Sr. Amelia : Yesus sebagai Model Karakter Sejati

Yudel Neno
Karya Yudel Neno Kategori Agama
dipublikasikan 01 Maret 2018
Sr. Amelia : Yesus sebagai Model Karakter Sejati


(Sr. Amelia, PM, Tenaga Kependidikan Smk Katolik St Pius X Insana TTU)

Kefamenanu - Inspirasi.co - Demikianlah setiap pohon yang baik, menghasilkan buah yang baik, sedangkan pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik”

( Matius 7:17)
 
“Karakter yang baik lebih patut dipuji dari pada bakat yang biasa. Hampir semua bakat adalah anugerah. Karakter yang baik sebaliknya tidak di anugerahkan  kepada kita. Kita harus membangunnya sedikit demi sedikit, dengan pikiran, pilihan, keberanian, dan uasaha keras. 
Hal yang sering dikuatirkan oleh sebagian orang adalah masa depan orang itu sendiri. Baik dan buruknya masa depan seseorang ditentukan oleh karakter/kepribadian orang itu sendiri. Yesus dalam Injil Matius menyerukan dengan tegas bahwa hanya pohon yang baiklah yang dapat menghasikan buah yang baik untuk dapat dinikmati, dan sebaliknya pohon yang tidak baik tidak akan dapat menghasilkan buah yang baik.
Kepribadian seseorang diibaratkan sebuah pohon,  ketika pohon masih kecil memiliki potensi untuk bertumbuh menjadi besar, namun dalam proses pertumbuhan, mengalami hambatan dari rumput liar dan gulma yang mengelilinginya  yang bertujuan menghambat pertumbuhannya. Namun apabila pemilik pohon tahu dengan baik merawat pohon tersebut maka pohon tesebut akan bebas dari gangguan rumput liar dan gulma dan dapat bertumbuh menjadi pohon yang baik dan menghasilkan buah yang baik pula. Tidak ada bedanya dengan manusia. Ketika seorang manusia  dalam proses pertumbuhannya, ia akan mengalami berbaga peristiwa  atau pengalaman, baik yang menyenangkan ataupun yang tidak menyenangan yang akan menjadi penentu karakter dari manusia tersebut.
Pada zaman modern ini, banyak masalah dalam masyarakat yang seringkali meresahkan kehidupan bersama.  Kurangnya pendidikan karakter, seringkali membawa anak-anak manusia modern ini bertumbuh pincang dalam hal kepribadian. Kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, narkoba, kenakalan remaja menjadi momok yang sangat memalukan di masa ini. Kurangnya pendidikan karakter telah mengantar anak-anak manusia menjadi pribadi yang tidak bertanggung jawab baik dalam dirinya sendiri maupun dalam hidup bersama. 
Karakter sendiri bersal dari bahasa yunani (Charassein) yang berarti mengukir hingga terbentuknya sebuah pola. Artinya mempunyai karakter yang baik adalah tidak secara otomatis tetapi memerlukan proses yang panjang. Proses yang panjang ini pun turut didukung oleh beberapa pihak di bawah ini :
Keluarga (orang tua)                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           Dan kamu bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakamu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.( Efesus 6: 4). 
Orang tua memiliki peranan yang sangat penting dalam penbentukan kepribadian seseorang. Mendidik seorang anak dan menjadikan Yesus sebagai model sudah banyak di lupakan oleh para  orang tua. Cinta kasih dan kelembutan tidal lagi diutamakan dalam pendidikan. Rasul paulus  dalam Surat kepada Jemaat di Efesus, memperingtakan dengan sangat tegas atas sikap didik orang tua yang seringkali terlampau keras hingga meninggalkan luka batin yang dalam kepada anak-anaknya yang menghambat pertumbuhan kepribadian seseorang untuk menjadi  pribadi yang integral. Orang tua merupakan ujung tombak dalam keluarga untuk membangun kepribadian anak yang utuh. Orang tua memiliki tanggung jawab yang penuh bagi masa depan anak-anaknya. Orang tua diminta untuk dapat berlaku adil dan bijaksana dalam mendidik anak-anaknya agar dapat terbentuknya kepribadian yang utuh. Orang tua mempunyai tugas untuk membiasakan anak berprilaku bersih, berkata santun dan benar akan membentuk rasa ( feeling) atau kecintaan pada kebiasaan berbuat baik. Oleh karena itu, pendidikan karakter didalam keluarga harus dilakukan secara integral dengan tetap memperhatikan beberapa aspek, yakni  : Knowing : mengetahui, Acting : tindakan melatih dan membiasakan diri anak serta feeling : Perasaan. Dengan demikian upaya tersebut akan menghasilkan manusia-manusia pencinta kebajikan. Dalam diri sesorang perlu ditanamkan nilai-nilai universal yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama , tradisi dan budaya. 
 
