Rumah Di Bulan

Yessy Niarty
Karya Yessy Niarty Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 November 2016
Rumah Di Bulan

"C'est le temps de l'amour, le temps des copains et de l'aventure..."

Dua bait pertama lagu milik Françoise Hardy mengalun lembut dan perlahan dari speaker yang terdapat pada sudut langit-langit kantor Albert. Psikolog yang rutin kudatangi selama setahunan ini memang senang memutar lagu-lagu dengan volume kecil pada setiap sesi konsultasi yang dilakukannya, alasannya supaya pasiennya lebih tenang dan nyaman.

"It is the time of love, the time of friends and adventure." Aku menerjemahkan dalam hati bait lagu yang kudengar tersebut, aku meringis sedikit dengan kenyataan bahwa lirik lagu itu bertentangan dengan kehidupanku. Jelas saat ini lagi-lagi aku terlempar dalam lamunanku di antara sesi konsultasi rutin yang kulakukan dengan psikolog setengah baya yang kini berdehem sambil menunggu jawabanku atas pertanyaannya.

"Oh, I'm so sorry. Bisa ulangi pertanyaannya lagi?" Aku memberinya seulas senyuman yang sangat jarang kutunjukkan, kecuali dalam keadaan tertentu seperti saat mengucapkan terima kasih atau pada saat merasa tidak enak hati seperti yang kualami saat ini. Meskipun sudut egoisku berteriak tidak perlu merasa sungkan karena bagaimanapun juga dia dibayar untuk menjadi pendengarku dan sabar jelas harus jadi bagian profesionalnya.

Terkadang aku berpikir, bagaimana sosok Albert di luar sesi konsultasi yang rutin kulakukan dua minggu sekali ini. Figura kecil yang menempel di dinding kantornya menunjukkan bahwa dia adalah seorang ayah yang banyak tersenyum dengan dua orang anak perempuan kembar yang masih duduk di bangku SMA, dan dari cerita sekilasnya dia pernah menyebutkan bahwa istrinya hanya seorang ibu rumah tangga. Aku seperti bisa membayangkan kehidupannya dua puluh tahun ke depan, bahagia di hari tua dengan tangan keriput yang merangkul pundak istrinya, sambil mata kelabunya menatap penuh sayang kumpulan cucu-cucunya yang sedang berlarian di halaman belakang rumahnya yang sangat nyaman. Aku bisa berkata begitu karena foto seekor anjing jenis labrador retriever yang sedang berpose di halaman rumahnya yang juga menempel di dinding kantornya. Well, mungkin Albert akan tersenyum sedih dua puluh tahun ke depan begitu mengingat labradornya yang sudah tiada.  

Albert kembali mengulang pertanyaannya. "Gimana pertemuan dengan sepupu perempuanmu akhir pekan lalu?"

"Ah, itu." Aku tersentak kembali ke dunia nyata. "Lumayan."

"Begitu ya."Albert tampak tidak begitu puas dengan jawabanku. "Kalian tidak melakukan sesuatu yang seru?"

Aku baru saja akan membuka bibirku untuk menjawab. Tapi tidak jadi. Albert jelas akan tahu jika aku berusaha untuk membuat sedikit saja cerita yang terkesan manis atas pertemuan menyebalkan dan sangat terpaksa yang kulakukan dengan sepupuku yang jelas menganggap belanja sepatu model terbaru jauh lebih menarik dibandingkan mengobrol denganku selama setengah jam pertemuan kami.

"Kami bertemu untuk ngopi sebentar lalu dia pergi belanja sendiri."

"Kamu tidak ikut belanja dengannya?"

"Tidak."

"Kamu tidak menawarkan diri untuk menemaninya."

Itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan. Namun, aku menanggapinya dengan menggelengkan kepala.

Albert menyeka keningnya sedikit. "Lalu apa saja yang kalian bicarakan?"

"Tidak banyak. Sepuluh menit pertama dia malah asyik mengetik sesuatu di ponselnya. Sisanya aku mendengar celotehannya tentang tunangan dan persiapan pesta pernikahannya."

"Well, paling tidak kamu menikmati obrolannya kan?"

