Demokrasinya keluargaku

Yohana Siallagan
Karya Yohana Siallagan Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 10 September 2016
Demokrasinya keluargaku

Keluarga adalah tempatku berkembang. Seperti apa aku saat ini adalah gambaran dari keluargaku, hasil didikan ayah dan ibuku.

Aku hidup dengan ayah dan ibu beserta kedua kakak ku. Aku adalah anak bungsu dalam keluarga. Aku memiliki ayah dan ibu yang sangat sangat baik. Bagiku mereka bukan sekedar orangtua tetapi sekaligus menjadi sahabat dan guru. Aku memiliki dua orang kakak yang sangat baik. Kakak pertama sudah bekerja di sebuah perusahaan minyak dan kakakku yang kedua sebagai dokter. Jadi aku adalah si bungsu dalam keluarga ini.

Setiap hari, kami dididik ayah dan Ibu dalam ajaran dan disiplin tinggi. Terus terang aku bangga sekaligus  sangat salut bagaimana ayah dan Ibuku mendidik kami anak-anaknya dengan luar biasa. Ayah, selalu mengajarkan kami untuk kerja keras. Setiap hari sepulang kerja, beliau tidak pernah lupa menanyakan bagaimana perkembangan kami di sekolah, sampai beliau turun tangan mengajari saya dan kakak ketika mengerjakan tugas. Ayah selalu menanyakan apakah ada permasalahan di sekolah. Ketika kami ingin keluar rumah, beliau selalu mengajarkan pentingnya waktu dan izin, jadi kalau ingin keluar rumah harus dengan tujuan yang jelas. Jam berapa pulang dan bersama siapa sehingga orangtua tidak khawatir.

Sang ibu yang selalu memberikan kasih sayang yang tak berkesudahan bagi kami. Senyum dan tangannya yang lembut selalu membuatku nyaman disisinya. Aku masih ingat betul ketika makan malam tiba, Ibu tidak pernah lupa menanyakan menu apa yang kami inginkan untuk esoknya. Dengan senang hati, Ibu akan memasakkannya untuk keluarganya. Ibarat benda, Ibu adalah air yang selalu mengalir untuk kami anak-anaknya. Ibu menjadi batu sandaran sekaligus penyemangat dalam hidup kami sedangkan ayah datang sebagai pemimpin yang demokratis.

Sampai saat ini, sistem demokrasi itulah yang saya ambil untuk diri saya sendiri. Ayah tak pernah melarang melakukan hobby kami asalkan bersifat positif. Kami bebas berorganisasi dan melakukan apapun. Bahkan ketika memilih jurusan kuliah, aku bebas menentukan mana yang menjadi pilihanku tetapi telah dirundingkan dahulu dengan keluarga. Mereka pasti menyetujuinya dengan alasan yang rasional. Apakah nilai akademik mendukung, skill yang mumpuni sampai pekerjaan dimasa depan nantinya. Setelah dirundingkan dengan keluarga, barulah keputusan diberikan kepadaku.

Kebebasan itu adalah kepercayaan dari ayah yang harus dipegang baik-baik. Ayah  tidak pernah absen untuk bercengkrama dengan anak dan istrinya,  kami membahas masalah pendidikan sampai pekerjaan, bahkan aku bisa dengan bebas mengajukan pendapatku. Kadang kami beradu pendapat dan ayah tidak lupa untuk selalu memberikan nasihat untuk kami anak-anaknya. Aku masih ingat betul ketika SD, ayah mengajak saya menanam pohon didepan rumah, beliau mengajarkan saya untuk mencintai lingkungan. Beliau menanamkan rasa tanggungjawab sekaligus disiplin. Kami tidak boleh membuang sampah sembarangan, menanam tumbuhan sampai harus menanam pohon sekali setiap 6 bulan.

Sang ibu selalu mengajakku ke pasar, kemudian beliau selalu mengajarkanku banyak hal, untuk tidak mengeluh, harus ramah kepada orang, dan harus bisa menjaga diri sendiri. Aku pernah merengek minta dibelikan seekor anak anjing kepada Ibu. Ibu membelinya dengan syarat aku harus rajin merawat dan memberinya makan. Aku langsung menyetujuinya. Ibu mengajarkan rasa sayang terhadap binatang.  

Ayah dan Ibu selalu memberikan kenangan manis dalam memori saya dan mereka adalah orangtua yang saya kagumi, selalu. Saya bisa belajar banyak hal dari mereka berdua. Mereka adalah hadiah terindah dari Tuhan  yang membuat sehidup sesurga dalam setiap detik dalam hidup saya. Orang yang selalu mendidik saya dengan bijaksana dan cinta kasih sehingga berhasil menjadi manusia. Aku sangat bangga pada kedua orangtuaku yang demokratis dan bersikap terbuka. Mereka menerima saya dan tidak pernah lelah untuk mendidik saya.

Untuk ayah dan Ibu, aku bangga menjadi anakmu dan izinkanlah saya membahagiakan kalian kelak. Doa kalian selalu mengiringi perjalanan saya. Saya berjanji, saya akan menjadi orang yang demokratis terhadap anak saya nantinya. Terimakasih untuk cinta dan pengorbanan kalian selama ini. Aku mencintai Ayah dan Ibu.

 

***

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam writing challenge “Hidup Sesurga “

  • view 210