Membangun Semangat Baru dalam Bingkai Natal

Yudel Neno
Karya Yudel Neno Kategori Filsafat
dipublikasikan 24 Januari 2018
Membangun Semangat Baru dalam Bingkai Natal

Fr. Yudel Neno 
(Anggota Forum Areopagita Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui Kupang)
 
Merayakan Hari Raya Natal adalah bagian dari pemakluman iman dalam bentuk perayaan. Kita dapat memperhatikan betapa sibuknya umat beriman untuk menyongsong natal. Gaung nyanyian, bunyi-bunyian dan segala kesibukannya lainnya didendangkan ibarat bersahut-sahutan demi menyongsong Hari Raya Natal. 
 
Para Polisi pun mulai siap siaga memperkuat barisan dan pembagian tugas untuk mengamankan Hari Raya Natal. Kerlap-kerlip sinar lampu menghiasi gerbang toko-toko, rumah-rumah dan tempat umum lainnya. Dompet orang tua pun mulai menipis demi tuntutan akan segala perlengkapan yang selalu baru adanya. Halaman-halaman perumahan mulai dibersihkan serapih mungkin. Pertemuan-pertemuan dilakukan silih berganti di berbagai tempat. 
Pertanyaannya? Apakah ini Natal yang sesungguhnya? Benarkah bahwa Natal adalah sebuah momen untuk sibuk? Adakah kita merenungkan tentang orang-orang yang tersebab miskin dan derita situasi menyongsong natal justeru dirampas oleh gejolak bathub mereka? Adakah keyakinan bahwa momen Natal ini akan membawa pencerahan bagi kekecewaan politik?
 
Menyongsong natal membutuhkan semangat kebersamaan. Sebagai insan beriman, kita tidak hanya ada bersama tetapi kita juga hidup bersama. Natal yang sesungguhnya adalah perayaan tentang dan demi hidup bersama. Natal adalah hidup dan hidup itu adalah hidup bersama. Semangat menyongsong natal adalah semangat hidup bersama karena itu sudah tiba saatnya bagi kita untuk menjadikan kasih sebagai dasar dan jaminan hidup bersama. Ketika kasih menjadi dasar dan penggerak, segala perbedaan akan menjadi kekayaan. Atas kasih, kita mampu menembus segala konflik.
 
Propinsi NTT ini juga sedang dalam situasi suksesi politik. Tuntutan tanpa paksaan adalah kita perlu mempersiapkan natal dalam kondisi bathin yang stabil dan menghindari jauh-jauh situasi dan praktek perpecahan. Segala cara yang dipakai dalam promosi-promosi politik harusnya tidak boleh lupa akan etika politik. Taat akan etika politik adalah salah satu cara para politisi untuk mempersiapkan natal dengan baik. 
Partai-partai politik, tokoh-tokoh politik serta umat lainnya pun tidak perlu berusaha menjadi Katolik melalui menyongsong dan merayakan natal. Natal juga tidak perlu dijadikan sebagai peluang yang paling tepat untuk melancarkan politik uang demi menarik perhatian umat beriman.
 
Bagi Umat Katolik khususnya, menyongsong natal akan menjadi ibarat sebuah refrein lagu jika cara untuk menyongsong natal tidak ditunjukkan melalui praktek hidup yang penuh kasih. Hari raya natal akan menjadi ibarat lagu-lagu yang dinyanyikan pada berbagai tempat lalu setelah itu tinggal menunggu tahun berikutnya untuk dinyanyikan. 
 
Natal adalah situasi keselamatan yang tampak melalui kasih dan hidup bersama yang rukun. Karena itu cara dan situasi mempersiapkan natal tidak boleh melenceng dari maksud luhur ini. Cara adalah perayaan iman dalam bentuk perayaan. Segala perayaan kecil lainnya yang dilakukan hanya sebagai cara-cara kecil demi tiba pada momen Natal tidaklah salah. Layaklah bahwa sebagai manusia, cara-cara manusiawi tetaplah terhormat demi menyongsong perayaan yang luhur ini.
 

  • view 83