Wanita Bercadar di Instagram

Yuda Oktana
Karya Yuda Oktana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 November 2017
Wanita Bercadar di Instagram

Dear Hawa,

Semoga kau baik-baik saja saat membaca surat dariku ini. Aku menuliskannya khusus untukmu dengan perasaan yang sulit sekali kujelaskan. Mungkin karena terlampau gelisah, sedih atau marah, terhadap sesuatu yang kelak kau sendiri akan tahu. Semua ini tentangmu.

Maafkan kali ini aku tidak bisa menemuimu secara langsung--meski sebenarnya banyak sekali yang ingin aku bicarakan dan mesti kita diskusikan. Tegakkanlah punggungmu dan bacalah baikbaik, barangkali kau bisa minum terlebih dahulu karena aku akan menulis catatan pendek yang panjang untuk kita diskusikan.

Aku merasa keningmu mengerut saat pertama kali melihat judul suratku ini, tak apa-apa, sebab kadang-kadang kita seringkali menilai dari luar saja--termasuk judul, tanpa memahami sepenuhnya isi. Inilah yang menyebabkan kita sering salah paham, salah tingkah dan menghakimi.

Hawa, maafkan aku jika telah berani memasuki wilayahmu--sebagai seorang wanita muslim, ini tentang sesuatu yang sedang ngetrend dikalanganmu. Aku melihat banyak teman-temanmu yang ia, sesekali juga kamu berfoto pakai cadar, lalu menguploadnya di instagram atau stroy gram. Barangkali kamu menganggap ini biasa, tetapi bagiku ini sebuah keprihatinan sebab cadar telah kehilangan maknanya--memakai cadar hanya untuk di foto.

Aku tak terlalu mengerti soal agama, apakah cadar wajib atau sunnah, tetapi jika cadar hanya dipakai untuk di foto lalu perlihatkan di Instagram atau media sosial, apa gunanya? sementara dihari-hari biasa kamu tak memakainya, apa gunanya?

Kamu boleh saja tidak setuju, tetapi izinkan aku melanjutkannya.

Aku melihat ada banyak wanita yang dengan sengaja ke tempat wisata, lalu berfoto dengan cadar, padahal disaat perjalanan dia tidak memakai cadar. Aku pernah melihat seseorang yang dengan sengaja mengeluarkan cadarnya hanya sekedar untuk di foto lalu menguploadnya di Instagram.

Rasanya tak ada yang apa adanya ketika kita berfoto dengan sadar, selalu ada manipulasi yang tercipta: entah senyum, entah mata, entah gaya, entah pakaian. Kita harus memfoto berkali-kali untuk mendapatkan hasil yang bagus. Untuk mengupload di instagram tentu kita akan memilih foto yang bagus, kan? lalu dimata letaknya apa adanya? Kecuali itu candid--seseorang yang memfoto kita tanpa sadar.

Pause. Sampai di sini, cerna dulu ceritaku, Hawa. Tarik napas, dan pikirkan baik-baik apa yang sudah aku ceritakan. Sampai di sini barangkali suratku ini memang akan terbaca sebagai kritik yang nyinyir. Atau setidaknya kemarahan yang naif.

Vidio-vidio yang kamu lihat, entah itu pasangan muda yang isterinya memakai cadar terlihat romantis di Instagram, bagiku itu juga hasil dari manipulasi: sebab mereka secara sadar memvidiokan, lalu juga dengan secara sadar mengeditnya? Sesuatu yang sudah disettingkan. Ah, ya, tentu saja kecuali vidio yang orang ambil tanpa kita ketahui.

Hawa, rasanya sulit sekali di era kita, orang seperti kita, dengan keadaan pemahaman agama yang masih biasa-biasa saja tidak mengharapkan like saat upload foto di Instagram. Jika alasanmu untuk dakwah, untuk menjaga pandangan di Instagram, ah, barangkali kamu perlu waktu sendiri untuk merenungi makna dakwah.

Maka, ketika kamu mengupload foto pakai cadar yang hanya kamu persembahkan di Instagram berhati-hatilah disanalah Riya' akan menyelinap di dalam hatimu--hati kita. Seumpama semut hitam di atas batu hitam di malam yang kelam.

Mengakhiri suratku, aku ingin mengatakan padamu bahwa memakai cadar itu sebuah pilihan, seperti kamu yang memilih menjaga diri dengan berpakaian sesuai syari'i, maka ia mesti menjadi bagianmu sehari-hari. Cadar itu bukan style, bukan untuk gaya-gayaan tetapi itu adalah pilihan untuk menjaga diri, agar Allah menyematkanmu sebagai wanita shalehah--makhluk yang nilainya melebihi bumi seisisnya.

Salam,

Gibran

 

  • view 832