, nantinya peluang usaha, produksi dan kerja dapat dibentuk sendiri oleh masyarakat Indonesia, dengan melibatkan lingkungan dan dukungan pemerintah didalamnya. berbagai ajang pameran yang memang difasilitasi oleh Pemerintah, memungkinkan para pengusaha muda yang bergerak dalam sektor ekonomi kreatif pun dapat memperkenalkan produk mereka ke kancah internasional.

 

Pengembangan sektor ekonomi kreatif secara bertahap inilah, yang memungkinkan nantinya tingkat investasi domestik menjadi lebih tinggi dibanding dengan foreign direct investment Indonesia. Melalui peningkatan minat dan produksi yang diciptakan oleh sektor ekonomi kreatif inilah, nantinya berbagai produk kebutuhan masyarakat Indonesia pun dapat dipenuhi dengan mudah, tanpa harus mengandalkan produk dari negara lainnya, yang dikembangkan di Indonesia. Harapan inilah yang harus terus didukung dan dikembangkan oleh masyarakat Indonesia secara menyeluruh.

Karya : Reza Jatnika