Rm. Yunus Bouk: Mengatasi Kemiskinan Material melalui Hidup Bertani

Yudel Neno
Karya Yudel Neno Kategori Budaya
dipublikasikan 17 Februari 2018
Rm. Yunus Bouk: Mengatasi Kemiskinan Material melalui Hidup Bertani


Rm. Yunus Sirilus S. Bouk, Pr
(Guru PKN di SMK Katolik St. Pius X Insana)

Manusia adalah homo economicus, individu yang selalu bertindak untuk memenuhi kebutuhan (need) dan kesenangan (pleasure) melalui pemanfaatan sumber daya yang terbatas. Dalam proses pemenuhan kebutuhan dan kesenangan itu, ada yang mampu dan ada pula yang tidak mampu. Dalam bahasa sehari-hari, dikatakan bahwa yang mampu disebut sebagai orang berada (kaya) dan yang tidak mampu disebut sebagai yang serba berkekurangan (miskin). Fokus kita pada yang tidak mampu (miskin). Miskin/kemiskinan dapat diartikan dari berbagai segi entah ekonomi maupun sosial, entah material maupun spiritual. Focus kita pada miskin secara ekonomi/kemiskinan material. Beberapa arti miskin material sebagai berikut : Badan Pusat Statistik RI (BPS) membuat kriteria miskin dengan seseorang hanya dapat memenuhi kebutuhan makannya kurang dari 2.100 kalori per kapita/hari. Sedangkan BKKBN menetapkan ukuran miskin sebagai keluarga prasejahtera yang tidak mampu makan 2x/hari, mengkonsumsi daging/telur 1x/minggu, hanya mampu membeli pakaian 1x/tahun, rumah berlantai tanah kurang dari 8 m2/orang dan tidak mampu membawa keluarga ke sarana kesehatan. Dan menurut Bank Dunia (World Bank) miskin adalah tidak tercapainya kehidupan yang layak dengan penghasilan US $ 1/hari/tahun. Jadi, Miskin Material berarti tidak berharta benda/kondisi yang serba kurang. 
Sekalipun terdapat definisi dan kriteria berbeda, baik ekonomi maupun sosial, entah material maupun spiritual dan terlebih tinjauan berbeda dari badan/lembaga nasional maupun internasional terhadap arti miskin/kemiskinan ekonomi/material, kita harus sepakat bahwa miskin/kemiskinan adalah sebuah “penyakit” yang harus dihilangkan. Cara yang tepat adalah bekerja tangan (opus manuale). Tangan harus dipakai untuk meraba tanah, mengolah, merawat agar bisa menghasilkan pakan bagi kebutuhan dan kesenangan. Bidang opus manuale itu adalah bertani/bercocok tanam. Banyak orang di zaman post modern ini merasa risih dan malu bertani/bercocok tanam. Padahal dengan bertani/bercocok tanam orang bisa makan minum, bisa pakai dan bisa buat rumah (sandang, pangan, papan). Orang tidak lagi tergolong miskin secara ekonomi/material jika terpenuhinya kebutuhan primer. Mari kita giatkan dan tingkatkan semangat bertani/bercocok tanam dalam hidup. Mari kita singkirkan “penyakit” miskin dengan bertani/bercocok tanam.

  • view 50