Membuat Cerpen

Yoprian -
Karya Yoprian - Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Oktober 2016
Membuat Cerpen

Membuat Cerpen

Yoprian

 

            “Anak-anak hari ini kita akan belajar membuat cerpen. Ada yang tahu apa itu cerpen?” Pak guru memulai pelajaran dengan memancing pengetahuan murid-muridnya.

“Tahu, Pak” ucap murid-murid serentak, semuanya tampak semangat dan antusias dengan pelajaran. “Baiklah, kalau begitu siapa yang bisa menjelaskan apa itu cerpen?”. Semua murid berlomba-lomba mengangkat tangannya, “saya Pak, saya Pak, saya!”. Pak guru tidak mau kalah semangat dengan anak-anak muridnya, ia menoleh ke kiri-kanan, memilih anak yang akan menjelaskan pertanyaannya. “Baiklah, kalau begitu Andi coba kamu jelaskan apa yang kamu ketahui mengenai cerpen”.

            Andi segera berdiri kegirangan karena ia yang dipilih, “Cerpen itu adalah singkatan dari cerita pendek, Pak”. Setelah menjawab dengan sepucuk kalimat, Andi segera duduk di kursinya. Hahahha.. semua siswa tertawa, setelah Andi usai menjawab. “Ya iyalah, Ndi. Semua orang juga tahu kalau cerpen itu cerita pendek. Masa cerita panjang” salah satu siswa mengejek sambil tertawa.

            “Sudah-sudah, Deri. Kita tidak boleh mengejek teman, kita harus saling menghargai pendapat orang lain”. “Iya, Pak” ucap Deri disertai menganggukkan kepalanya setelah mendengar nasehat dari pak guru. “Anak-anak, mari kita beri tepuk tangan kepada Andi yang telah berani mengemukakan pendapatnya”. Semua siswa, termasuk Deri memberikan tepuk tangan kepada Andi yang telah membagi pengetahuannya.

Agar Andi tetap percaya diri dengan jawabannya, pak guru lebih memilih untuk menjelaskan sendiri apa itu cerpen kepada murid-muridnya. “Anak-anak, benar kata Andi kalau cerpen itu, singkatan dari cerita pendek. Cerita pendek adalah ...” Pak guru menjelaskan sepintas mengenai cerpen, dengan kepiawaiannya mengajar semua murid  terfokus ke arahnya. “Sekarang siapa yang mau memberikan contoh?”.

“Baiklah anak-anak. Pelajaran kita hari ini cukup sampai di sini dulu. Untuk tugas di rumah, semuanya wajib membuat sebuah cerpen karangan sendiri”.

“Baik Pak” jawab semua murid.

“Minggu depan, kita akan belajar membaca cerpen. Jadi jangan lupa untuk membuat cerpen sebagus-bagusnya.”

“Untuk pelajaran hari ini, siapa yang mau memberikan kesimpulan mengenai ilmu yang telah kita dapat?”. “Saya Pak” ucap salah seorang siswa perempuan. “Baiklah, Septi silahkan berdiri untuk memberikan kesimpulan”. Septi segera berdiri dan memberikan kesimpulan. “Baiklah teman-teman, kesimpulan dari pelajaran hari ini adalah ...” Setelah Septi selesai memberikan kesimpulan, semua murid memberinya tepuk tangan.

“Ber-di-ri!” ketua kelas memimpin teman-temannya untuk melakukan penutupan pembelajaran. “Terimakasih atas ilmunya hari ini Pak,” semua siswa menundukan kepalanya, memberi penghormatan dan ucapan terimakasih.

Setelah selesai berdoa sebagai rasa syukur atas ilmu yang telah didapat, mereka mengucapkan salam bersama-sama. “Assalamuallaikum waromatullahi wabarokatu.”

Semua siswa beranjak dari lokal dengan riang. Suasana sekolah menjadi ramai. Ada yang bernyanyi-nyanyi, ada juga yang masih membahas pelajaran membuat cerpen sebelumnya. “Terimakasih ya Allah, aku akan menceritakan pelajaran hari ini ketika pulang nanti” gumam Septi di dalam hati.

