Paradigma Baru Dalam Kaca Mata Tahun Baru

Yudel Neno
Karya Yudel Neno Kategori Filsafat
dipublikasikan 25 Januari 2018
Paradigma Baru Dalam Kaca Mata Tahun Baru

TAHUN BARU DAN PARADIGMA BARU
(Sebuah Catatan Kritis)
Fr. Yudel Neno
 
Menyimak Kebiasaan Lama
 
Waktu berubah tanpa persetujuan manusia. Manusia pun berubah seturut perjalanan waktu. Ini berarti, waktu ada kaitannya dengan tindakan perubahan manusia. 
Banyak kebiasaan dipertahankan seiring dengan perubahan waktu. Menjelang tahun baru, banyak orang ramai-ramai sibuk dengan segala urusan. Ada yang kembali ke kampung halaman, ada yang bergotong royong menyiapkan kue, adapula yang berkumpul bersama untuk merencanakan pesta bersama, adapula yang menghabiskan sejumlah uang untuk membeli kembang api dan petasan. Perubahan seperti ini lebih kepada kesibukan yang sifatnya momental. 
Kebiasaan seperti di atas tentu tidak salah. Tetapi atas terang refleksi kritis, sesederhana itukah kita memperlakukan waktu? Adakah pesan bahwa tahun baru adalah tahun pemborosan? Layakkah kita mengawali tahun baru dengan mental dan tindakan berboros-borosan? 
 
Waktu Menyimpan Sejumlah Pertanyaan
 
Masih adakah waktu jika sebuah jam dinding habis baterainya? Masih adakah waktu jika sebuah jam tangan hilang seusai berdoa? Masih adakah waktu, jika sebuah hp hilang perangkat lunak pengukur waktu? Masih adakah waktu, jika pagi, siang dan malam berlalu silih berganti? Benarkah bahwa waktu adalah soal tentang pertanyaan-pertanyaan? 
 
Waktu dan Manusia
 
Allah adalah Sang Waktu, karena itu, waktu adalah keabadian. Manusia hidup dalam waktu tetapi manusia bukanlah waktu. Manusia memiliki jam tangan dan jam dinding tetapi manusia bukanlah pemilik waktu. Manusia adalah ada yang terpecah-pecah dalam waktu. Manusia hidup dan melewati tiga dimensi waktu. Ia tidak dapat hidup dan beraktivitas sekaligus dalam tiga dimensi waktu. Terhadap tiga dimensi waktu ini, tuntutannya ialah ia mesti bertahap-tahap. Inilah suatu situasi keterpecahan manusia dalam waktu. Situasi keterpecahan ini menuntut manusia untuk merangkaikannya menjadi satu kekayaan. 
 
Waktu dan Mental
 
Perubahan waktu menuntut mental baru. Mental merupakan bahasa jiwa. Sebagai bahasa jiwa, mental tampak melalui akal budi, perasaan dan kehendak bebas. Tak satu pun akal budi, perasaan dan kehendak bebas beraktivitas di luar waktu. Demikian juga tak satupun ketiga unsur di atas terlepas dari aktivitas nyata. 
Mental menyangkut batin; watak; yang bukan bersifat badan atau tenaga. Mentalis : berkaitan dengan cara-cara tertentu yang diyakini dapat menguasai alam pikiran dan tingkah laku manusia. Mentalitas berarti keadaan jiwa (batin). Bersinonim dengan: batin, intelektual, kejiwaan, kerohanian, moral, psikis, psikologis, serebral. Singkatnya mentalitas berkaitan dengan karakter, personalitas, sifat, watak.
Seorang pekerja cerdas dan keras, ia disebut demikian karena digerakkan oleh kondisi mental yang stabil. Seorang mahasiswa tekun belajar karena ia digerakkan oleh kondisi mental berupa penggapaian cita-cita. 
 
Waktu dan Tindakan
 
Mental ada kaitannya dengan tindakan. Labilnya kondisi mental melahirkan pula labilnya tindakan nyata. Arah gerak dari mental menuju tindakan berlangsung dalam perjalanan waktu. Waktu bukanlah tindakan tetapi tindakan berlangsung dalam perjalanan waktu. Setiap tindakan perlu dilakukan menurut waktunya masing-masing. Dengan demikian, waktu menuntut pula perubahan tindakan agar ada kecocokan. Waktu baru menuntut suatu tindakan baru. Dengan demikian, waktu pada hakekatnya adalah hidup melalui tindakan-tindakan manusia. 
   
