Shalatlah Sebelum Dishalatkan

Yuda Oktana
Karya Yuda Oktana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Juni 2016
Shalatlah Sebelum Dishalatkan

Naila, barangkali tersebab bermacam-macam meme yang menyerang dunia maya, kita mulai melupakan sebuah nasehat lama yang sesungguhnya sebuah pengingat keras sekaligus mendalam—menggetarkan dada, meski yang di dalam hatinya ada sedikit keimanan.

Kita lebih memilih kata-kata semacam ini, "shalat jum'at dulu biar ganteng" atau hal lainnya, yang di anggap lucu kemudian disebar luaskan, akhirnya perlahan tapi pasti nasehat ini mulai lenyap.

"Apa itu?" tanyamu waktu itu.

Aku menghela napas, "shalatlah sebelum dishalatkan."

Apakah kau masih ingat dengan kata-kata itu? dulu, jauh sebelum hari ini, di masjid, di tempat pengajian, di rumah, seperti di mana saja, seringkali mendengar kata-kata ini bukan? dulu, jauh sebelum hari ini, kata-kata ini menjadi semacam senjata untuk mengetuk hati-hati yang mulai tertutup dari hidayah Tuhan—untuk segera membuka pintu hatinya dengan menghadap Tuhan.

Naila, shalat itu mengindahkan seseorang dari dalam dirinya—cahaya yang terpancar dari hatinya yang selalu sujud di hadapan Tuhan, sebab dengan rukuk-sujud hatinya membersihkan diri.

Kamu masih ingat dengan nyanyi ini, walaupun hidup 1000 tahun kalau tak sembahyang apa gunanya. Ini lirik yang sering kita dengar waktu kita kecil dulu. Masih ingat? Lagu ini yang kita sukai saat dan selalu kita nyanyikan waktu didikan subuh.

Aku ingin mengingatnya kembali, seperti saat aku menyanyikannya dulu. Begini lagunya:

Sepohon kayu daunnya rimbun
lebat bunganya serta buahnya
walaupun hidup seribu tahun bila tak sembahyang apa gunanya
walaupun hidup seribu tahun bila tak sembahyang apa gunanya

Kami bekerja sehari-hari
untuk belanja rumah sendiri
walaupun hidup seribu tahun bila tak sembahyang apa gunanya
walaupun hidup seribu tahun bila tak sembahyang apa gunanya

Kami sembahyang fardhu sembahyang
sunahpun ada bukan sembarang
supaya Allah menjadi sayang
kami bekerja hatilah riang

Kami sembahyang limalah waktu
siang dan malam sudahlah tentu
hidup dikubur yatim piatu
tinggalah seorang dipukul dipalu

Dipukul dipalu sehari-hari
barulah ia sadarkan diri
hidup didunia tiada berarti
akhirat di sana sangatlah rugi

Ya, lirik ini bagai mantra yang menghipnotis kita untuk melaksanakan shalat dan takut untuk tak melaksanakan shalat. Sebab buat apa hidup 1000 tahun, nyatanya yang kita dapatkan penyesalan jika tidak melaksanakan shalat!

Maka, setiap harinya, ada 5 waktu yang telah Tuhan tentukan sebagai keharusan, itulah shalat wajib kita: subuh, zuhur, ashar, magrib, dan isya.

Sebelum fajar datang menyapa daratan, ada waktu yang telah Tuhan tentukan sebagai waktu, yang, ketika kita laksanakan ibarat telah mendapatkan dunia beserta isinya: itulah shalat fajar.

Saat detik berlari menuju siang, ada waktu yang telah Tuhan tetapkan sebagai waktu yang, ketika kita laksanakan ibarat kita mensedekahkan banyak harta. Imbalan yang Tuhan berikan adalah hari itu segala kebutuhan kita akan dicukupkan, rizki akan dipermudah, jika masih dilangit akan diturunkan: Itulah duha.

Pada pertengahan malam, saat orang-orang terlelap, konon, pada waktu inilah Tuhan turun langsung ke bumi melihat hambaNnya menyalakan cahaya-cahaya dengan sujud, rukuk, Al-quran, dan doa, ketika dilaksanakan kemuliaanlah yang ia dapat, maka apa saja yang diminta akan dikabulkan: itulah tahajud.

Setelah itu semua, ada waktu di mana kamu terbaring kaku tak berdaya di keranda, badanmu dibalut kain kapan, mulutmu membiru, hidungmu disumbat kapas, orang-orang membuat shaf: itulah shalat atas kematianmu—dishalatkan.

(Si)apapun dirimu saat ini, bagaiamapun dirimu, pada akhirnya mendapatkan nomor antrian untuk dishalatkan. Maka, sebelum terlambat, selagai napas masih berdenyut di titik nadir, janganlah lupa sujudmu untuk Tuhan, sebab setiap yang bernyawa pasti akan mati.

 

*Sumber foto http://www.ldiilampung.com/sholatlah-sebelum-kamu-disholatkan.html

  • view 297