[Opini Yessy] Passion dan Eksistensi Diri

Yessy Niarty
Karya Yessy Niarty Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Maret 2017
[Opini Yessy] Passion dan Eksistensi Diri

Salah satu bahasan yang cukup sering gue tulis adalah passion, karena perjalanan gue dalam menemukan passion itu benar-benar berkesan dan mengubah hidup gue. Tapi kali ini gue bakal ngebahas dengan lebih serius lagi dan bakal ditambah dengan pembahasan krisis eksistensi diri yang sempat terjadi pada saat gue menginjak usia 20an.

Gue pengen kilas balik ke masa di saat gue berusia 17 tahun dengan posisi gue yang akan lulus SMA dan wajib mulai mikir gue mau kuliah di mana dan ambil jurusan apa. Boro-boro tahu passion gue apa, saat itu gue bahkan belum kenal kata 'passion'. Gue pengen jujur, saat itu gue adalah seseorang yang sangat berambisi. Gue pengen kuliah di kampus keren dan jurusan gue juga harus keren, salah satunya gue berambisi ngambil jurusan teknik. Gue cukup beruntung karena sebelum Ujian Nasional, gue udah dapat jaminan full scholarship di kampus negeri yang bakal nerima gue nanti. Jadi, salah satu ambisi gue buat bakal diterima kampus keren skala nasional udah terwujud. Nah, tinggal jurusannya aja lagi. Terus gue mulai deh ikut bimbingan belajar, latihan soal-soal masuk universitas, dan nyari info beberapa jurusan teknik, di mana salah satu impian gue waktu itu Teknik Geologi dan Teknik Kimia. Kenapa? Karena gue jurusan IPA, dan gue senang banget sama pelajaran Geologi (gue ngerti geologi karena pernah dua kali ikut OSN Geografi) dan gue paling semangat pas pelajaran Kimia selama SMA.

Nah, pada saat inilah gue kena tampar realita di mana impian gue buat kuliah jurusan teknik tinggal cerita, soalnya gue gagal lolos di dua kampus Institut Teknologi. Akhirnya, pilihan gue tinggal dua kampus saat itu (IPB atau UPI) dan gue milih Institut Pertanian Bogor. Tapi, saat itu gue masih down parah dan gue sama sekali gak punya bayangan mau ngambil jurusan apa di IPB, tenaga gue udah habis duluan buat ngejar ambisi pertama tadi. Karena waktu terus berlalu dan gue harus segera ngambil keputusan, gue pun mulai konsultasi sama beberapa guru di sekolah. Memang ada jurusan teknik di IPB, tapi karena peraturan dari pihak dinas yang ngasih gue beasiswa, gue cuma boleh milih jurusan yang sudah mereka tetapkan. Ada jurusan teknik yang boleh dipilih, tapi Teknik Industri. Gue bingung, karena gue gak tahu sama sekali ini jurusan bakal belajar apa aja. Agak heran dan ngerasa rada bego juga sih, kenapa waktu itu gue gak punya inisiatif lebih buat nyari di Google. Kemungkinannya karena masih patah hati gagal di ambisi pertama. Terus juga mikir bahwa gue gak bakat di bidang Teknik, jadi langsung insecure gitu.

Akhirnya, setelah menimbang bahwa gue suka Kimia dan memutuskan buat mendalami subjek yang gue kira bakal bisa gue handle, gue milih jurusan Ilmu Gizi sebagai pilihan pertama. Memang ini takdir gue dari Allah, tanpa aral melintang gue lolos di jurusan ini. Gue bahagia? Iya bisa dikatakan gue bahagia dan bersyukur, hanya saja ambisi di hati gue belum padam juga. Cuma karena mempertimbangkan ini itu, akhirnya gue putuskan buat coba jalani aja dulu.