***

            Satu minggu telah berlalu, pelajaran dengan pak Budi akhirnya berlanjut lagi. Pelajaran dibuka seperti biasa. Setelah salam, pak Budi membahas singkat mengenai pelajaran di minggu sebelumnya. Kemudian memberitahukan manfaat serta motivasi terhadap pelajaran yang akan dipelajari.

            “Anak-anak, semuanya sudah selesai membuat cerpennya masing-masing?”. “Sudah Pak”, jawab semua murid selalu bersemangat jika belajar dengan pak Budi. “Baiklah. Siapa yang pertama, mau membacakan cerpennya di depan?.”

            “Saya Pak, saya Pak,” semua murid berlomba-lomba mengangkat tangan, berharap akan dipilih.

“Septi, kamu yang pertama membacakan cerpen di depan”.

“Baik Pak”, balas septi lalu berjalan ke depan kelas. “Pak, apa boleh saya membacakan cerpen karangan adikku? Aku telah berjanji kepadanya.” Septi berbisik meminta izin kepada pak Budi.

Pak Budi mengizinkan Septi untuk membacakan cerpen karangan adiknya. “Anak-anak mari kita dengarkan cerpen karangan adik Septi, yang akan dibacakan di depan. Tapi saat Septi membaca nanti, jangan ada yang ribut ya”. “Iya Pak” balas semua murid.

            Septi mulai membaca. “Terimakasih Pak Guru. Melin”.

Namaku Melin Ariana, umurku duabelas tahun. Aku hidup bertiga, dengan ayah dan kak Septi. Ayah selalu sibuk bekerja setiap harinya, apalagi setelah ibu meninggal. Ayah tidak pernah lagi mau bermain bersamaku ataupun dengan kakak.

            Ketika kakak pergi ke sekolah, aku hanya tinggal sendirian di rumah. Rasanya sepi dan membosankan, aku bersyukur ibu dan kakak pernah mengajariku membaca. Aku suka membaca. Aku tidak hanya membaca buku cerita atau dongeng, aku juga sering membaca buku-buku pelajaran kakak dan buku catatannya.

            Sebenarnya aku juga ingin pergi ke sekolah, tetapi tubuhku tidaklah sempurna. Sejak lahir, aku tidak bisa menggerakan kedua kakiku. Ayah dan ibu pernah membawaku ke dokter untuk berobat, tetapi uang ayah tidak cukup untuk menebus biayanya. Ketika anak seumuranku mulai sekolah, ayah tidak mengizinkanku ikut seperti mereka. Karena kata ayah, anak-anak sepertiku membutuhkan perlakuan khusus dan itu membutuhkan biaya yang lebih besar. Sedangkan kami hanya hidup cukup-berkecukupan, seadanya.

Kakak dan almarhumah ibuku,  mengajariku berhitung, membaca, bernyanyi, menggambar, dan ilmu agama. Lagu A B C saat ibu mengajariku dulu, aku sangat menyukainya. Hingga sekarangpun aku masih sering menyanyikannya.

A B C D E F G

H I J K L M N O P

Q R S

T U V

W X Y dan Z

Sekarang aku tahu

Apa itu A B C

Septi menyanyikan bagian cerpen, yang berisi lirik lagu tersebut.

Tetapi setelah ibu meninggal, semua pekerjaan ibuku menjadi tanggungjawab kak Septi. Ayah selalu bekerja, ia pergi pagi dan pulang sudah larut malam. Itupun ketika ayah pulang, ia hanya mandi kemudian makan, lalu tidur untuk istirahat. Ayah hampir begitu terus setiap harinya, sesekali ayah libur bekerja. Ia hanya terbaring beristirahat, ketika aku mau mengajaknya bermain. Ayah hanya mengatakan “Ayah sedang lelah Nak.”