Aku tertawa sinis. Albert memang senang mengukur bagaimana kadar social anxiety melalui pertanyaan-pertanyaan sejenis ini. Seperti biasa, dia selalu merasa excited sendiri saat mendengar rencanaku akan bertemu kolega atau anggota keluarga yang sudah lama tidak kutemui. Hanya saja dengan mudah aku akan langsung mematahkannya dengan hasil pertemuannya yang selalu berakhir sama, social anxiety-ku masih tetap ada dan aku masih sangat kesulitan mengatasinya.

Albert tidak lagi mendesak tentang hubungan sosialku yang saat ini aku tandai dengan spidol tebal bertuliskan nonexistence di dalam otakku. Sisa sesi konsultasi sabtu siang ini dilanjutkannya dengan pertanyaan rutin dan membosankan tentang bagaimana pekerjaanku, apakah aku rutin menelepon orang tuaku, apa aku bertemu dan berteman dengan orang-orang baru. Terakhir dia akan menutupnya dengan menanyakan masalah insomnia dan serangan panik yang dapat melandaku kapan saja.

"Hanya satu serangan panik pada senin pagi sebelum aku bertemu kurator yang berniat bekerjasama untuk galerinya. Semuanya terkendali, aku bisa mengatasinya dengan mudah seperti saranmu. Dan tidak, aku tidak mengonsumsi obatnya. Aku hanya mengonsumsi pil tidur selama empat hari berturut-turut. Sisanya aku memang tidak tidur hingga pukul empat pagi dan berhasil mengerjakan dua lukisan."

Albert mengangguk. "Baiklah, kamu bisa meneleponku jika ada gangguan berarti dan aku mungkin bisa memberimu resep baru jika ini tidak bekerja. Sejujurnya, aku akan sangat senang jika kamu tidak perlu mengonsumsi obat lagi. Hanya saja, kita berdua tahu bahwa keadaanmu bisa berubah kapan saja. Tapi aku percaya, kamu mau bekerjasama untuk memperbaiki kondisi ini."

"Ya, tentu." Aku menarik tasku dan berdiri. "Um, I'm hungry, can we end this now?"

"Sure. Sampai bertemu dua minggu lagi."

Aku meninggalkan kantor Albert dan langsung mengemudikan mobilku menuju sebuah coffee shop kecil yang selalu menjadi langgananku

Aku meninggalkan kantor Albert dan langsung mengemudikan mobilku menuju sebuah coffee shop kecil yang selalu menjadi langgananku. Aku langsung duduk di spot yang sama setiap aku mengunjungi cafe ini. Secangkir americano di depanku hampir kosong dan jurnal harianku sudah penuh dua halaman dengan catatan dan sajak yang kutulis selama hampir satu jam aku duduk di sini. Para pejalan kaki yang berlalu lalang menjadi pemandangan menarik tersendiri bagiku. Aku senang mengamati orang-orang asing tersebut sambil menebak dan membaca latar belakang hidup mereka seperti yang kulakukan pada setiap orang yang pernah kutemui. 

Aku yakin seberapa tampak sempurnanya kehidupan mereka, pasti ada cerita tak terduga di balik wajah-wajah asing yang kemungkinan besar tak akan pernah kutemui lagi. Aku juga bertanya-tanya apakah mereka juga memiliki tempat berlindung tersembunyi yang hanya terdapat di kepala mereka? Apakah mereka selalu mendatangi tempat tersebut seperti aku?

La casa sulla luna. Rumah di bulan. 

Itu bukan sekedar kalimat indah nan puitis bagiku. Di kepalaku memang ada tempat seperti itu. Aku selalu membayangkan bahwa ada tempat aman serta nyaman di kepalaku yang kuistilahkan rumah yang terletak di bulan dan hanya aku yang dapat mengunjunginya. Aku memiliki masalah social anxiety, jadi membayangkan tempat ini mampu mengalihkan pikiranku dan membuatku merasa tenang. Setiap keluar dari rumah, berbicara dengan orang banyak atau saat berada dalam situasi yang tidak nyaman, aku selalu mengunjungi tempat itu. Inilah mengapa orang-orang sering mendapatiku melamun saat sedang berbicara denganku. 