 Lingkungan (tempat tinggal)
“ Janganlah kamu sesat. Pergaulan buruk merusak kebiasaan baik” (1 kor 15:33)
Lingkungan tempat tinggal, memiliki peran dalam pembentukan karakter seseorang. Baik buruknya keadaan lingkungan sekitar memiliki pengaruh yang cukup besar bagi perkembangan kepribadian seseorang. Paulus dalam Surat pertamanya kepada Jemaat di Korintus, mengingatkan kita tentang pengaruh  lingkungan dalam perkembangan kpribadian seseorang. Lingkungan tempat tinggal meruapakan faktor  kedua yang memiliki pengaruh dalam perkembangan karakter seseorang. Lingkungan merupakan tempat berkumpulnya beberapa orang yang mana memiliki pengaruh yang cukup besar dalam mengembangan karakter seseorang. `Ketika seseorang terjebak dalam suatu lingkungan yang tidak bersahabat, yang kerap kali mengabaikan sesuatu yang baik,  di situlah kepribadian seseorang mulai pincang. 


Sekolah
Sekolah pun turut mengambil bagian dalam pembentukan kepribadian seseorang. Sebagian waktu dihabiskan oleh sebgain orang di tempat pendidikannya. Di situ ia bertemu dengan berbagai pribadi yang dapat membentuk bertumbuhnya kepribadian entah guru, pegawai maupun teman-teman. Namun pribadi terkait tetap berperan penting untuk menentukan mana yang baik dan benar untuk diikuti dan mana yang salah yang harus dihindari.
 
Karakter sendiri merupakan sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang. Karakter seseorang dapat dibentuk melalui beberapa cara, salah satunya adalah pendidikan karakter yang bertujuan membanggun pribadi yang integral (utuh). Karakter kepribadian yang sempurna hanya ada di dalam Yesus, yang mana menjadi model karakter yang sebenarnya. ( Roma 8:29) Sebab semua orang yang di pilih-Nya dari semula, mereka juga ditentuka-Nnya dari semula, untuk menjadi serupa dengan gambaran anak-Nnya , supaya Ia , anak-Nya itu menjadi sulung di antara banyak saudara.
Yesus merupakan yang pertama /sulung dari kesempurnaan karakter. Yesus Kristus memiliki karakter yang kuat, stabil dan sempurna. Yesus merupakan model utama dari kesempurnaan kepribadian. Karakter Kristus dapat kita renungkan dalam babarapa poin ini : (a) Penuh perhatian : Yesus selalu mampu menujukkan penghargaan kepada orang lain dan lebih dari itu, Ia melakukan kehendak Bapa yang telah dipercayakan kepada-Nya. (b) Berani : Yesus berani menyatakan kebenaran tentang apa yang dianggap benar dan baik, seta memiliki rasa percaya diri dalam mengahadapi yang benar ataupun yang salah. (c) Waspada atau penuh pertimbangan : Yesus tahu waktu yang tepat dalam melakukan sesuatu yang benar. Ketika Yesus hendak melakukan sesuatu, Ia selalu terlebih dahulu melakukan pertimbangan yang matang. Pertimbangan yang paling utama adalah segala yang Ia lakukan untuk memenuhi kehendak Bapa-Nya. (d) Tegas : Yesus mampu mengambil keputusan yang penting dan utama. (e) Antusias dan bersemangat dalam melakukan tugas dan karya keselamatan. (f) Menghormati otoritas, menghargai para pemimpin. (g) Rendah hati : Kerendahan hati Yesus bisa kita lihat dalam kisah tentang pembasuhan kaki para murid. Rendah hati ini mengisyaratkan semangat pelayanan tanpa membeda-bedakan. (h) Bijaksana : Yesus mampu melihat dan menanggapi kehidupan dari sudut pandang sesuai keadaan. Yesus selalu menyampaikan ajaran-ajaran-Nya melalui perumpamaan-perumpamaan yang sesuai dengan konteks hidup masyarakat. 


