Kembalilah, Tuhan Merindukanmu

Yuda Oktana
Karya Yuda Oktana Kategori Inspiratif
dipublikasikan 13 Desember 2017
Kembalilah, Tuhan Merindukanmu

"Bersyukurlah jika sekarang keresahan merundungmu, rasa bersalah menyesaki hatimu, kegelisahan menghantui dan kemarau keimanan menggersangkan jiwamu, itu pertanda Allah masih peduli dan memperhatikanmu. Allah sedang merindukanmu, ia ingin engkau kembali menemui-Nya seperti dulu," Ustad Herman tersenyum saat memulai percakapannya denganku. Malam itu, selepas isya aku menghampirinya, entah karena raut wajahku atau apa seolah ia tahu maksud perjumpaan adalah ingin bercerita dengannya seperti biasa. Lalu, ustad Herman mengajakku ke kursi depan masjid. Kami duduk bersebelahan, bahu kami bertemu.

Aku telah bercerita panjang dengan Ustad Herman tentang perasaan, pikiran dan aku yang mulai merasa jauh dari Tuhan, aku linglung seperti seorang pemuda yang galau. Belakangan ini kegelisahan menghampiriku disebabkan lubang dosa yang aku gali sendiri. Di hadapan Tuhan, aku pernah berjanji tidak melakukan kesalahan yang sama, tetapi setan jauh lebih kuat dari tekadku: aku takluk di oleh bisikan setan hingga aku berbuat dosa yang sama lagi.

Angin malam berhembus perlahan. Ustad Herman menarik napas, "Jika Allah tidak peduli lagi, maka ia akan membiarkanmu tersesat di hutan belantara, digelapnya kehidupan tanpa siapa-siapa, tanpa apa-apa, sendiri mereka-reka jalan yang tak ada jalannya. Burung gagak hitam mengoak bagai caci maki: dasar manusia tak tahu diri. Hampa, gersang, hingga kamu mati rasa: ketika berbuat salah tak lagi terasa berdosa. Ketika berbuat dosa tak lagi menggetarkan dada." Ia membetulkan sorban yang membalut punggunya.

Benar kata orang, ternyata ada fragmen lain dari sebuah perjalanan yang sulit untuk dipertahankan, adalah istiqomah. Cukup mudah untuk memulai, memperbaiki diri, berubah, misalnya, tetapi sulit untuk kita tetap istiqomah di jalan yang telah dipilih untuk dilewati.

"Berbahagialah karena kau merasa gelisah dengan kesalahan, keburukan, dan dosa. Artinya, radar kebaikanmu masih berfungsi dengan baik. Kegelisahanmu menunjukkan bahwa sesungguhnya jauh di dalam dirimu sendiri, kau menolak keburukan-keburukan itu dan menginginkan kebaikan-kebaikan."

"Ustad," aku memotong, "Termasuk jika aku melakukan kesalahan yang sama? dosa yang aku telah berjanji untuk tak melakukannya lagi, tetapi justeru aku melakukannya lagi. Aku merasa telah menjadi seseorang yang berdusta sekaligus munafik, yang membuatku malu untuk berhadapan dengan Allah seperti dulu saat-saat aku pertama kali mendekatkan diri pada-Nya," suara vitaku tak mampu membebaskan penyesalan dari dalam dadaku.

Ustad Herman tertawa kecil, bahunya berguncang, aku menunduk,"Gaisan... Gaisan," ia menepuk-nepuk bahuku,"Tuhan itu lebih besar dari laut, lebih luas dari semesta, lebih agung dari segalanya. Tuhan tak akan menolak dan akan selalu menerima kita: membentangkan jalan harapan untuk hamba yang ingin kembali pulang. Maka tak usah ragu untuk kembali, tak usah merasa bukan siapa-siapa atau merasa terlalu berdosa, teruslah mengalir: Tuhan tak akan menolakmu dan akan selalu menerimamu."

"Dalam situasi-situasi seperti ini, mungkin kamu perlu saat-saat sendiri: melihat ke dalam diri, berbicara dengan diri sendiri. Menyesali semua kesalahan ada, kemudian memulai kembali membangun keimanan yang mulai rapuh. Kembalilah, Tuhan merindukanmu," kata Ustad Herman, merangkul pundakku untuk beberapa detik, lalu ia pergi meninggalkanku sendiri duduk di kursi.

Aku mengusap mukaku, lalu menyelami kembali kata-kata Ustad Hermah, kembalilah, Tuhan merindukanmu, tanpa aku sadari pelan-pelan ada yang menggenang di kolam mataku. Ada sesuatu yang menghantam ulu hatiku, menampar ruang kesadaran paling dalam, tersungkur di sajadah penyesalan: Di tengah kezaliman yang aku lakukan, di tengah kedurhakaan dan kemaksiatan yang aku perbuat, Tuhan masih mau menengok ciptaanNya ini.

Aku tertunduk, dadaku perih disesaki penyesalan: seketika air mataku tumpah menerjuni pipiku. Aku terisak, lalu tersungkur di sajadah penyesalan: Ya Allah kembali aku ketuk pintu maaf-Mu, seperti pada air, aku ingin pulang, kembali ke jalan yang seharusnya aku aliri.

Sementara  mendung menyelimuti langit, sisa-sisa hujan membasahi jalan: Tuhan, dekap aku di puncak kerinduan sepertiga malam bersamaMu.

  • view 214