"The kind of girl who kept her head in the clouds." Begitu bisik-bisik mereka.

Bagiku bukan hal yang aneh memiliki hal seperti itu, karena setiap orang punya cara tersendiri untuk berkompromi dan mengatasi sumber stressnya. Seperti Ibuku, dia akan mulai membuat adonan roti dan memanggangnya jika mengalami hari yang buruk. Sedangkan Ayahku, dia akan memastikan kebunnya yang penuh dengan berbagai jenis buah dalam pot hingga tanaman jenis lavender seperti berasal dari dunia dongeng. Adik laki-lakiku akan mengurung diri di kamar dan bermain game seharian jika sedang stress. Jadi, tidak ada yang aneh.

Sejak kapan aku memiliki rumah di atas bulan? Well, mungkin sejak aku mulai bersekolah di taman kanak-kanak

Sejak kapan aku memiliki rumah di bulan? Well, mungkin sejak aku mulai bersekolah di taman kanak-kanak. Aku memang sangat imajinatif dan senang menyendiri. Saat teman-temanku sibuk bergulat dan saling merebut permainan, aku akan sibuk membuat permainan sendiri. Salah satu permainan yang paling aku gemari adalah hand shadow puppets.

Aku sibuk menyusun cerita dan membuat seolah-olah bentuk yang muncul dari bayangan tanganku mengatakan sesuatu padaku. Dengan cara seperti ini aku tidak terlalu merasa kesepian. Bahkan hingga saat ini, ketika usiaku hampir menanjak 24 tahun, aku masih senang membuat cerita dari bayangan tanganku sebelum tidur. Cara ini dapat membantuku sedikit rileks.

Aku tidak suka masa-masa sekolah, terutama saat berada di taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Aku benci gurunya yang selalu mengatakan pada Ibuku bahwa aku sulit saat disuruh membaur dan bermain dengan anak-anak lain. Dia juga menyarankan pada ibuku mungkin aku perlu diikutsertakan dalam terapi khusus anak-anak bermasalah yang untungnya langsung ditolak mentah-mentah oleh Ibuku.

"Anak saya memang berbeda tapi bukan berarti dia bermasalah. Dia anak yang baik dan saya bisa jamin itu." Ibu memberikan pernyataan yang tegas.

Guru itu masih berusaha tetap tersenyum meskipun wajahnya jelas tersirat rasa kaget bercampur gugup. "Ya, ibu bisa mengatakan hal seperti itu. Tapi saya mengatakan semua ini demi kebaikan dan keberlanjutan tumbuh kembang anak Ibu. Saya tidak akan berani memberikan saran ini jika anak Ibu bisa bersikap baik seperti anak-anak yang lain."

"Anda tahu bagaimana anak-anak, kan? Mereka tidak bisa setiap saat menyenangkan." Potong Ibu lagi.

"Ya, saya tahu, Bu. Hanya saja anak Ibu juga kemungkinan memiliki masalah dalam emosi dan sulit membuat pertemanan."

"Maksudnya?" Ibu bertanya was-was.

"Katakanlah dia tidak bisa menoleransi temannya jika temannya membuatnya kesal. Pekan lalu, dia menggigit bahu seorang teman bermainnya yang berusaha merebut bola darinya." Guru itu berusaha mengatakannya dengan tenang. "Anak itu berdarah. Namun, untunglah kami bisa mengatasinya."

Ibu terperangah dan menatapku yang duduk diam di sudut ruangan guru sambil melamun menatap ke luar jendela.

"Tapi kita bisa mencoba mengatasinya bersama-sama asalkan Ibu mau bekerjasama mendorongnya untuk bisa bersosialisasi dengan baik dan tidak mudah emosional."

Ibu hanya mengangguk cepat dan sepanjang perjalanan pulang denganku dalam bis kota, kami hanya diam. Aku agak khawatir Ibu marah. Tapi dia masih tersenyum padaku hari itu meskipun dia masih tidak mengatakan apapun.

"Bisa ceritakan pada Ibu mengapa kamu bersikap seperti itu?" Ibu akhirnya bertanya saat kami sudah di rumah.

