Matilah Sebelum Mati

Matilah Sebelum Mati Matilah Sebelum Mati

Aku terjatuh di tengah hantaman hujan, lalu terhempas di dasar paling dalam di dasar kesadaran: aku kehilangan kesadaran atas diriku sendiri, di saat aku di mana-mana justru tidak merasa di mana-mana. Serupa kata Lucius Anneus Seneca 2000 tahun:  lalu ketika seseorang berada di mana-mana, sesungguhnya ia sedang tidak berda di mana-mana.

Aku terkapar, sebab aku telah membunuh kematian diriku sendiri sebelum sebenar-benarnya mati: mematikan diri untuk menghidupkan hidup. Sebab kematian adalah awal kemerdekaan.

Jiwaku terbang dibawa angin ke sebuah lubang hitam, hingga aku sampai pada tempat yang aneh: sepi dan gelap. Di sekelilingku bangunan-bangunan tua yang telah berlumut, tanah-tanah melekat di dindingnya: hey aku di mana?

"Inilah kuburanmu bagi kematianmu," kata seseorang berjubah hitam yang tiba-tiba muncul dari sebelh kiri, di tangannya seperti mengenggam sebuah cambuk berapi, matanya penuh kemarahan--menakutkan.

Aku tak sanggup menatap matanya yang dipenuhi api kemarahan, kakiku bergetar, dadaku berdebar, hingga tak terasa peluh membasahi tubuhku--aku sangat-sangat ketakutan.

"Aku dimana?" kerongkonganku bergetar saat bertanya padanya.

"Inilah kuburanmu," katanya sekali lagi.

Di sebelahku ada seseorang berjubah putih, duduk diam di sebelah kananku, bercahaya tetapi redup, ia menggenggam sebuah buku, ia menatapku dengan tatapan iba.

"Maafkan aku belum bisa membantumu," ucapnya pendek.

Aku benar-benar tak mengerti apa yang telah terjadi padaku.

"Aku dimana? aku tak mengerti dengan semua ini. Kamu siapa dan dia siapa?" aku kembali bertanya padanya, lalu menunjuk seseorang berjubah putih itu. .

Ia terbahak seolah mengejekku, suaranya menyeramkan. "Kamilah makhluk yang telah Tuhan janjikan untuk bersamamu di sini. Inilah tempat kematianmu."

Dia menghidupkan sebuah layar, lalu memutar sebuah vidio: aku melihat orang-orang perlahan-lahan meninggalkan kuburanku, orang tua, keluarga, teman, sahabat--semua orang yang pergi menuju ke tempatnya masing-masing. Aku melihat ibu yang mengusap air matanya, ayah berada di samping ibu sambil menguatkan bahu ibu.

Teman-teman yang selama ini bersama dalam hidupku tak mampu setia pada janjinya yang ingin berjuang bersamaku. Orang-orang yang selama ini aku banggakan saat berfoto bersama terlihat kembali ke keluragannya.

"Lihatlah mereka semua meninggalkanmu sendiri di sini, menyedihkan bukan?. Tak ada yang bisa menolongmu kecuali amal-amalmu. Apa yang telah kamu lakukan selama hidupmu?" Ia memulai menginterogasiku.

Aku duduk bersimpuh di hadapannya, kepalaku menunduk. Aku kembali mengingat atas semua yag telah aku lakukan dalam hidup, slide-slide peristiwa berputar di langit-langit ingatanku.

"Aku tak bisa menyebutkan semuanya, tetapi aku telah melakukan kebaikan-kebaikan, berusaha melakukan perbaikan-perbaikan dalam hidup, aku telah berbagi, aku telah bersedekah dan aku mendirikan shalat,”

“Hmm.. cuih,” ia meludah tepat di depanku, “kebaikan katamu? Shalat katamu? Ibadah katamu? Sudahkah semuanya engkau niatkan semuanya untuk Allah. Kamu tidak bisa berbohong, sebab aku merekam semua yang telah kamu lakukan dari bayi hingga sekarang. Tak ada satupun yang luput dari cameraku. Jika aku perlihatkan, sungguh Demi Tuhan, kamu tak akan sanggup menontonnya. Kamu tak bisa mengelak, sebab setiap apa yang ada pada dirimu semua dicatat: mata yang melihat, tangan yang menggenggam, otak yang berpikir, telinga yang mendengar, lidahmu semua akan dipertanggung jawabkan," katanya menginterogasiku.

(Bersambung)

Yuda Oktana

Matilah Sebelum Mati

Karya Yuda Oktana Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 07 Maret 2017
Ringkasan
Aku terkapar, sebab aku telah membunuh kematian diriku sendiri sebelum sebenar-benarnya mati: mematikan diri untuk menghidupkan hidup. Sebab kematian adalah awal kemerdekaan.

  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Semacam coretan renungan akan kematian dalam kemasan fiksi yang lugas dan sukses membuat pembaca berkaca pada diri sendiri.

    Segala jenis pertanyaan dan bayangan situasi sesaat usai menghembuskan nafas terakhir digambarkan secara jelas dalam tulisan ini. Maksud sang penulis tersampaikan secara terang-terangan. Tidak menggunakan banyak kalimat kiasan dan tidak bertele-tele. Keren!