TARIAN PEDOA

YOSEPH KANA
Karya YOSEPH KANA Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Februari 2018
TARIAN PEDOA

 

TARIAN PEDOA
***
Tarian pedoa dari jaman dahulu hinga sekarang ini juga merupakan tarian ritual dari masyarakat Sabu Raijua. Tarian pedoa ini sering di lakukan oleh masyarakat pada penghujung musim hujan dan setiap malam bulan purnama. Tarian pedoa yang biasanya dilakukan oleh masyarakat sabu raijua baik pria maupun wanita dalam hal ini tua atau mudah mereka akan berkumpul menjadi satu formasi lingkaran dan juga menari di sertai dengan nyanyian yang berisi doa-doa atau pujian kepada Tuhan yang di nyanyikan oleh seseorang yang bernama Lado djara dan Doro Didi. Selain digunakan dalam upacara spiritual, tarian ini juga sering digunakan oleh kaum mudah untuk mencari jodoh.Dalam hal ini tarian pedoa biasanya banyak diikuti oleh kaum mudah baik laki-laki maupun perempuan sehingga dapat menjadi sarana dalam saling mengenal satu sama lain.
***
Di sabu raijua, pedoa ini di temukan oleh dua orang relawan yang bernama Dida Miha dan Lado Miha. Bagi masyarakat sabu Tari Pedoa ini tentu memiliki makna khsus didalamnya, salah satunya untuk mendekatkan diri kepda Tuhan dan juga ungkapan rasa syukur atas nikmat yang di berikan Tuhan kepada mereka. Selain itu Taian Pedoa ini juga merupakan salah satu tarian atau media dalam mempererat persatuan dan kebersamaan mereka. Hal tersebut dapat dilihat dari bentuk tarian ini, dimana mereka akan berkumpul dan menari bersama tanpa membedakan jenis kelamin merupakan status sosial mereka.
***
Tarian pedoa ini dilakukan secara masal dan dapat dilakukan semua orang, baik itu pria maupun wanita. Dalam pertunjukan tarian pedoa ini, biasanya para penari menggunakan pakian adat dan di lengkapi juga dengan wadah anyaman di kaki mereka. Wadah anyaman ini biasanya di isi dengan kacang hijau yang merupakan hasil panen dari kebun. Selain untuk menghasilkan suara, konon apabila setelah menri biji kacang hijau tersebut masih utuh,maka dipercaya memeliki kualitas yang baik dan akan di tanam pada musim berikutnya.
Dalam pertunjukannya,biasanya diawali dengan para penari berbaris dengan 2 barisan dan berjalan menuju ke arena dengan di pimpin oleh dua orang yang membaca syair tersebut Lado Djara dan Doro Didi. Saat menuju ke arena,penari berjalan dengan gerkan tangan yang khas dengan gerakan kaki agar suara wadah tetap berbunyi.Setelah itu cara berpegangan tangan mereka di ubah menjadi lebih renggang sehingga menghasilkan lingkaran yang lebih besar.Dalam babak ini penari sambil menghentakan kaki,mereka juga ikut menyanyikan syair yang dipimpin oleh dua seorang pembawa penyair.Setelah selesai kemudian penari keluar arena dengan formasidengan gerak yang sama seperti saat masuk tadi.
***
Dalam pertujukannya tari padoa secara umum hanya di iringi dengan nyayian syair dari seorang dua orang Lado Djara dan Doro Didi pembawa penyair saja. Selain itu untuk suara musik hanya berasal dari suara musik wadal di kaki penari saja. Namun ada juga yang manambahkan alat musik tradisonal seperti gong dan tambur untuk mengeringi tarian sebagai variasi agar pertunjukan kelihatan lebih menarik.
***
Dalam pertunjukannya, penari biasanya dibalut /menggunaka pakian adat. Untuk penari wanita biasanya menggunakan kain khas (di sebut Ei) yang diikat sabatas dada dan menutupi kaki. Untuk rambut biasanya dikonde gaya khas Sabu. Selain itu penari wanita juga dilengkapi dengan akses horis seperti, gelang, anting, kalung, dan ikat pinggang berwarna perak. Sedangkan untuk penari pria biasanya menggunakan kain khas yang sebut juga dengan higi hori di ikatkan diperut dan menutupi hingga lutut. Pada tubuh bagian atas biasanya mengunakan kain khas Higi hori namun dibuat selampang. Sedangkan bagian kepala biasanya penari pria menggunakan dastar yang sebut wila hipora. Para penari baik pria maupun wanita menggunakan wadah berisi kacang hijau yang dipasang dan diikat dikaki mereka.
***
Dalam perkembangan tarian pedoa ini masih terus dijaga dan lestarikan oleh masyarakat sabu raijua. Selain digunakan untuk acara adat tari pedoa juga sering ditampilkan diberbagai acara seperti penyambutan tamu penting, pertunjukan seni dan vestival budaya. Tari pedoa ini juga dijadikan sebagai salah satu daya tarik wisata bagi para wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang datang kesana. Hal ini merupakan salah satu cara untuk masyarakat sabu raijua dalam mempertahankan dan memperkenalkan kepada masyarakat luas akan warisan budaya yang mereka miliki.
***
SEKIAN PENGENALAN TENTANG “TARI PADOA TARIAN TRADISIONAL DARI SABU RAIJUA, NTT”.

 

 

 

 


Naskah Drama

Pada jaman dulu di sabu raijua tarian pedoa ini merupakan salah satu adat istiadat yang sangat penting dan juga dilaksanakan untuk menyambut hari panen dan mencari jodoh.mereka melakukan tarian pedoa ini pada malam hari dengan nyanyian yang di pimpin oleh lado djara dan doro didi. Hal tersebut dapat dilihat dari bentuk tarian ini, dimana mereka akan berkumpul dan menari bersama tanpa membedakan jenis kelamin merupakan status sosial mereka.
Lado djara : bagaimana kalau kita melakukan tarian adat ini dengan baik
Doro didi : ya, betul itu.
Lado djara : tarian pedoa biasanya banyak diikuti oleh kaum mudah baik laki-laki maupun perempuan sehingga dapat menjadi sarana dalam saling mengenal satu sama lain.
Dida miha : Tari Pedoa ini tentu memiliki makna khsus didalamnya,yang pertama kita selalu mendekatkan diri kepada Tuhan dan juga mengucap syukur atas apa yang di berikan oleh Tuhan.
Lado miha : selain itu juga,kita semua saling mempererat persatuan dan kebersamaan.
Lado djara : Tarian pedoa ini harus dapat dapat dilakukan oleh semua orang
Dida miha : dalam tarian pedoa ini, semua para penari menggunakan pakian adat dan harus lengkapi dengan wadah anyaman pada di kaki mereka.
Lado miha : (lado miha bertanya kepada dida miha) kenapa harus menggunakan wadah anyaman pada kaki?
Dida miha : Wadah anyaman ini biasanya di isi dengan kacang hijau yang merupakan hasil panen dari kebun.
Lado djara : kita semua menuju ke arena(dan penari berjalan dengan gerkan tangan)
Doro didi : suara musik hanya berasal dari suara musik wadal di kaki penari saja.

Akhirnya tarian pedoa ini juga dijadikan sebagai salah satu daya tarik wisata bagi para wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang datang kesana sabu. Hal ini merupakan salah satu cara untuk masyarakat sabu raijua dalam mempertahankan dan memperkenalkan kepada masyarakat luas akan warisan budaya yang mereka miliki sampai sekarang.

 

  • view 106