"Aku tidak suka guru itu, dia mengatakan hal-hal yang terdengar tidak baik tentangku. Dan anak laki-laki yang kugigit itu sering mengganggu anak-anak lain. Dia pantas mendapatkannya."

Ibu hanya tersenyum. "Baiklah, ibu mengerti. Tapi, boleh ibu tahu mengapa kamu tidak mau bergabung dengan teman-temanmu yang lain saat bermain bersama? Ibu dengar kamu hanya senang bermain sendiri."

Aku hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan Ibu.

"Apapun jawabanmu, Ibu akan mencoba mengerti. Jika ada masalah, kita akan mencari jalan keluarnya bersama-sama." Ibu mencoba membujukku lagi.

"Aku merasa lebih nyaman dan bahagia jika boleh bermain sendiri saja. Aku tidak suka jika ada anak yang merusak permainannya atau jika ada yang mencoba menyuruhku ini dan itu."

Ibu mencium pipiku dan kembali tersenyum. "Oke, Ibu mengerti. Tapi Ibu ingin memberitahumu satu rahasia."

Aku suka rahasia. Kalimat itu biasanya selalu sukses menarik perhatianku seutuhnya dan Ibu tahu benar soal itu. 

"Bermain sendiri memang menyenangkan, tapi Ibu jamin akan jauh lebih menyenangkan jika kamu mau membuka diri dan mulai bermain dengan anak-anak yang lain."

Aku tidak memberi komentar apapun membuat Ibu tersenyum sedih.

"Berjanjilah kamu akan mulai berteman dengan anak-anak yang lain."

Saat itu aku hanya mengangguk dan terpaksa setuju agar Ibu tidak sedih dan khawatir denganku

Saat itu aku hanya mengangguk dan terpaksa setuju agar Ibu tidak sedih dan khawatir denganku. Aku merasa bertanggungjawab jika Ibu sedih karena aku tidak memiliki seorang teman pun. Hasil dari perjanjian itu berhasil membuatku mendapatkan peran menjadi burung gagak pada acara pentas sekolah. Ibu benar-benar berpikir bahwa aku mendapatkan teman karena berhasil mendapatkan peran dan berpartisipasi pada acara pentas sekolah. 

Aku tidak pernah berkata pada ibu bahwa sebenarnya aku sangat terpaksa menjadi bagian dari acara tersebut. Sejujurnya aku masih senang menyendiri namun saat guru yang kubenci itu memberiku tatapan menegurnya aku akan pura-pura ikut bergabung bermain dengan anak-anak yang lain. Saat guru itu berlalu, pelan-pelan aku akan mundur dan kembali sibuk dengan duniaku sendiri.

Peran menjadi burung gagak hitam memang tampak menggelikan dan beberapa anak menertawakanku. Namun, semuanya tidak seburuk itu. Penampilanku yang aneh malah berhasil menrik perhatian seorang anak laki-laki yang selama ini sering kulihat senang menghabiskan waktunya dengan melukis di sudut kelas.

"Hei, benar kamu jadi burung gagak?" Tanyanya dengan wajah serius.

Aku mengangguk sambil menatapnya tajam. Saat itu aku bersiap-siap akan menabrak dan menonjoknya jika dia mengeluarkan kata-kata bernada ejekan.

"Keren." Dia mengangguk-angguk tanda memuji. "Kamu mungkin tidak tahu, tapi Tukang Topi menganggap gagak seperti meja tulis. Sekarang aku baru mengerti mengapa dia disebut Tukang Topi yang gila."

Aku bingung dengan kata-katanya tapi senang dengan pujiannya.

"Tukang Topi gila yang ada di cerita Alice di Negeri Ajaib."Lanjutnya lagi.

"Aku belum pernah dibacakan cerita itu."

"Kamu belum bisa membaca ya?" Tanyanya sambil mengerutkan dahinya.

Aku merasa sedikit tersinggung saat dia bertanya seperti itu. "Aku hapal alfabet dan bisa mengeja sedikit."

"Aku sudah sangat lancar sekali kalau disuruh membaca. Oh, mungkin aku bisa membacakan cerita itu padamu kapan-kapan."

