Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 21 Maret 2018   23:36 WIB
Solidaritas Dan Komunitas oleh Fr. Ovan Ta’a

(Fr. Ovan Ta'a adalah Calon Imam Keuskupan Agung Kupang)

Pendahuluan

Bagi kita solidaritas adalah tema yang sangat akrab diperbincangkan karena dalam banyak kesempatan wacana solidaritas ini sudah menjadi semacam menu utama. Mengapa demikian? Jawaban sederhana karena dalam hidup bersama manusia mesti mengusahakan suatu kehidupan yang mengarah pada kebaikan bersama. Di sini ragam pola pendekatan pun diterapkan dan solidaritas adalah salah satu pendekatan yang dapat dipakai untuk mencapai suatu kehidupan yang mengutamakan kebaikan umum. 

Lebih jauh mendalami makna solidaritas kita pun mesti mengetahui apa sebenarnya makna solidaritas itu sendiri. “Solidaritas atau yang disebut juga rasa senasib sepenanggungan, kesetiakawanan, dan kebersamaan pada dasarnya adalah semangat kepedulian seseorang atau suatu kelompok atau masyarakat atas nasib orang lain. Semangat inilah yang menumbuhkan sikap-sikap kepahlawanan, kerelaan berkorban dan kesediaan untuk ikut merasakan dan membantu mengatasi kesulitan orang lain”.  

Dari uraian ini  dapat ditemukan bahwa hakikat dasar dari solidaritas adalah nilai empati pada sesama. Hal ini ingin mempertegas bahwa manusia pada dasarnya adalah mahkluk sosial yang selalu punya ketergantungan pada sesamanya. “Solidaritas dalam Kamus Besar Bahasa INDONESIA berarti satu rasa atau perasaan setia kawan. Sementara solider (kata sifat) berarti mempunyai atau memperlihatkan perasaan bersatu (senasib,sehina,semalu) rasa setia kawan”. Dari rentetan definisi ini maka dapat dipahami makna dasar dari term solidaritas berhubungan erat dengan unsur hakiki manusia yakni makhluk sosial sekaligus makhluk individul. 

Solidaritas dalam Sejarah Gereja

Konteks sejarah gereja dunia bertolak dari peristiwa historis Yesus orang Nazaret yang hadir dan mewartakan kerajaan Allah di dunia. Melaui kehadiranNya Ia berhasil membentuk suatu komunitas yang diasaskan pada hukum kasih. Dari hukum dasar ini, pengikut setiaNya bersatu bersama merasa senasib sepenanggungan dan mulai berusaha bertumbuh walaupun masih tergolong dalam kelompok-kelompok kecil yang terpisah. Berkat sikap solider antar angggota maka komunitas ini terus bertumbuh, meski harus bersih kukuh melawan tudingan miring kaum yudaisme yang saat itu menganggap ajaran komunitas ini sebagai salah satu kelompok sekte yang terpisah dari tata cara orang Yahudi. 

Dari konteks kehidupan yang pelik karena harus berhadapan dengan ragam persoalan komunitas kristiani ini terus setia pada ajaran dasar pendiriNya. Komunitas itu berkembang dan berekspansi ke luar daerah Yahudi.  Komunitas yang tadinya hanya beranggotakan orang-orang Yahudi kini telah berkembang. Ada juga anggota komunitas yang datang dari latar belakang non-Yahudi. Masa perkembangan komunitas ini yang mulai keluar dari lingkup Yahudi secara geografis merupakan ruang yang tepat bagi tumbuhnya nilai solidaritas. Hal ini tampak lewat terbentuknya satu komunitas yang disebut sebagai “jemaat perdana.”  Dalam cara hidup jemaat ini terdapat pola relasi hidup bersama yang menekankan spirit pengembangan nilai solidaritas. Apa yang menjadi milik bersama dibagikan. Hak individual yang dimiliki secara pribadi dipersembahkan untuk kepentingan bersama. Prinsip senasib sepenanggugan terrealisasi secara baik dalam kehidupan jemaat perdana ini selanjutnya komunitas ini terus berkembang menjadi satu institusi sendiri yang punya garis hierarkis. Komunitas yang awalnya bertumbuh dari sekelompok pengikut Kristus ini akhirnya berhasil menjadi satu komunitas yang kokoh yang kemudian hari dikenal sebagai Gereja secara universal. 

Refleksi Gereja berhubungan dengan makna solidaritas kini tidak hanya pada kepentingan anggota komunitas Gereja saja tetapi sudah membias pada kehidupan pada umumya. Kepedulian itu secara nyata terlihat lewat ajaran Gereja yang menekankan nilai solidaritas kehidupan bersama. Solidaritas dilihat sebagai satu panggilan dasar di mana tiap orang terpanggil untuk melakukannya praktek hidup yang nyata. 