“Ibu, aku sangat merindukan ibu.” Kasih sayang ibu, pelukkan ibu, suara ibu, wajah ibu, tak sedikitpun hilang dalam ingatanku. Terutama ketika  aku merasa bosan atau kesepian, bayang-bayang ibu selalu muncul tersenyum untuk menghiburku. Meski yang terjadi, air mataku menetes. Tetapi aku selalu berusaha “aku tidak boleh bersedih, karena jika aku bersedih maka kak Septi juga akan ikut bersedih. Aku tidak mau kak Septi menjadi sedih.”

            Kakak terimakasih karena telah merawatku. Kak Septi yang memandikanku, memakaikan aku baju, menyuapiku makan, membacakan dongeng, mengajakku sholat, dan semua hal lainnya yang tidak bisa untuk kulakukan sendiri. Aku tahu kakak juga lelah setelah pulang sekolah, kak Septi lelah setelah beres-beres rumah. Terimakasih kak, kakak selalu menceritakan cerita-ceritanya di sekolah, memberiku semangat, meski kakak telah letih, kelelahan.

            Air mata Septi menetes ketika membacakan cerpen karangan adiknya. Begitu juga dengan murid-murid lain yang mendengarkan, hingga pak Budi-pun, semuanya ikut terharu. Terbawa suasana kisah itu.

            Ketika kakak sakit, aku sangat sedih dan takut jika kakak akan pergi seperti ibu tiga tahun yang lalu. Meski tidak bisa melakukan banyak hal, tetapi aku selalu berusaha untuk membantu kakak. Membuatnya tersenyum saja, aku sudah sangat bahagia. Bahkan meski hanya bisa berdoa, aku akan terus berdoa. Berharap semoga Tuhan mengabulkan doaku untuk menjaga kakak,  ayah, dan ibu di surga.

Ya Allah, aku harap kami bisa bernyanyi bersama, untuk selamanya. “a b c d e f g, h i j k l m n o p, q r s, t u v, w x y dan z, sekarang aku tahu. Apa itu a b c.”

Septi menyanyikannya, meski terbata-bata, meski air mata terus mengalir. Meski haru tak terbendung dalam hatinya, ia terus akan terus bercerita.

            Hari ini kak Septi menceritakan kisahnya di sekolah, seperti biasa ia bercerita kepadaku. Ia menceritakan pelajaran membuat cerpen, “Pelajaran dari pak Budi” katanya. Aku sangat suka belajar pelajaran membuat cerpen ini.

            Ketika kak Septi telah selesai mengajariku, dan aku telah mengerti. Aku benar-benar ingin membuat cerpen karanganku sendiri. Aku ingin sekali menceritakan kisah-kisahku di rumah kepada semua orang. Kepada kak Septi, kepada pak guru, dan kepada semua teman-teman kakak di sekolah.

            Aku ingin menceritakan, jika aku gadis yang pemberani, jika aku gadis yang baik, jika aku gadis yang rajin, jika aku ...

            Septi terus membacakan cerpen karangan adiknya. Sudah tidak terhitung berapa banyak air matanya menetes. Bahkan dalam beberapa saat ia menangis terisak-isak. Hingga ke bagian akhir.

            Pak guru, aku mohon jaga kakakku di sekolah. Aku sangat menyayangi kakak. Aku tidak mau kakak pergi seperti ibu. Pak guru, aku mohon jangan  jewer kakak jika ia lupa membawa buku. Pak guru, aku mohon jangan cubit kakak jika ia lupa membuat tugas. Pak guru, aku mohon jangan hukum kakak jika ia terlambat. Pak guru, aku mohon nasehati kakak jika ia nakal. Pak guru, terimakasih.

            Pak Budi ikut meneteskan air matanya saat mendengarkan cerpen yang dibacakan Septi. Saat mendengar permohonan-permohonan sang adik mengenai kakaknya, saat permohonan untuk menasehati kakaknya jika ia nakal, dan ucapan terimakasih.

“Aku akan menitipkan cerpenku ini kepada kakak, dan semoga saja pak guru mau membacanya. Amin.”

  • view 185