Waktu dan Kebijaksanaan
 
Aristoteles menyebutkan dua jenis kebijaksanaan yakni kebijaksanaan teoretis dan kebijaksanaan praksis. Pemahaman terhadap banyak teori dan dipadukan dengan teori lain hingga ditemukan kebenaran, inilah kebijaksanaan teoretis. Apa yang diketahui sebagai kebijaksanaan teoretis dan diwujudnyatakan dalam tindakan praksis, inilah kebijaksanaan praksis. Kebijaksanaan praksis berkaitan erat dengan tindakan praksis. Tidak semua tindakan praksis disebut sebagai kebijaksanaan. Karena bijak selalu ada kaitannya dengan benar dan baik. Benar berarti sesuatu ada kesesuaian antara yang diketahui dan kenyataan. Baik berarti sesuatu ada kesesuaian antara hati nurani, tindakan dan hukum moral. 
Proses dari pengetahuan menuju pada kenyataan, proses dari tindakan menuju pada hukum moral membutuhkan waktu. Kalau orang benar dan baik, ia tidak hanya hidup dalam waktu tetapi ia memanfaatkan waktu. Pemanfaatan waktu secara benar dan baik menunjuk pada figur yang bijaksana.   
 
Waktu dan Kebersamaan
 
Berada selalu berada dalam waktu. Waktu bukanlah milik pribadi seseorang. Waktu pun bukanlah milik segelintir orang. Cara yang paling tepat untuk memiliki waktu adalah dengan memanfaatkannya entah secara individual maupun secara kolegial. Pemanfaatan secara individual pun tidak boleh melebihi batas. Demikian juga pemanfaatan secara kolegial pun tidak boleh menyepelekan kepentingan individual. Pemanfaatan waktu secara tepat merupakan titik temu antara kepentingan individual dan kepentingan kolegial. Dengan demikian, kebersamaan bukanlah penyangkalan terhadap kepentingan individual dan pemenuhan kepentingan individual bukanlah penyangkalan terhadap kepentingan kolegial. 
Pemahaman ini mengantar kita pada kebersamaan pertama-tama sebagai suatu situasi yang tuntutannya adalah adanya kesamaan persepsi terhadap keberagaman. Kebersamaan bukanlah kesamaan. Kita bersama tetapi kita tidak sama. Kita boleh hadir dalam waktu yang sama tetapi tidak berarti kita sama. 
 
Waktu adalah Cara dan Aktivitas
 
Entah apapun permenungannya, waktu bukanlah angan-angan semata. Waktu adalah suatu situasi yang perlu diisi. Karena waktu bukanlah benda maka pertama-tama perlu dipahami bahwa segala cara dan tindakan mestinya ada kesesuaian melalui persamaan persepsi. Cara dan aktivitas boleh berbeda, yang penting atas persepsi yang sama, cara dan aktivitas itu menuju pada maksud yang sama. 
Dapat pula dikatakan bahwa cara dan aktivitas merupakan strategi waktu untuk mendekatkan diri dengan manusia. Dalam arti ini, waktu untuk menampakkan dirinya, ia selalu ada kaitan dengan  manusia. Walaupun tentang hakekat keberadaannya, waktu tidak memerlukan manusia. 
 
Waktu Menuntut Paradigma Baru
 
Mental bertindak sendiri seperti ini, sebenarnya tidaklah cocok untuk komunitas. Karena itu, syarat bagi sebuah komunitas adalah persamaan persepsi. Persamaan persepsi ini diwujudkan melalui komitmen bersama. Komitmen bersama ini adalah suatu komitmen untuk berubah. Perubahan ini pun makin original, jika terjadi sebagai daya dorong dari dalam. 
Inilah suatu paradigma baru bahwa untuk berubah unsur penggerak pertama dan utama adalah kemauan. Kemauan yang kuat melahirkan komitmen yang kuat pula. Walaupun komitmen selalu dibicarakan dari waktu ke waktu tetapi dalam terang tahun baru paradigma tentang komitmen hidup akan kembali baru jika didahului dengan persamaan persepsi.

  • view 44