Senja di Batas Harapan

Yessy Niarty
Karya Yessy Niarty Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Oktober 2016
Senja di Batas Harapan

Tangan dan mataku bekerja secara sinkron dengan objek sebuah ponsel, sibuk berkali-kali memeriksa kalau-kalau dia menelepon balik atau sekedar balasan singkat terhadap puluhan pesan yang telah kukirim sejak semalam sebelum tidur. Aku mengira-ngira, jika dalam lima belas menit tak ada juga tanda-tanda, aku akan melakukan tindakan ekstrim (dalam bahasanya) menyusul dan memaksa masuk ke dalam apartemennya yang hanya berjarak tak lebih dari setengah jam dari kantorku.

Aku bisa merasakan seluruh tubuhku agak gemetar dan sangat tak sabaran. Suara pelan pintu kantor yang dibuka hampir membuatku merosot dari kursi busa yang sedang kududuki dengan tak nyaman. Sebuah senyum lemah tersungging dari bibirnya begitu mataku menangkap kehadirannya. Mataku langsung menatapnya dengan sorot liar memeriksa setiap jengkal bagian tubuhnya yang bisa terlihat olehku.

"Aku baik-baik saja." Katanya dengan nada tak suka.

Aku mengangguk sekali secara otomatis, karena itulah ucapan yang sering terlontar dari bibirnya saat tatapanku menangkap sosoknya.

Kakiku masih sedikit gemetar saat aku berjalan perlahan menuju tempatnya kini berdiri. Hari ini dia masih pucat seperti biasa, rambut hitamnya tidak digerai dan diikat dengan model ponytail, camisole dress biru mudanya hanya mampu memberi sedikit warna pada tubuhnya, berkali-kali dia menurunkan lengan cardigan rajut warna krem tua untuk menutupi bekas luka berbentuk sayatan-sayatan tipis yang sudah agak pudar di sekujur pergelangan hingga lengannya. Paling tidak dia menyempatkan diri berdandan dengan bibir terpoles lipstik merah jambu yang sangat muda. Dia membawa tas cukup besar yang terlihat agak berat yang disampirkan di bahunya.

"Kamu sudah sarapan?" Tanyaku pelan sambil meraih wajahnya untuk melihat tepat pada kedua matanya yang semakin lama semakin pudar cahayanya.

Dia mengangguk pelan. "Kamu sendiri?"

"Aku sudah minum kopi dan makan sandwich telur tadi."

"Aku baru saja menyelesaikan tiga novel seri Harry Potter dalam dua hari." Katanya sambil berjalan menjauh dariku dan meletakkan tas beratnya di atas meja.

"Tinggal empat novel lagi." Lanjutnya sambil berbalik menghadapku dengan bagian pinggangnya bertumpu ke tepi meja.

"Bisa menyelesaikan tiga novel dalam dua hari, namun tidak bisa membalas pesan singkatku yang mungkin hanya butuh kurang dari dua menit?" Nada suaraku jauh dari maksud sinis seperti yang kuharapkan, namun lebih ke nada sedih bahkan di telingaku sendiri.

"Jangan khawatir, aku baik-baik saja." Jawabnya setengah cuek. Namun, begitu menyadari penderitaan di mataku, dia cepat-cepat menambahkan. "Novel ini membantuku akhir-akhir ini. Cukup menghibur dibanding pikiran-pikiran 'itu'."

Pikiran-pikiran 'itu', hal inilah yang membuatku menemaninya meminjam bertumpuk-tumpuk bacaan klasik anak-anak seri Alice-nya Lewis Carroll, karya-karya L. M. Montgomery hingga Harry Potter yang ditawarkan oleh pekerja perpustakaan yang menyadari bahwa Migita, nama gadis pucat di hadapanku ini, sedang mencari bacaan yang cocok untuk anak-anak dan orang dewasa. Bacaan-bacaan tersebut untuk mengalihkan beban pikiran, katanya padaku waktu itu. Pikiran-pikiran 'itu' juga yang membuatku mengkhawatirkannya lebih dari apapun. Bahkan aku tidak khawatir dengan deadline pesanan-pesanan, kritikan pedas dan amarah dari klien yang ingin revisi secepat mungkin setiap desain yang kukerjakan bersama tiga rekanku yang lain.

"Kamu ingin makan siang denganku nanti?"

Migita mengerutkan dahinya bingung. "Jika aku tidak salah, sehari yang lalu kamu bilang mau makan siang sekalian meeting dengan klien yang minta revisi lima kali itu, bukan?"

Aku menggeleng cepat. "Tak masalah, Agra bisa mengatasinya dengan lancar."

Migita masih bergeming.

"Serius. Agra bahkan akan ditemani Samuel juga." Tambahku lagi.

