Lupa pada OrangTua

Yuda Oktana
Karya Yuda Oktana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Mei 2016
Lupa pada OrangTua

Setelah isya aku dan Rahmad duduk di sebuah kursi depan kontrakan, melepas penat dari keseharian perkuliahan. Kami berbincang banyak hal, termasuk malam minggu yang kelabu.

Sementara bulan di atas langit mulai terang, bintang-bintang mulai bermunculan, awan yang masih nampak perlahan beringsut-ingsut diarak angin malam. Kami duduk bersebelahan, "eh cobah deh liat nih foto," tiba-tiba Rahmad memperlihatkan sebuah foto di layar handphonenya, di sana ada meme lucu tentang keanehan sebagian orang Indonesia, aku tergelak, geleng-geleng dibuatnya. Foto itu menampakkan beberapa orang yang sedang berada di meja untuk makan, ada orang Arab yang menadahkan tangannya berdoa sebelum makan, orang Amerika yang beroa sebelum makan, lalu orang Indonesia sebelum makan foto dulu biar eksis di media sosial.

"Aneh yah, orang sebelum makan doa dulu, ini malah foto...hahaha," kata temanku tadi, bahunya berguncang karena tertawa , "entah virus apa yang menjangkiti sebagian dari masyarakat kita, apa-apa difoto lalu dipamerin di media sosial,” tambahnya.

Lalu aku melihatnya membuka sebuah media sosial yang aku tahu itu Path. "Nih gue liatin ama lu yang lebih parah, yang kalau lu liatin mereka kayak mahasiswa yang paling hidup enak, ini Path temen-temen gue yang lagi kuliah juga di rantau orang."

Aku melihat-lihat foto atau status yang ada, benar kata Rahmad, dari sana aku melihat sebagian dari temannya yang juga mahasiswa memamerkan kemewahannya: ada yang sedang makan di restoran atau cafe mewah, menu makanan yang mahal-mahal, status yang sedang berada di pusat perbelanjaan, dan lain-lain.

"Lu liat gimana kehidupan mereka, padahal mereka belum kerja loh, tapi hidupnya sok-sok mewah. Mereka gak ingat apa ama orang tuanya di kampung halaman." Rahmad sepertinya kesal dengan gaya hidup teman-temannya, lebih tepatnya seperti kasihan dengan mereka.

"Maksudnya?" aku mencoba mencari penjelasan darinya.

"Iya maksud gue, kita kuliah dengan uang dari kedua orangtua kita. Ayah dan ibu kita susah payah cari uang buat biaya pendidikan kita di rantau. Buat biaya kita untuk mewujudkan impian mereka agar kita jadi sarajana, nah sebagian dari kita malah menghianati kepercayaan orang tua kita dengan menggunakan hasil jerih payah mereka dengan hidup bermewah-mewahan lalu seperti tanpa beban memamerkannya di media sosial, merekalah, dan barangkali kita juga sering kali melupakan kedua orangtua kita yang berada di kampung halaman."

“Emang gak boleh ya?” sergahku pada Rahmad.

“Bukannya gak boleh, tapi kita mesti ingat, ketika kita bermewah-mewahan di sini, sementara orangtua kita memeras keringat mencari uang buat kita. Kita makan-makan enak di sini yang, belum tentu orang tua kita sudah memakannya, kan?  Sungguh jika begitu kita telah memenuhi syarat sebagai anak durhaka: berbahagia di atas jerih payah kedua orangtua,” katanya

Aku jadi tersenyap. Ah, Rahmad benar, kita yang sedang mengejar sarjana di rantau orang sering kali lupa pada orangtua. Lupa untuk tak menghabiskan uang mereka dengan foya-foya. Bagi orangtua kita yang jauh disana, hidup di tengah kesempitan harus memerih keringat untuk merubahnya menjadi rupiah demi sesuap nasi, demi biaya pendidikan kita. Barangkali mereka tak pernah mencicipi makanan yang enak-enak, minum-minuman yang segar apalagi escream  isetimewa, jangankan makan atau mencicipi semua itu, mengunjungi restoran atau cafe atau pusat perbelanjaan pun barangkali tak.

Lalu tegakah kita berenak-enakan di atas kesusahan kedua orangtua kita? Kataku dalam hati, yang ku persembahkan untuk diriku sendiri. Kepada mereka, seringkali aku melupakan, termasuk berbagi kabar. 

Sekarang, apa kabar mereka di sana? sudah lama aku tak mendengar getaran suara mereka di balik telepon. Ada rindu yang berdesir gamang dalam hatiku: senyum ibu dan tawa ayah. Oh, aku rindu.

“Yud,” suara Rahmad memecah krital lamunanku. “Jika kelak kau sedang ada masalah, membikinmu pening, dadamu jadi sesak, hingga pada akhirnya kegelisahan menyergapmu, maka segeralah telepon kedua orangtuamu: barangkali saat itu ibu atau ayah sedang merindukanmu. Mereka adalah penawar terbaik dari semua kegelisahan, selain shalat dan doa” katanya, menutup pecakapan kami mala mini.

Aku tersenyum, Rahmad tersenyum—senyum kami melengkungkan senyuman semesta: baru saja kami  mengahabiskan malam yang indah.

  • view 245