Selamat Datang Rasa Takut

Yuda Oktana
Karya Yuda Oktana Kategori Inspiratif
dipublikasikan 15 Maret 2017
Selamat Datang Rasa Takut

"Selamat datang rasa takut," begitu kataku saat kau datang kembali mengunjungiku. Aku tersenyum ke arahmu. Kau biasa-biasa saja dengan wajah datarmu, tapi agak sedikit menyeramkan. Ah, ternyata kau masih saja seperti yang dulu: datang di mukaku, kadang pakai permisi atau kadang kau datang secara tiba-tiba.

Kau memasuki rumahku, lalu membuat nyaliku menciut. Memasuki kamar hatiku, lalu kau tebarkan virus kekhawatiran, kadang-kadang juga menyurutkan semangatku. Kau masih saja seperti yang dulu: datang dan pergi dalam kehidupanku.

Walaupun begitu, dengan senang hati aku selalu berusaha menyambutmu dengan senyuman. Aku senang kau datang dalam kehidupankku, pintu hatiku seolah selalu terbuka untukmu. Aku selalu mempersilahkanmu untuk berbuat sesukamu: membuatku khawatir, gelisah, malas, tak bernyali, mematahkan semangatku, menggetarkan dadaku, menjajah rasaku atau apa saja yang mengecilkan diriku. Tapi, tentu saja, aku selalu bilang "jangan berlama-lama ya. Sebab aku harus melanjutkan langkahku," namun kau membentakku, kau tak terima perkataanku "tidak, aku ingin tetap berada dalam dirimu," teriakmu, mukamu murka, matamu melotot, lalu membesarkan badanmu.

Aku jadi takut melihatmu, aku gemeteran, badanku berguncang hebat, langkahku terasa berat, inilah saat terlemahku—membiarkanmu menguasaiku, lalu aku kalah—tak melakukan apa-apa, kembali melangkah mundur.

Tapi, apakah aku akan tetap membiarkanmu menguasai diriku--membuatku selalu menjadi penakut? Tidak. Dan saat-saat inilah aku menyadari bahwa tak ada cara lain kecuali aku harus melawanmu, mengalahkanmu, mengusirmu, membuangmu jauh-jauh dalam diriku. Lalu aku membesarkan badanku, menguatkan nyaliku, melenyapkan segala kekhawatiran, membulatkan tekad dan menghancurkanmu dengan keberanian yang ku punya.

Atau aku punya cara lain: kadang-kadang aku tak menghiraukanmu, menutup telingaku dari bisikanu, mematikan mataku dan terus saja melangkah, tanpa memperdulikanmu.

Ketika aku berhasil mengalahkanmu, aku tau kau akan datang kembali padaku dengan rupamu yang lain--lebih kuat, lebih besar, lebih ganas. Dan saat itulah aku menyadari semakin kuat dirimu, berarti aku akan semakin kuat dan berani. Dan tentu saja naik "kelas".

Jujur saja, aku berterima kasih padamu, karena telah hadir dalam kehidupanku. Sebab tanpamu, aku tak pernah merasakan yang namanya khawatir, gelisan dan takut—untuk kemudian belajar mengalahkanmu. Darimu aku belajar untuk menjadi pemberani. Tersebab dirimu—rasa takut, aku menemukan keberanian di tengah ketakutanku padamu. Tersebab dirimu—rasa takut, saat-saat aku merasa lemah dan takut sesungguhnya merupakan saat-saat terkuatku.

Terima kasih rasa takut telah hadir dalam hidupku, telah menyadarkan ku untuk terus melangkah, telah mengajarkanku arti dari sebuah keberanian.  Kapan saja, ketika kau datang, aku akan menyambutmu, tapi tentu saja "jangan berlama-lama ya. Sebab aku harus melanjutkan langkahku--mewujudkan mimpi-mimpiku."

  • view 140