Aku setuju dengan ide itu. Mungkin aku bisa berteman dengan anak ini. Dia tidak tampak menyebalkan atau senang mengganggu seperti anak-anak kebanyakan. 

Sejak saat itu aku menghabiskan waktuku dengannya

Sejak saat itu aku menghabiskan waktuku dengannya. Saat anak-anak lain mulai sibuk berkelompok untuk bermain, aku dan dia akan duduk di sudut kelas yang biasa dia tempati. Aku senang sekali saat dia membacakan cerita Alice di Negeri Ajaib. Dia juga mulai meminjamiku cat cairnya yang sangat lengkap dan mengajariku melukis. Dari sinilah aku menemukan bakat dan passion dalam dunia seni yang kini menjadi salah satu sumber penghasilanku.

Sejak bertemu dengannya, aku tidak merasa kesepian lagi. Aku senang saat akhirnya bisa menemukan seorang teman. Dia anak yang sangat cerdas dan mengajariku banyak hal. Saat itu aku tidak tahu apa nama perasaan aneh yang muncul di dalam hatiku, namun kini aku sadar, bahwa aku jatuh cinta padanya. Hanya saja saat itu aku masih seorang bocah, yang aku tahu bahwa aku sangat sayang padanya seperti aku sayang pada Ibuku.

Perasaan bahagia itu hanya bertahan beberapa bulan saja saat hari-hari berikutnya aku kembali sendiri. Dia tidak pernah kembali ke sekolah dan dua minggu kemudian aku serta seluruh anak sekolah menghadiri upacara pemakamannya. Saat itu aku sangat bingung dan tidak pernah mengerti cara kerja kematian. Aku hanya merasa sangat marah karena satu-satunya teman yang aku punya harus pergi selamanya tanpa mengucapkan salam perpisahan.

Saat aku tiba di rumah dan tampak sangat bergumul dengan emosiku sendiri, ibu mencoba menjelaskan sebab kepergian satu-satunya teman yang kumiliki itu. Akhirnya baru aku mengerti bagaimana cara kerja kematian. Kematian akan memisahkanmu dengan orang-orang yang kau sayangi tanpa sempat mengucapkan kata perpisahan. Kematian tidak melihat apakah kau sudah tua atau masih anak-anak dan juga tidak melihat jenis kelaminmu. Rasa bersalah menyerangku tiba-tiba karena sempat merasa marah. Lalu untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menangis sekeras-kerasnya dengan alasan kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku.

Sejak saat itu aku kembali sendiri. Aku kembali menjadi diriku seperti sebelum aku memiliki teman sepertinya. Namun, social anxiety-ku menjadi lebih parah dari sebelumnya. Dari sinilah rumah di atas bulan itu tercipta. Aku mencari ketenangan dan kenyamanan di sana.

Selama masa-masa sekolah selanjutnya, aku masih senang menyendiri. Namun, aku sudah mulai bisa berteman dengan beberapa orang. Tapi tetap saja aku tidak bisa menemukan paling tidak satu orang sahabat. Teman hanya sekedar berteman, begitu aku menyebut istilahnya.

Aku tidak akan pernah menjadi seorang social butterfly. Aku memang menonjol di bidang akademis dan seni, karena aku tidak tahu bagaimana menghabiskan waktu luangku. Jadi aku menghabiskannya dengan belajar dan melukis. Sebisa mungkin aku berusaha melakukan kegiatan yang tidak mengharuskanku berinteraksi dengan orang lain. Hal ini berlanjut hingga aku selesai dengan urusan sekolah dan kuliah. Kini aku menjadi seorang pekerja seni yang bisa dikatakan sangat jarang melakukan interaksi sosial kecuali untuk alasan pekerjaan.

Setahun belakangan ini aku rutin mengunjungi psikolog. Sebelumnya aku tidak pernah memiliki psikolog. Semua ini atas saran ibu yang tampak sangat khawatir dengan kondisiku. Meskipun berkali-kali sudah aku katakan padanya bahwa aku baik-baik saja dan tidak butuh psikolog atau obat apapun. Tidak, aku tidak gila. Tapi benar, aku menderita social anxiety, insomnia dan depresi. Rasanya sangat salah jika aku tidak mencari pertolongan. Akhirnya untuk membuat ibu tenang dan demi kebaikanku sendiri, aku mulai mengunjungi psikolog dan membuat janji temu konsultasi dua kali dalam sebulan.