Setahun pertama menjalani perkuliahan terasa cukup berat buat gue. Biasalah, namanya juga pertama kali merantau sendiri jauh dari keluarga. Mana gue di IPB gak punya teman yang asal sekolahnya samaan dengan gue, jadi bisa dikatakan teman-temannya baru semua. Hidup gue berasa di-reset gitu, dengan perubahan lingkungan fisik dan sosial yang benar-benar baru. Sambil ngejalanin kuliah, ambisi lama tetap ada dan gue sempat mau nekat ikut SNMPTN lagi pas semester dua hampir beres. Tapi mikir lagi sih, sayang beasiswa sama akhirnya gue udah mulai nyaman dan beradaptasi di tempat baru. Jadi, gue batalkan keinginan itu.

Waktu berlalu dan tanpa terasa gue menjalani semester lima. Saat itu usia gue kira-kira 19 atau 20 tahun gitu. Nah, saat itulah gue mulai kenal apa itu 'passion' dan pada masa-masa ini, gue tiba-tiba mendadak jadi pribadi yang kritis dengan aspek-aspek kehidupan gue gitu. Gue bertanya pada diri sendiri, kenapa gue hidup, tujuan hidup gue apa, jenis hidup yang ideal buat gue ke depannya apa, habis kuliah mau ngapain, dan gimana gue gak setuju dengan prinsip hidup habis kuliah-kerja-nikah-punya anak-punya cucu-dst-mati. Bahkan gue mulai nulis di papan dinding kamar kostan gue tentang poin-poin ambisi baru. Gue susun strategi lengkap dan selalu menekankan diri sendiri buat mewujudkan semuanya. Diri gue yang full of ambitions waktu itu sangat membenci kata gagal.

Saat itu gue kira udah nemu passion yang gue cari selama ini, cuma gue masih belum 100% ngerti apa makna passion yang sebenernya. Gue cuma mikir, eh gue suka nih ngerjain ini dan gampang buat gue, jadi ini kayaknya passion gue deh. Namun, sekarang gue ngerti, passion lebih dari itu. Dulu, gue kira sesuatu yang gue suka tapi cukup sulit dan bakal jadi tantangan, tidak termasuk passion. Padahal gue salah besar. Passion tidak melulu soal bahwa gue senang dan selalu bisa mengerjakannya, tapi juga bisa sesuatu yang walaupun bakal ngasih tantangan lebih, gue bakal tetap suka dan semangat buat belajar lebih agar bisa menguasainya. 

Butuh waktu cukup lama buat gue mengeksplor kemampuan diri, passion, dan tujuan hidup. Banyak hal-hal yang cukup mengejutkan yang berhasil gue temukan dari diri sendiri, salah satunya ternyata keinginan untuk bisa menguasi bidang layout yang awalnya berasa gak mungkin, ternyata sekarang bisa gue lakuin dan bahkan jadi salah satu sumber pendapatan gue. Secara mengejutkan, pelan-pelan segala ambisi buta yang egois mulai pudar dari diri gue. Sekarang gue lebih memilih untuk mulai mengatur satu persatu tujuan atau goals masa depan gue tanpa ada embel-embel ambisi yang berlebihan. Gue sadar, ambisi itu hanya akan membuat gue merasa sangat tertekan jika pada akhirnya gagal. Agama Islam mengajarkan bahwa tugas manusia itu ya ikhtiar dan tawakal, jadi cukup kerjakan dan lakuin dengan mengerahkan usaha maksimal, untuk hasil akhirnya gue serahkan pada Allah. Nah, dengan mindset seperti ini, gue jadi dijauhkan dari rasa stres yang berlebihan saat segala sesuatu yang gue usahain belum berhasil.

Tujuan hidup gue sekarang cukup sederhana, apapun yang gue kerjakan sekarang dan nanti di masa depan, haruslah sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. Karena gue sadar, segala ambisi buta itu sangat egois karena hanya memikirkan diri sendiri tapi tanpa ada tujuan agar bermanfaat bagi orang lain. Sekian dan semoga pengalaman, pandangan serta opini gue ini bermanfaat buat seseorang di luar sana.

  • view 115