Parera: Monumen Luka Gusty Fahik

Yudel Neno
Karya Yudel Neno Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 10 Februari 2018
Parera: Monumen Luka Gusty Fahik

Monumen Luka Gusty Fahik

(Resensi Sekumpulan Puisi)

Deodatus D Parera*

Goresan puisi dikumandangkan sekaligus mengundang setiap penyair atau penikmat awam karya sastra pada umumnya untuk melihat dengan mata batin perjumpaan manusia dengan dirinya, Tuhan dan semesta. Adalah hukumnya apabila terdapat multitafsir yang sesungguhnya melekat pada secuil isi tubuhnya. Karena sesudah sebuah karya, penulis telah mati demi kebangkitan multidimensi makna. Kematian penulis dalam bingkai ini bukanlah kematian eksistensial melainkan fungsional untuk tidak memerdekakan secara seluruhnya tanggungjawab penyair dalam mencipta sebuah carikan puisi. Puisi tetap merupakan milik pembaca yang sedang mencari goresan makna namun tetap dimiliki oleh penulisnya sendiri karena terlahir untuk dan dari sebuah kolom kemanusiaan, kebutuhan, kebudayaan, sejarah dan dari kronologi intensional tertentu. Meminjam Bergson, intensionalitas penyair bukan saja cakrawala baru originalitas gagasan yang tumbuh di hadapan pembaca melainkan dari dirinya sendiri sebagai penulis karya. Per-soi-nya makna sudah sejak lalu waktu dikandung dalam rahim pengalaman penyair itu sendiri sebagai an-soi. Karena itu, multimakna bukan sekedar ciptaan pembaca melainkan dapat merupakan  tragedi, ingatan masa lampau, peristiwa dan pengalaman rutinitas penyair itu sendiri. Tidak mengapa bilamana multimakna dalam hasutan postmodern sudah kian bercokol ria dan berakar urat. Sejalan dengan Brentano, karya sastra puisi tersebut mendesain metastruktur tanpa kehilangan objek intensional penyair dan karena itu disebut intentional inexistence yang hanya lahir dari aktivitas pikiran. 

Kita mahfum bahwasannya otoritas kebenaran tidak hanya dimungkinkan hanya oleh segelintir aliran yang berasal dari legitimasi atau katedra tertentu melainkan dari aneka ekspektasi bipolaritas space. Di sini, fase-fase ideologi yang dicanangkan bukan lagi rias sementara dari budak zaman sebagaimana yang ditegaskan oleh Baudrillard melalui konsep hiperrealitas. Sejatinya, apapun yang telah dan sedang mencumbui kita hanyalah kotak Pandora dari ragam liyan yang pernah dibuka Sisiphus, hamba sahaya Zeus. 

Monumen Luka,sekumpulan puisi karya Gusty Fahik (GF) sesungguhnya merupakan tempat pertama dari sejumlah lapangan perjuangan manusia. Tiap-tiap luka dari sumber yang legal maupun illegal, institusional maupun sipil, individual maupun komunal adalah luka-luka kemanusiaan sempurna. Kita tidak dapat menyangkal bahwa ‘luka kemanusiaan’ adalah luka dari seorang manusia, luka sejarah, luka bangsa, luka massa, lukanya sendiri. Luka sebagai belah, pecah, cedera, lecet dan sebagainya (KBBI, 2008) kendati dipulihkan dengan cara medikal atau non medikal sekelas tingkat dewa sekalipun akan meninggalkan bekas dan bekasnya tetap sebagai model untuk membaca sejarah sebagai kekelaman tetapi juga harapan. Itulah prinsip Monumen Luka.  

Jika kita mengangkat persoalan luka kemanusiaan, kita sendiri tidak patuh untuk abai bahwa tragedi atau amnesia tentang masa lalu tidak sekedar tembang kenangan pelipur lara melainkan aktivitas dekonstruksi elan vital kemanusiaan kita sebagaimana yang digagaskan oleh Derrida. Ada peran konstruksi yang disampaikan GF bila merekam sejuta tangisan dan gundah gulana massa. Namun demikian ada metagagasan di sini yakni tanda dan penanda warisan Saussure. Metagagasan itu tetap memiliki kebenaran dan modus operandi-nya selalu merujuk pada situasi penindasan atau pembungkaman yang kelak menimbulkan ketidakadilan yang mewabah. Terlepas dari diskursus tentang keadilan, bukankah luka hendaknya ditinggalkan demi menghadapi masa depan yang selalu akan tiba? Mengapa tidak mampu untuk meninggalkan ‘barang’ yang sudah hilang ditelan waktu? Yang berlalu, biarlah berlalu. Kalau demikian, Monumen Luka di sini bukan sekedar pilihan praksis metanoia melainkan vocatio untuk menjaga dan merawat presensia kemanusiaan kita dari cidera absensia masa lalu yang pernah singgah di gubuk rumah sejarah kita.

Selamat membaca Gusty Fahik. Salam sastra.

*Anggota Komunitas Dusun Flobamora NTT

  • view 72