Andy Genggor : Fenomen Miris Politikus Zaman Now

Yudel Neno
Karya Yudel Neno Kategori Politik
dipublikasikan 14 Februari 2018
Andy Genggor : Fenomen Miris Politikus Zaman Now


Fr. Andy Genggor
(Calon Imam Keuskupan Agung Kupang)
 
Dalam sebuah kesempatan, saya membaca sebuah status dalam sebuah media sosial yang ditujukan kepada para politikus. Status yang berjudul surat untuk para politikus itu bunyinya demikian: “Mungkin saja kau mengira surat ini bukan untukmu. Tapi diam-diam kau mengakui kebenaran yang sedang dan selalu terjadi pada dirimu. Bukankah kau dan saya, kita adalah masyarakat politis? Terlepas dari diam dan bisumu, kita melebur dalam kemunafikan politis. Atau kita terjun bersama dari badai yang menghantam, lalu kau melambai dengan angin yang kencang itu. Angin bukan kekuatanmu, apalagi badai! Kau pernah melirik dalam realitas dan kau seolah-olah menyombongkan kebenaran dengan prestasi, karir, rasionalitas bahkan kelicikan. Anggap saja kau mengakui bahwa kau benar setelah melihat realitas di luar imajimu. Cobalah bayangkan sendainya sebuah panggung teater degan koran sebagai latarnya. Mungkin yang kau lihat adalah fenomen di luar drimu. Cobalah bayangkan sekali lagi! Bila panggung itu kau hias dengan pecahan-pecahan kaca, entahlah kita bermain dalam kemungkinan. Namun yang pastinya kita dihantar menuju keadilan. Bukankah kemungkinan kaca yang retak bisa jadi ideal karena kau berangkat dari paras wjahmu.? Hai para politikus, kita memang terlarut tapi apakah kita harus menyatu dalam kebohongan? Kau terlalu rasional bahkan “dewasa sekali” omonganmu menembus bagaikan pisau. Menembus tapi tidak meluka. Dan meluka tapi tidak menembus. Hai para politikus, kita memang sama-sama terlarut, namun yakinkah larutanmu sama dengan larutan yang harus kami gunakan. Bisa jadi kau mencampuri sianida dengan kopi yang sama-sama kita sukai. Pantas kau menyukai itu dengan senyum bahagia bila saya minum begitu nikmat. Atau nikotin dalam kepulan asap sebatang rokok di dalamnya racun perenggut nyawa. Lalu saya terlanjur ekstase dari bau mulutmu......” 
Membaca status di atas, kita pasti bertanya-tanya sikap para politikus seperti apakah yang selalu menjadi buah bibir masyarakat? 
        Martha Nussbaum pernah berkata: “Hidupmu tidak hanya berurusan dengan dirimu sendiri. Hidup itu soal bagaimana menerima kenyataan bahwa engkau rela berbagi bersama yang lain, dan bagaimana engkau melakukan perbuatan baik bagi yang lain.” 
    Politikk menjadi salah satu sarana untuk kita berbagi dan melakukan perbuatan baik bagi orang lain. Politik sejatinya bertujuan untuk membangun kebahagiaan serta mengkonstruksikan masyarakat agar tertata baik. 
Zaman sekarang ini, politik telah dijadikan sebagai tempat untuk menunjukkan egoisme diri. Dengan berdasarkan pada nafsu dan keinginan pribadi, orang yang berkecimpung dalam dunia politik bisa saja menjadikan orang lain sebagai objek atau sarana guna memuaskan nafsu dan keinginannya. Politik mulai kehilangan makna yang sesungguhnya. Politik yang merupakan wadah memanusiakan manusia berubah menjadi wadah untuk menindas sesama. Politik yang semula berorientasi pada kebaikan sesama kini berubah menjadi berorientasi pada diri sendiri. 
Ada beberapa tindakan politikus yang menurut hemat saya sering menjadi buah bibir masyarakat, yakni : 
Pertama, Korupsi. Korupsi memang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat bangsa ini. Korupsi merupakan tindakan seseorang yang menyalahgunakan atau mengkhianati kepercayaan untuk mendapatkan keuntungan bagi diri sendiri. Para politikus merupakan pribadi yang mendapatkan kepercayaan dari masyarakat untuk membawa masyarakat menuju kesejahteraan. Tetapi yang terjadi adalah para politikus mengkhianati kepercayaan masyarakat itu dengan melakukan korupsi untuk memperoleh keuntungan pribadi. 
Kedua, Pengumbar janji palsu. Sebelum tampil menjadi seorang politikus, seorang pribadi pasti akan memulainya dengan berkampanye terlebih dahulu. Di dalam kampanye itu ia akan menjanjikan segala hal baik yang akan dilakukannya ketika ia sudah terpilih nanti. Namun, ketika terpilih, janji-janji kampanye itu seolah hilang ditelan dunia. Mungkin hanya beberapa saja yang diwujudkan. Yang lainnya?
Berkecimpung di dunia politik memang tak mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Perlu diingat bahwa berpolitik itu berjuang dengan masalah rakyat banyak dan bergelut dengan tanggung jawab bangsa dan negara. Kita sekalian yang mau berkecimpung di dunia politik atau bahkan sudah berkecimpung di dalamnya, harus menanamkan dalam diri kita bahwa kita adalah kepercayaan orang banyak untuk membawa mereka menuju kepada kesejahteraan. Jika kita telah menyalahgunakan kepercayaan masyarakat maka sudah saatnya kita memperbaikinya dengan cara bekerja dengan lebih baik dan jujur serta berusaha menghindari korupsi yang mungkin saja akan menimpa kita.   
 
 
Sumber Referensi
Baghi, Felix, Alteritas; Pengakuan, Hospitalitas, Persahabatan (Etika Politik dan Postmodernisme), Maumere: Ledalero, 2012.
Semma, Mansyur, Negara dan Korupsi, Jakarta:Obor, 2008
Pari, Kanis, Jangan Takut Berpolitik, Jakarta: Bank Naskah Gramedia, 2004.
 

  • view 66