Untuk memiliki karakter yang di miliki oleh Yesus, agar menjadi manusia pemilik yang utuh, kita dapat meneladani Yesus dengan menghayati dan melakukan beberapa hal yang saya tawarkan kepada kita sekalian :
 
Melekat pada Kristus
Tinggallah di dalam aku dan aku di dalam kamu (Yoh 15:4). Dengan ada bersama kristus , kita mengalami kepridadian Yesus, sebagai kekuatan untuk mengembangan kepribadian yang utuh. Seruan Yesus untuk tinggal di dalam diri-Nya merupakan sebuah ungkapan kepedulian yang bertolak dari cinta kasih. Yesus mau kita ada bersama-Nya, tinggal di dalam diri-Nya, menjadi bagian di dalam diri-Ny agar kita mampu menjadi pribadi yang utuh sebagaimana pribadi Yesus sendiri yang selalu dipenuhi oleh cinta kasih. Dengan tinggal di dalam Yesus seseorang dapat dibentuk sesuai dengan kehendak Allah, menjadi satu dengan Yesus dalam membangun karakter yang lebih baik utnuk mewujudlkan iman Kristen yang taat pada kehendak Bapa.
 
Memperbaharui Diri
Janganlah kamu menjadi sama dengan dunia ini, tetapi berubalah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah, apa yang baik dan berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:2).
Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma, dengan tegas menyatakan bahwa janganlah seseorang menjadi sama dengan dunia yang diliputi oleh ketidak berdayaan melainkan seseorang harus melakukan sebuah perubahan yang di mulai dari dalam dirinya sendiri, dengan merubah cara berpikir, sehingga orang tersebut dapat membedakan mana yang baik dan benar untuk dapat memperoleh kepribadian yang uth demi berkembangan seseorang
Tunduk Pada Karya Roh Kudus
Di dalam Roh, sesesorang dapat diubah, baik itu pikiran maupun hatinya. Roh memiliki kekuatan untuk menaklukan apa yang menjadi kekurangan dari pribadi seseorang. Roh akan bekerja dengan sempurna apabila seseorang memasrahkan kekurangannya di dalam karya Roh dengan penuh iman dan kerendahan hati.  
 
Berbuah Dalam Roh
Yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasan oleh nafsu yang menyesatkan, supaya kamu diperbaharui dalam roh dan pikiranmu. (Efesus 4:22-23).
 
Ibarat sebuah pohon yang mempercayakan seluruh pertumbuhannya pada si tukang kebun, yang setia menjaga dan merawatnya hingga tumbuh menjadi besar dan dapat menghasilkan buah yang baik dan dapat dinikmati oleh semua orang. Begitu pula sebagai manusia, ketika kita memasrahkan seluruh keberadaan kita, baik itu kekurangan dan kedosaan diri kita kepada pemilik pohon kehidupan, maka di situ Allah bekerja dalam terang Roh Kudus, mengubah hidup dan karya kita menjadi pribadi yang lebih baik, utuh demi kemuliaan Kerajaan Surga.
Mari kita berusaha untuk selalu memberikan yang terbaik. Mari kita berusaha dengan segala kemampuan kita dengan mengandalkan kekuatan Tuhan. Rahmat Tuhan tetap berkarya tetapi kita pun dituntut untuk senantiasa terbuka menerima dan tulus untuk berbuat baik. Mari kita meneladani kepribadian Yesus sebagai pribadi yang sempurna. 
 

  • view 85