Jeda

Yuda Oktana
Karya Yuda Oktana Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Mei 2016
Jeda

Saatnya telah tiba untuk berhenti sejenak—jeda. Apa kau tak lelah  berlari terus? Apa kau tak menyadari ada yang kau lupakan? Apa kau yakin langkahmu sudah benar?

Tak apa-apa, takkan lari gunung dikejar. Berjedalah dalam larimu, sebab jeda akan memberimu ruang untuk memeriksa kembali setiap langkah yang telah kau tempuh: apa yang salah, apa yang benar, apa yang perlu dihentikan dan dilanjutkan, tapi bukan untuk kembali ke langkah sebelumnya. Jeda memberimu kesempatan untuk menemukan makna terdalam dari sebuah perjalanan: kemana seharusnya melangkah dan apa yang sebenarnya aku kejar.

Di tengah kesendirian dalam jeda, ada sunyi yang membuatmu tenggelam dalam jiwa, dan di sanalah kau akan menemukan pertanyaan di sudut-sudut ruang kesendirian, "dalam hidup apa yang aku cari?"

"Lalu mengapa harus jeda? kenapa tidak berhenti saja?" barangkali kau akan bertanya begitu.

Hey, dengarkan ini baik-baik: Bagi para petualang, mereka tak mengenal yang namanya "stop", berhenti berarti tunduk pada kekalahan, mundur berarti menyerah pada masa depan, itu makanya mereka hanya jeda—istrahat sebentar untuk kemudian melanjutkan perjalanan, kembali mengakrabi waktu.

Kita tak seperti bumi yang terus berputar—tak berjeda. Kita hanya manusia biasa yang perlu ruang untuk menyendiri. Berjedalah, berilah ruang bagi jiwa untuk ‘hidup’, istrahatlah sambil sesekali meneguk kopi, teh, atau apa saja yang membuatmu kembali menguat melanjutkan langkah.

Berjedalah, lihat orang-orang di sekitarmu yang dibakar oleh ambisi—tak pernah jeda, mereka pada akhirnya tersungkur oleh hawa nafsu. Berjedalah, temukan Tuhan di dalam hatimu yang telah lama kau lupakan di tengah kesibukanmu: Dialah yang sesungguhnya kita cari dalam hidup.

 

  • view 139