Membedah Permainan Angka SPBU

Yudel Neno
Karya Yudel Neno Kategori Ekonomi
dipublikasikan 09 Februari 2018
Membedah Permainan Angka SPBU

Pendahuluan
 
Lama sebelumnya, saya selalu memperhatikan ketika mengisi bensin di POM Bensin, saya selalu mengalami angka-angka nilai uang tidak sepadan dengan jumlah bensin yang dikeluarkan, entah skala angka kecil maupun besar nilainya. 
 
Beberapa kali saya mengalami, nilai uang bensin Rp. 20.000 selalu saja lebih dua atau tiga ratus rupiah. Tidak hanya itu, sekali waktu saya karena merasa tidak etis untuk harus memberikan teguran publik, jumlah bensin yang harus diisi dalam tank kendaraan motor saya seharusnya Rp. 60.000, tetapi angka star mesin POM bensin mulai dari Rp. 20.000, akhirnya saya memang sungguh diperbodoh karena memberikan cuma-cuma uang senilai Rp. 20.000 hanya karena perasan tidak etis. 
 
Pertanyaan? Jika banyak pelanggan, berapa nilai yang terkumpul dari dua atau tiga ratus rupiah ini. 
 
Jika banyak pelanggan diperlakukan seperti ini berapa nilai uang Rp. 20.000, yang terkumpul dari banyak pelanggan? Untuk siapakah nilai uang yang lebih ini diperuntukkan.
 
Motif Keuntungan
 
Negara Indonesia merupakan negara berkembang tetapi tidaklah etis jika penghuni-penghuninya memanfaatkan perkembangan ini dengan cara mencaplok bagian orang lain. Karena merupakan negara berkembang, maka dapat diakui bahwa jaminan terhadap kesejahteraan rakyatnya masih dalam taraf-taraf apa adanya. Kondisi apa adanya ini bisa menjadi pemicu bagi para pekerja untuk berniat mengantongi sesuatu yang lebih dari apa yang seharusnya. Inilah motif keuntungan yang bolehdikatakan miris karena cara yang dipakai untuk memperoleh keuntungan tidak berbanding lurus dengan tenaga atau jasa yang dibaktikan. Bukankah ini adalah sebuah penjajahan ekonomis, di mana 
para pelanggan kelihatan tidak berkutik di hadapan publik?
 
Praktek Korupsi Terselubung
 
Motif yang diberlakukan di atas merupakan sebuah fenomen prakter korupsi terselubung. 
 
Menjadi wewenang siapa, untuk harus memperhatikan praktek-praktek kecil sperti ini. Apakah negara ini hanya berkonsentrasi pada praktek korupsi yang lebih besar nilainya sehingga bisa menimbulkan stigma bahwa hukum Indonesia ini lebih peduli terhadap sesuatu yang nilainya lebih besar? 
 
Dimanakah konsentrasi hukum terhadap kandungan praktek menyimpang yang merugikan rakyat 
kecil? Pertanyaan-pertanyaan ini tidaklah sekedar untuk direfleksikan lalu selesai. Melainkan buah refleksi itu harus berbuah pada tindakan yuridis yang lebih lebih menyeluruh dan lebih integral
 
Praktek ini, Motif Struktural?
 
Kalau memang diakui bahwa praktek seperti di atas merupakan praktek terselubung dari para pekerja lalu sejak kapan pihak yang berwewenang atau pimpinan melakukan fungsi kontrol yang lebih ketat dan lebih intens. Jika praktek ini diketahui dan dibiarkan untuk terus terjadi inilah sebuah kejahatan struktural yang berimbas pada pemerasan rakyat kecil. Hemat saya, hukum ini pada prinsipnya anti pemerasan. Pemerasan dalam bentuk apapun, dengan cara apapun, di mana pun, oleh siapapun, dalam situasi apapun, dia harus segera ditindak secara yuridis. Tentunya tidak semua berwewenang untuk melakukan tindakan yuridis tetapi bahwa warga negara Indonesia memiliki hak yuridis dan kewajiban yuridis. Hak yuridis digunakan untuk mengkritisi setiap pelanggaran hukum dan bila perlu menginformasikan menurut prosedur yang berlaku kepada pihak yang lebih berwewenang. Kewajiban yuridis berarti setiap warga negara Indonesia patut taat dan menjalankan hukum yang berlaku di Indonesia. Tuntutan dari kewajiban yuridis ini adalah menjalankannya dengan sadar dan 
kritis.
 
Mari Berbenah
 
Tulisan ini tentunya tidak bermaksud untuk menyudutkan siapapun. Tetapi hemat saya praktek yang menyimpang dari hukum dan memasung kesejateraan umum, bagaimana pun juga tidak boleh dan tidak dapat dibiarkan begitu saja. 
 
Mari kita berbenah. Kita memiliki kewajiban berbenah karena keutuhan dan keberhasilan negara Indonesia yang tercinta ini ada dalam tangan dan paradigma berpikir kita semua. Jangan 
tanyakan apa yang negara ini berikan untuk anda melainkan bertanyalah pada diri, apa yang anda berikan untuk negara. Mari kita berbenah...

  • view 69