Manusia Biasa

Yuda Oktana
Karya Yuda Oktana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Agustus 2016
Manusia Biasa

Tak selamanya yang berkilau itu indah, seperti malam yang tak selalu menerormu. Saat bunga yang tak selalu menjadi puisi dan hujan tak hanya soal kenangan

Semua ada batasnya, semua ada waktunya, sebab semesta diciptakan dengan keseimbangan—konfigurasi harmonis dari segala hal yang berkebalikan, inilah kesempurnaan: kebahagiaan dengan kesedihan, kekaguman dengan kekecewaan, gelak tawa dengan air mata, terang dengan gelap.

Kesempurnaan hidup, jika didefiniskan adalah segala hal berlawanan terjadi pada kita, mereka saling menggenapkan. Kesempurnaan tak hanya soal kebahagiaan, tapi juga kesedihan. Tak hanya soal gelak tawa, tapi juga air mata. Jika mereka telah menghiasi hidup kita, sungguh telah sempurna hidup kita.

Dari mana kita bisa merasa kaya tanpa merasa kurang dulu, merasa bahagia tanpa mengalami kesedihan dulu, merasa siang tanpa melewati malam? atau sebaliknya.

Orang sehat takkan merasa betapa berharganya kesehatan sebelum mengalami sakit. Kita tidak tahu kenyang, sebelum merasa lapar. Ketika kita telah mengalami dua hal itu, itulah kesempurnaan. Setidaknya, itulah pemahamanku.

Seperti juga pada manusia, kepada mereka, siapa saja, jangan terlalu mencintai, sebab kelak bisa saja kita membencinya. Juga jangan telalu membenci, sebab kelak bisa saja kita mencintainya. Cintailah seseorang dengan keseimbangan.

Terhadap orang yang kita senangi, baik itu kehebatan, kepintaran, atau apa saja yang lebih darinya, jangan terlalu mengaguminya, suatu saat kau akan kecewa padanya, tersebab ia yang tak seperti kau harapkan dan bayangkan selama ini. Kita hanya manusia biasa yang tak bisa lepas dari lubang hitam bernama dosa, tempat singgahnya khilaf.

"Lalu siapa yang seharusnya kita kagumi?" barangkali kamu akan bertanya begitu.

Ada manusia biasa, yang di utus oleh Tuhan menjadi penerang bagi bumi, bahkan semesta dan malaikat mendoakannya.

"Kamu tahu itu siapa?" aku bertanya padamu, kamu geleng-geleng. Masih belum bisa menangkap yang aku maksud.

Dialah Muhammad, nabi sekalian semesta, tak ada celah sedikitpun untuk kita kecewa padanya. Segala langkahnya, perkataan dan perbuatannya adalah panutaan terbaik bagi manusia.

Jika engkau ingin mencintai, mengagumi dan manauladani seorang manusia biasa, maka dialah lelaki pilihan Tuhan bernama Muhammad, manusia berjuluk al-amin. Kamu tahu, dialah Al-quran berjalan.

Dialah sebaik-baik manusia yang mesti kita cintai, kagumi dan tiru. Selebihnya, orang lain, jadikanlah mereka sebagai pendorong kita untuk menjadi lebih baik.

 

  • view 261

  • Anis 
    Anis 
    1 tahun yang lalu.
    selalu saja sedih dengan perenungan yang lagi-lagi saya harus bertanya pada diri sendiri: Sudahkah saya mencintai Muhammad?

    • Lihat 3 Respon