Perjalanan Terjauh

Yuda Oktana
Karya Yuda Oktana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Juni 2016
Perjalanan Terjauh

Pagi ini, matahari pagi kembali ke rupanya, menyinari sudut ruang-ruang dengan senyumnya, menyirami pucuk-pucuk bukit dengan kelembutannya. Sudah lama sang surya pagi tak begini, sebab beberapa bulan terakhir hujan terus mengguyur.

Seperti biasa, saat pagi menjelma cahaya harapan, aku melakukan ritus pagi: menikmati senyuman mentari pagi sembil menyeruput kopi di depan kontrakan. Saat seruput pertama, aku jadi teringat percakapan dengan Andi dua malam yang lalu:

"Yud, menurutmu perjalanan terjauh kita itu kemana?" tanya Andi padaku.

Setelah isya di masjid, kami memilih duduk sebentar di depan kontrakan, untuk kemudian berbincang banyak hal.

"Ke masjid," jawabku.

Matanya terbelalak, terkejut dengan jawabnku.

"Loh, kenapa? bukannya masjid itu deket ya?" dia berusaha mendapatakn konfirmasi dariku.

"Ya, secara jarak barangkali ia dekat, tapi Ndi, ada jarak yang tak terhitung oleh angka-angka, tak bisa di ukur dengan kilometer, kamu tahu itu jarak apa?" kataku padanya.

Dia menggeleng.

"Jarak kita dengan Tuhan," lalu aku menghela napas, "barangkali aku terdengar naif, tak apa-apa, tapi kita juga tahu betul yang baik tak bisa ditolak" tambahku.

"Maksudnya?"

"Ndi, perjalanan terjauh bagi laki-laki sesungguhnya adalah perjalanan menuju masjid. Coba saja kamu lihat ketika azan berkumandang, berapa banyak orang yang pergi ke masjid?  Padahal jaraknya dengan masjid itu dekat."

"Ya, karena perjalanan terjauh dan terberat sesungguhnya adalah ke masjid, sebab banyak orang kaya yang tidak sanggup mengejerkannya. Banyak orang pintar dan pandaipun tak bisa menggapainya. Banyak orang yang bisa pergi ke tempat yang jauh, keluar negeri, misalnya, namun tetap saja ke masjid terasa begitu jauh dan berat. Banyak pemuda yang mampu menaklukan tingginya gunung, tapi ketika di ajak ke masjid mereka mengeluh dengan banyak alasan. Ketika dipanggil atasan, banyak orang dengan sigap memenuhi, tetapi ketika dipanggil Tuhan melalui azan untuk ke masjid, banyak orang yang diam saja,"

"Masjid terasa begitu jauh dan amat berat bagi sebagian orang, padahal secara hitungan matematis jaraknya sangat dekat,"

"Kamu tahu kenapa itu bisa terjadi?" tanyaku padanya.

"Hmmm... karena jaraknya dengan Tuhan(?)" jawabnya dengan ragu. Aku jadi tersenyum mendengar katanya.

"Yup, bener banget Ndi, jarak kita dengan Tuhan yang menentukan semuanya: jauh, berat atau taknya perjalanan kita menuju masjid. Hanya orang-orang kuatlah yang bisa dan mampu bertahan menapaki perjalanan menuju masjid ketika dipanggil Tuhan. Orang yang kuat ini adalah mereka yang dekat dengan Tuhan, ya, kita menyebutnya sebagai orang yang beriman," jelasku.

"Dan inilah perjalanan yang diimpikan untuk terus aku tapaki, perjalanan terjauh dan terberat, walaupun aku harus merangkak," tutupku.

"Aku juga ingin," ujar Andi.

Lalu dia tersenyum, aku juga ikut senyum, senyum kami berdua menjelma cahaya yang menyinari jalan terjauh dan terberat ini.

 

  • view 194