Migita menghela nafas pelan dan menghampiriku. "Kamu toh tak perlu repot-repot mengesampingkan urusan pekerjaan demi aku."

"Tidak, aku ingin menghabiskan siang ini bersamamu."

Migita memaksakan sebuah senyuman, jemarinya menyentuh pelan pipiku yang dingin oleh penyejuk ruangan ditambah rasa was-was yang selalu ada saat menatap migita yang pucat.

"Kamu terlalu baik, Leon. Selalu begitu." Gumamnya lebih seperti ke diri sendiri. "Jangan berlebihan begitu, tak baik mengabaikan kerjaan hanya demi pacarmu."

Aku menekuk bibir sebagai tanda masih tidak setuju.

"Aku akan mengunjungi ibuku siang ini. Kami juga akan makan siang di rumahnya. Rasanya sudah lama sekali aku tidak pulang, meskipun ibu selalu mengunjungiku setiap hari sabtu."

Akhirnya aku menyerah. "Baiklah, kamu benar. Ada baiknya kamu pulang ke rumah, mungkin kamu bisa menginap semalam. Ibumu pasti senang. Aku akan mengunjungi kalian nanti malam. Bagaimana?"

Migita mengangguk. "Ide bagus. Jangan lupa bawakan martabak kelapa kesukaan ibu. Rasanya sudah begitu lama aku tidak menyenangkan ibu."

Aku memberinya seulas senyuman. Migita lalu pamit untuk kembali ke perpustakaan karena ada beberapa referensi untuk tulisannya yang masih kurang dan dia ingin menambah beberapa buku bacaan lagi, kali ini dia mencari karya-karya Virginia Woolf. Sedikit keceriaan di wajahnya cukup untuk membuatku agak tenang seharian nanti. Lalu aku melanjutkan pekerjaanku setelah tiga rekanku yang lain mulai datang.

"Kepagian?" Sapa Samuel dengan sebuah cup berisi hot coffee di tangan kirinya sementara tangan kanannya menenteng sejumlah kertas proyek, sebuah tas kerja terlampir di bahunya. Aku bisa melihat Marion dan Agra di belakangnya.

"Tidak juga. Ada sedikit yang harus diperbaiki sebelum meeting siang nanti."

"Oi, lo bener-bener deh!" Kali ini Marion yang berteriak sambil menepuk pelan bahuku. "Santai sedikitlah pak Leonard. Kerjaan kita udah mencapai kata sem-pur-na! Lo gak usah periksa-periksa lagi. Itu bisa jadi kerjaan Agra buat mastiin semuanya oke. Ya gak, Ga?"

Agra mengangguk cepat. "Santai aja sih."

Aku hanya tersenyum tipis. Sebenarnya aku tidak begitu konsentrasi saat memeriksa ulang bahan-bahan revisi yang akan kami rapatkan dengan klien nanti siang. Perhatianku jelas tercurah pada Migita sejak semalam. Namun para rekanku percaya-percaya saja. Kami melanjutkan pekerjaan dan kekhawatiranku pada Migita bisa agak tersingkirkan.

----

Jika seseorang menyodorkan lima puluh lembar kertas A4 padaku untuk menulis bagaimana kisah awalku bertemu dan mengenal Migita, lalu apa saja yang mebuatku jatuh cinta padanya, pastilah kertas itu kurang, meskipun aku telah bersusah payah untuk menjaga agar tulisanku sekecil-kecilnya dan ditulis bolak-balik. Oh, bisa jadi aku akan menulis beberapa novel tebal tentangnya. Hanya saja, kemampuan menulis tidak jadi milikku, selalu menjadi milik Migita. Aku hanya mampu membuat dan merevisi desain iklan, logo, serta kemasan dari para klien yang lebih banyak marah daripada memuji. Bukan berarti hasil kerjaanku dengan partnerku buruk, namun kami termasuk badan usaha kecil yang masih belum punya nama besar, sehingga para klien kadang sering memandang rendah.

Aku bertemu Migita setahun tiga bulan yang lalu. Saat itu aku mengambil kerja paruh waktu sebagai fotografi untuk mengisi galeri merangkap cafe milik kakak perempuanku. Dia yang mengenalkanku dengan Migita yang ternyata anak teman baik mama. Migita diminta kakakku menjadi model portrait dengan tema dark and hollow, kakakku memang pecinta berat genre horor dan misteri. Foto-foto itu nantinya akan menghiasi galeri. Migita yang saat itu menemani ibunya arisan di rumah kami setuju-setuju saja saat kakakku menyampaikan permintaan itu padanya.

