Parera : Safari dan Wisata Budaya Untuk Pembangunan

Yudel Neno
Karya Yudel Neno Kategori Budaya
dipublikasikan 13 Februari 2018
Parera : Safari dan Wisata Budaya Untuk Pembangunan


Fr. Deodatus Parera (Calon Imam Keuskupan Agung Kupang)
 
Zaman semakin berkembang. Ilmu pengetahuan dan teknologi warisan globalisasi semakin tinggi. Di sinilah, peran semua pihak hendaknya sejalan dengan visi pembangunan kemanusian integral. 

Di bagian lain, pelampauan ekowisata, ekoreligi dan ekobudaya adalah bagian dari modal terbesar yang belum diatur oleh pemerintah secara optimal. Oleh sebagai orang, pemerintah adalah pelayan politik ketimbang masyarakat. Slogan abdi masyarakat hanya sekedar mantel.
Subjek atau pelaku sumber daya manusia seakan telah menciptakan tragedi kemanusiaan yang cukup berat. Panggilan keadilan justeru tanggal di hadapan nasib artefak kebudayaannya sendiri. Untuk itu, artefak sebagai arsenal kebudayaan kita dijauhkan dari simbiosis kapital yang trending tak terbendung. Sementara itu, simbol peradaban kita hendaknya ditafsirkan secara baru. Sebab jikalau tidak demikian maka terciptalah lubang hitam kebudayaan baru.

Lapangan kebudayaan kita pun jangan dibiarkan tanpa kontrol masyarakat. Elit kita yang telah berjanji untuk mengembangkan kebudayaan kita haruslah ditagih secara terus menerus. Karena itu, sebuah pembangunan kebudayaan dibutuhkan partsipasi masyarakat. Partisipasi masyarakat bukanlah halangan terbesar. Pada posisi ini para pemimpin hendaknya dengan terbuka melakukan diskusi publik. 

Diskursus Sebagai Ruang Publik
Habermas menegaskan bahwa ruang publik adalah lapangan kebudayaan kita zaman ini. Filsuf Kontemporer itu membedakan ruang privat dan ruang publik. Ruang privat adalah lapangan masing-masing pribadi yang senantiasa terjadi melalui interaksi dengan budaya, sejarah serta masa depannya. Sedangkan ruang publik adalah tempat di mana terjadinya interaksi yang lebih luas dan penting. Dari kedua ruang ini, dihasilkan wacana tentang kebenaran dan keadilan untuk kebaikan bersama. Dalam wacana kebudayaan, kebenaran adalah keyakinan bersama yang perlu ditegakkan. Sementara
keadilan merupakan kendi untuk dan darinya kebudayaan kita adalah nilai utama yang perlu  dikokohkan. 

Untuk itu, safari budaya dan wisata religi kebudayaan kita serentak sebagai identitas tapi juga jiwa agar badai zaman yang kian berkembang tidak membuat masyarakat menjadi penonton semata melainkan subjek pertama pembangunan.

  • view 45