Perjumpaan dengan realitas yang terbagi oleh kelas karena tuntutan dunia modern mesti dialami dengan spirit solidaritas. Artinya bahwa tiap anggota komunitas turut merasa senasib sepenanggungan dengan sama saudara yang hidupnya miskin di mana hidup bersama dibasiskan pada pola kolektif atau gotong-royong. Sebagaimana dijelaskan dalam Katekismus Gereja Katolik demikian “ pada tempat pertama solidaritas itu nyata di dalam pembagian barang-barang dan di dalam pembayaran upah kerja. Ia juga mengandaikan usaha menuju satu tata sosial yang lebih adil, di mana ketegangan-ketegangan dapat disingkirkan dengan lebih baik dan pertentangagan-pertentangan dapat diseleisaikan dengan lebih mudah melalui jalan perundingan”.   

Solidaritas Konteks Indonesia

Menelisik lebih dalam tentang sejarah Indonesia maka akan dijumpai benih solidaritas yang sudah tertenun sejak awal berdirinya bangsa. Rentetan peristiwa sejarah bangsa mencatat bahwa gerakan solidaritas adalah kata kunci bagi berdiri bangsa Indonesia. Pada tanggal 28 Oktober 1928 para pemuda dengan gagah berani mengikrarkan sumpah pemuda yang menegaskan tentang tiga hal pokok pertama, satu bahasa, satu tanah air dan satu bangsa. 

Terbentuknya gerakan pemuda ini diakarkan pada semangat dasar bahwa kemerdekan adalah tujuan setiap orang dan jalan untuk mempersatukan seluruh suku yang adalah dengan merasa senasib sepenanggungan dan datang dari rasa keterkungkungan dari belengu penjajahan. Rasa satu nasib, satu rasa terjajah ini menjadi pemantik semangat peran pemuda untuk mengobarkan semangat nasionalisme. Gerakan solider ini mendongkrak tiap orang supaya berjuang mengalahkan penjajah. Berkat pergulatan panjang akhirnya bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 berhasil mengikrarkan kemerdekaan dan secara sah berdiri sebagai satu negara dengan sistem pemerintahan presidensil. 

Soekarno adalah tokoh penggagas sekaligus sang proklamator yang mengikrarkan kemerdekaan. Solidaritas menghasilkan kemerdekaan inilah capaian akhir dari perjuangan anak-anak bangsa. Rasa solider tiap anggota membuahkan kemerdekaan walaupun harus memakan waktu yang cukup lama dan serentak menguras tenaga. 

Solidaritas dan Komunitas 

Dari uraian yang ada maka makna solidaritas dalam sejarah telah menghadirkan begitu banyak manfaat yang sangat berfaedah bagi kehidupan bersama. Manusia yang adalah mahluk sosial dan individual selalu berusah mengejar apa yang baik. Di sini kebaikan mesti ditempatkan pada tataran positif artinya kebaikan yang bermaknakan spirit pemersatu dan bukan penghancur. Rasa solider dengan sesama ingin menegaskan bahwa manusia adalah mahluk sosial mengapa? Karena manusia selau punya keterpanggilan untuk membantu orang lain. 

Rasa senasib-sepenanggungan menjadi hal yang tak dapat dielakkan walaupun sering kali manusia berusah menyembunyikan bahkan mengabaikannya. Dimensi sosial dari manusia mengarahkan manusia untuk berusaha membantu sesama yang membutuhkan bantuan. Sering kali makna solidaritas dikaburkan oleh tindakan manipulasi nilai. Orang berusaha menyembunyikan kebobrokan dalam tindakan solider. Bantuan yang diberikan sebenarnya bernuansa nafsu individual tetapi dibungkus dalam isi spirit solider. Hal ini tentu menjadi racun bagi kehidupan bersama. Mengapa karena kebaikan hanya dipakai sebagai sarana untuk memuaskan diri secara pribadi. 

Di sini muncul sikap “soliter” artinya individual, sendiri. Tindakan ini hanya ingin merusak kehidupan komunitas. Memang manusia juga adalah mahluk individual namun dalam ketertentuan, peranan individualism mesti dikontrol demi menyesuaikan diri dengan tata aturan yang berlaku umum yang berintensi pada kebaikan besama. Makna solidaritas sejatinya bermotifkan pada rasa senasib-sepenanggungan dan hal ini tentunya mendongkrak semangat untuk berempati. Nilai sejarah yang didapat dari latar belakang institusi Gereja dan negara Indonesia merupakan acuan bagi kita untuk mengembangkan semangat solider antar anggota komunitas.     

     

Karya : Yudel Neno