Pura-Pura Bahagia

Yuda Oktana
Karya Yuda Oktana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Agustus 2016
Pura-Pura Bahagia

Gaisan, apa kabarmu hari ini? tak terasa ya, usiamu sudah menaiki tahun pertama. Saat terakhir kali bertemu denganmu waktu itu, aku melihatmu sudah lincah, sudah bisa bilang, “yah, yah" dengan suara yang masih samar-samar. Kamu juga sudah bisa berdiri sendiri. Ah, aku senang melihatmu waktu itu.

Ini adalah surat dariku untuk kamu baca di masa depan. Aneh bukan? demikianlah Gaisan, beberapa hal tentang hidup memang perlu untuk disiapkan dari sekarang, termasuk surat ini.

Kelak jika kau telah bisa mengeja, mengartikan kata-kata, memaknai kalimat-kalimat, aku berharap kau akan bertemu dengan surat ini, baik di facebook, blog atau buku. Ketika kamu membaca surat ini, mungkin itu hari ulang tahunmu yang ketiga belas tahun. Maafkan aku yang tak bisa ikut merayakan ulang tahunmu, mungkin saat itu aku berada jauh darimu.

Barangkali kamu akan bertanya, kenapa aku menuliskan surat ini untukmu?

Tak apa-apa Gaisan. Aku hanya ingin bercerita denganmu di masa depan dengan surat ini. Gaisan, jika kelak kau sudah dewasa, sudah bisa merasakan kebahagiaan dan kesedihan, jangan seperti kami ya!

"Kenapa?" Aku menebak-nebak itulah pertanyaanmu waktu itu.

Sebab di masa kami, kebahagiaan sudah terlanjur dipalsukan oleh camera dan narasinya. Barangakali kami sudah terlanjur terjebak pada dunia yang terlanjur palsu: senyuman dan tawa yang di bingkai dalam benda bernama foto.

Kami terlihat bahagia di depan petikan lensa, lalu menambahnya dengan kata-kata berbentuk caption: bahagia adalah ketika kita bisa tertawa sepuasnya, tulis kami di Intagram. Padahal di sini, di dada ini, belum tentu. Kami rela jauh-jauh agar bisa menghasilkan foto yang bagus, lalu pura-pura candeed, kamu tahu candeed? Candeed itu ketika kita tidak sadar kalau sedang di foto, kau boleh bilang tanpa diketahui kalau seseorang sedang mengedipkan cameranya pada kita.

Ketika kebahagiaan disengaja diperlihatkan ke orang lain, pada titik itu sesungguhnya kebahagiaan telah menghilang dari dirinya, itulah yang orang kata memamerkan. Kamu mesti tahu, kebahagiaan itu soal rasa Gaisan, maka ukurannya bukan materi atau foto. Ia hanya bisa dirasakan di dalam hatimu, tidak selalu berwujud tawa atau senyuman.

“Bukankah kebahagiaan itu mesti kita bagi?” tanyamu selanjutnya. Aku selalu suka dengan ekspresimu yang serius saat bertanya.

Ketika kamu mendapatkan riski dari Tuhan, misalnya, lalu dengan riski itu kamu berbagi dengan anak-anak yatim, itulah salah satu bentuk kamu berbagi kebahagiaan. Berbagi tawa dengan membuat orang lain tertawa. Jika didefenisikan, bahagia adalah saat kita menikmati, mensyukuri dan berbagi apa saja yang kita miliki kepada sesama. Dengan begitu seberapapun anugerah Tuhan kepada kita, kebermanfaatannya bisa dirasakan oleh orang lain.

Ya, kadang tak selamanya yang berkilau itu indah. Terhadap sesuatu barangkali kamu hanya perlu melihat dengan kaca mata yang sederhana, dengan cara sederhana, seperti sesederhana dalam berjalan: tak perlu pakai sepatu mahal, tak perlu pakai sendal yang bermerek, tak perlu pakai alas kaki yang mengkilat, cukup pakai sendal jepit kita masih bisa menikmati hidup bukan? Sesederhana itulah kebahagiaan Gaisan.

 

Salam,

Oom Ahmad

  • view 1.3 K