To Get To Know A Stranger

Yessy Niarty
Karya Yessy Niarty Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Oktober 2016
To Get To Know A Stranger

Aku baru saja menerima secangkir matcha latte pesananku saat sosoknya muncul di pintu masuk cafe. Langkahnya tidak tegap dan tak juga tergesa-gesa seperti para lelaki sok berkuasa dengan lagak CEO yang sering kutemui di lift kantor. Kebalikannya, langkahnya santai dengan sentuhan ragu manusiawi yang anehnya kusukai. Wajahnya tenang, jauh dari kerutan serius. Dia mengenakan kemeja kotak-kotak garis cokelat muda dan putih dengan lengan agak tergulung serta jam tangan kulit mahal melingkar di pergelangan tangannya. Kini sisi tubuh sebelah kirinya bersebelahan denganku yang duduk di barisan kursi menghadap para barista yang sibuk dengan tetek bengeknya. Cafe ini memang unik dengan menyediakan susunan kursi layaknya bar yang sering kusambangi bersama sahabat wanitaku setiap akhir pekan yang membosankan. Bedanya, kau tidak bisa memesan anggur di sini.

Aku pura-pura tak peduli pada hadirnya. Mataku berlagak fokus pada barisan kalimat yang ditulis Lala Bohang.

Everybody knows that everybody’s normal till you get to know them better. But instead of not getting to know anybody, you’re still willing to get to know strangers. Because you want to cure your loneliness, you’re still willing to get to know strangers.

Dia menggeser dan mulai duduk di bangku sebelahku. Aku bisa menangkap bahasa tubuhnya menunjukkan minat padaku; oh, atau mungkin pada bacaanku. Namun dia masih juga tak memberikan komentar atau sekedar sapaan padaku. Diam-diam aku penasaran pada menu yang akan dipesannya. Aku bertaruh dia akan memesan secangkir kopi hitam pekat. Entah mengapa. Hanya saja, sosok sepertinya tidak akan mau memesan menu cemen dengan kandungan kafein rendah.

“Satu cangkir kopi hitam dan bagel.” Katanya pada sang barista.

Ah, gotcha! Apa kubilang. Aku kembali mengintip sedikit padanya lalu cepat-cepat kembali pada bukuku sebelum matanya menangkap arah mataku. Lalu pesanannya tiba dan lagi-lagi tak bisa kutahan diriku untuk tidak menatapnya. Caranya menghirup pelan kopi dari cangkirnya mengingatkanku pada papa. Bedanya, papa hanya menghirup kopi yang disajikan mama yang selalu mereka nikmati berdua bersama sepiring gorengan pada sore-sore sejuk karena hujan.

Kali ini aku tak sempat mengelak karena mataku tertangkap basah olehnya. Merasa malu, aku kembali menunduk dan mengutuk  rasa ingin tahuku yang berlebihan.

“Bukankah menyenangkan sekaligus membuat gusar secara bersamaan saat kita ingin tahu apa yang ada di pikiran orang asing yang menarik?”

Pelan-pelan aku mengangkat kepala dan menatapnya. Bibirnya kini menyunggingkan senyuman.

“Maaf?”

“Buku itu menarik. Aku juga membacanya.” Katanya lagi.

“Oh, oke.” Balasku kikuk.

“Menurutmu apa setiap orang asing harus selalu mereka yang baru pertama kali kau temui?”

Kini dia benar-benar menarik perhatianku seutuhnya. “Tidak selalu.”

Sembari menarik cangkirnya lagi dia berkata, “Berikan aku contoh dan jawaban yang paling menarik, please.”

“Orang asing tidak selalu mereka yang wajahnya baru kau temui pertama kali untuk kemudian kau lupakan. Bisa jadi kekasih yang telah bersamamu selama enam tahun belakangan ini mendadak jadi sesosok asing pada suatu pagi tanpa sebab yang pasti. Mungkin hanya sekedar bosan atau salah satu dari mereka sudah tak tampak menarik lagi. Atau saat nenek yang selama ini menyayangimu sejak bayi menganggapmu orang asing karena alzheimer yang dideritanya.”

“Wow…”

“Kau terkesan?”

“Apakah itu pengalaman pribadi?” Tanyanya intens.

Aku meringis, menolak mengiyakan.

“Aku ikut bersimpati.”

Aku tersenyum samar. “Tak perlu… toh, kita hanya dua orang asing yang saling tertarik dengan cerita di balik pribadi masing-masing.”

“Paling tidak kita bisa saling mengisi kekosongan di hati masing-masing pagi ini.”

“Bagaimana dengan ceritamu?”

“Ah…” Helanya cukup panjang. “Tidak terlalu menarik. Hanya saja semua mantan rekan kerjaku yang dulu sering menjadi teman minum, karaoke, dan bersenang-senang di setiap keberhasilan proyek mendadak jadi orang asing saat aku dipecat dua minggu yang lalu.”

Aku cukup terkejut. “Oh…”

“Yeah, perusahaan tempatku bekerja memang agak bangsat. Memeras para pekerja seperti lembu perah, lalu saat pekerjaanku gagal memenuhi kehendak klien, mereka memecatku.” Katanya santai sambil tersenyum.

“Biar kutebak, keberhasilanmu menyenangkan klien memiliki jumlah yang lebih banyak daripada kegagalan.”

Dia tersenyum dan mengangguk. “Hanya tiga kegagalan dan itu batas perusahaan.”

“Sadis sekali.” Komentarku cepat.

“Tidak ada apa-apanya di saat seminggu kemudian tunanganmu memutuskan bahwa kami sudah tidak sejalan lagi. Padahal aku tahu alasan di baliknya karena dia tak yakin akan mampu menikahi seorang pengangguran sepertiku.”

Well, itu cukup berat.”

“Memang, namun semuanya tak lagi terasa begitu berat dan berubah menjadi sekedar cerita pagi pada orang asing.”

Aku tersenyum. “Mungkin setelah ini kita bisa memutuskan untuk berhenti jadi orang asing dan mulai saling menyebut nama masing-masing saja.”

Dia berpikir sejenak dan mengulurkan tangannya. “Ide bagus. Senang bertemu denganmu orang asing.”

“Senang bertemu denganmu juga, orang asing.”

photo by Orion Carloto

  • view 125