Aku tidak tahu apakah semua ini memiliki dampak yang cukup berarti bagiku. Aku telah menjalani jenis kehidupan ini sejak aku bisa mengingatnya. Jelas aku tidak begitu melihat adanya perubahan yang signifikan. Rasanya social anxiety ini telah menjadi bagian dari hidupku.

Aku telah beranjak dari coffee shop dan mulai mengemudikan mobilku menuju pemakaman umum

Aku telah beranjak dari coffee shop dan mulai mengemudikan mobilku menuju pemakaman umum. Aku menelusuri setapak jalan yang membawaku ke hamparan batu nisan dengan berjalan kaki. Rasanya aneh saat aku mendapati betapa menenangkannya suasana di sini, jauh dari kata menyeramkan dan suram yang biasanya akan dirasakan orang-orang saat memasuki pemakaman. 

Aku berdiri di hadapan patung malaikat yang membawa tanda salib di dadanya. Lalu mataku menatap batu nisan di sebelah patung tersebut. Hodgkin lymphoma, itu jenis kanker yang menggerogoti tubuh kecilnya hingga membawanya tidur untuk selamanya. Aku baru sangat mengerti jenis kanker yang dideritanya itu saat aku sudah duduk di bangku SMA. 

Kadang aku masih merasa bahwa Tuhan tidak adil karena telah membawa teman terbaikku begitu cepat ke pelukan-Nya. Namun, kadang aku juga merasa bahwa ini adalah takdir yang terbaik. Kehadirannya yang singkat memberikanku pengalaman bagaimana rasanya memiliki seseorang yang mengerti dan menerimaku apa adanya. Dia mengajariku banyak hal dan yang paling penting, dia mengajariku cara menerima dan mencintai diriku sendiri. Karena untuk bisa mencintai diri sendiri kita butuh seseorang yang mampu menunjukkan bahwa kita juga berharga dan berarti bagi orang lain. Dia adalah orang pertama yang membuatku merasakan hal tersebut setelah sebelumnya aku sering merasa sendiri dan tersingkirkan.

Sayup-sayup aku seakan bisa mendengar choir Cuckoo milik Benjamin Britten. Aku ingat kami membawa lagu itu saat tampil di pentas sekolah taman kanak-kanak. Air mataku jatuh perlahan dengan senyuman di bibirku. Lalu aku memejamkan mata dan pikiranku terbang ke rumah di atas bulan di mana aku bisa mengingat dengan jelas bagaimana aku menari dengan anggun dalam kostum burung gagak hitam. Tidak ada kesedihan, tidak ada kepergian dan kematian di sana. Hanya ada kebahagiaan dan kenangan indah yang pernah kualami dalam hidupku.

Thumbnail diambil di sini.

 


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Kami sangat mengapresiasi tulisan yang berani maksimal mengangkat topik agak beda dari biasanya, seperti yang dilakukan oleh Yessy Niarty yang satu ini. Pertama-tama, menyuarakan isi hati dan pengalaman hidup narator yang pendiam, cenderung menyendiri sekaligus sangat cerdas dan kreatif di tengah pendapat banyak orang yang menganggapnya aneh merupakan hal yang patut diajungi jempol. Yang menarik di sini Yessy menyebut apa yang dialami oleh sang narator adalah hal yang lumrah meski beda dari teman sebayanya.

    Bagaimana si narator bertahan dengan bawaannya pun sungguh asyik untuk disimak. Rumah Di Bulan adalah imajinasinya yang layak dihargai. Keputusan si narator yang pergi ke psikolog sangat bagus sebab ia mengatasi masalah kecemasan sosialnya secara tepat.

    Ditulis dengan bahasa yang tegas sehingga tidak menyulitkan pembaca dalam memahaminya di tengah alur cerita yang mengandung 'flashback', karya ini sangat dalam dan kaya pelajaran tentang hidup. Terus berkarya di sini, Yessy!