Tak pernah kusangka akan langsung jatuh hati pada Migita yang kutatap dari balik lensa kameraku. Kulit pucatnya yang kontras dengan gaun hitam yang diayun angin senja begitu menakjubkan bagi mataku. Tatapannya yang cenderung dingin memberi kesan misterius namun saat tatapan itu jatuh, aku bisa melihat dengan jelas bahwa kerapuhan telah menggerogoti jiwanya. Bisik-bisik tipis yang kucuri dengar dari percakapan antara ibunya dengan ibuku mengisyaratkan bahwa Migita mengalami depresi hebat sejak masih SMA. Tidak jelas apa latar dan pemicunya, kata sang ahli, mungkin ada yang salah dengan otak dan pikirannya. Dia memang 'sakit'. Sepertinya, hanya obat-obatan serta semangat dari ibunya yang membantu gadis itu bertahan saat ini.

Kasihan jelas adalah kesanku setelah curi-curi dengar tersebut. Namun, sepertinya aku tidak akan pernah mendapatkan perhatian dari Migita jika memberinya tatapan mengasihani seperti itu. Aku putuskan untuk mendekatinya pelan-pelan, mengajaknya berbicara tentang apa saja yang disukainya dan dibencinya. Pelan-pelan aku memahaminya, Migita sangat mencintai buku dan menulis. Dia bekerja sebagai contributor writer dan editor di beberapa majalah cetak maupun website. Terkadang dia menulis untuk kesenangan di blog pribadinya. Aku balik menceritakan padanya bahwa meski menyebalkan dengan kritik dan amarah tak jelas dari klien, aku sangat mencintai pekerjaanku sebagai graphic designer. Aku juga mengatakan bahwa fotografi adalah passion keduaku, lalu aku mulai menunjukkan dan membahas foto-foto dirinya yang kuambil waktu itu. Jelas tema dark and hollow sesuai untuknya, sebuah senyum langka terbentuk di bibir tipisnya.

"Ini mengagumkan. Seolah-olah kamu menangkap jiwaku." Komentarnya cepat, lalu gelayut kesedihan kembali terbentuk di wajahnya. Foto-foto tersebut memang menangkap jiwanya yang rapuh dan gelap.

Sejak hari itu aku bertekad, aku tidak akan pernah mengasihaninya, namun aku akan berusaha menemaninya melewati hari-hari beratnya untuk berjuang dan tetap kuat. Migita tidak pernah butuh bantuan dari siapapun, dia menegaskan hal ini. Dia adalah satu-satunya yang menguasai jiwa dan pikirannya. Sebisa mungkin, aku hanya berusaha membuatnya merasa ada yang perlu dia perjuangkan untuk tetap berpijak di dunia ini.

----

"Ada kutipan yang dikatakan Dumbledore dan begitu mengesankanku." Kata Migita saat kepalanya berada di atas pahaku. Matanya menatap ke langit-langit apartemennya.

"Oh ya? Apa?" Tanyaku langsung mengalihkan pandangan dari layar televisi yang sedang menayangkan berita sore.

"Of course it is happening inside your head, but why on earth should that mean that it is not real?"

"Mhhh..." Aku berusaha mencerna kalimat kutipan yang diucapkannya.

Migita langsung bangkit dan duduk menghadapku. Aku balas menatapnya.

"Mungkin sulit dimengerti olehmu. Namun jika kamu ingat, kutipan tersebut bisa menjadi jawaban atas pertanyaan yang kamu ajukan padaku enam bulan yang lalu."

Aku tersenyum. "Pertanyaan yang mana? Coba ingatkan aku."

"Saat itu kamu bertanya, mengapa aku marah dan tidak suka saat kamu mengatakan bahwa kegilaan dan pikiran-pikiran asing itu hanya terjadi di kepalaku. Ini hanya soal mindset katamu, bahwa jika aku menolak untuk menciptakan pikiran-pikiran 'itu', maka aku akan baik-baik saja."

Aku terdiam. Ya, aku ingat betapa marahnya Migita padaku saat aku mengatakan hal itu padanya, aku hampir tidak lagi mendapat kepercayaan darinya. Migita menolak bicara dan bertemu denganku, namun seminggu kemudian entah apa yang mendorongnya untuk memaafkanku dan mengatakan sebaiknya kita lupakan saja hal ini. Tidak kusangka dia akan mengungkit hal itu lagi.

"Kamu masih marah, ya?"

Migita menggeleng. "Tidak. Aku tidak marah. Aku baru mengerti bahwa sebenarnya kamu tidak paham. Kamu tidak paham bahwa memang benar pikiran-pikiran 'itu' hanya terjadi di kepalaku karena dia tercipta di sana. Namun, kata siapa pikiran-pikiran 'itu' tidak nyata dan tidak sedang terjadi di hidupku?"

Aku menatapnya bingung. Masih tidak mengerti sepenuhnya.

"Depresi dan kegilaan ini nyata, Leon. Sekejap saja, dia bisa menyeretku. Ada beberapa hal yang selalu kuanggap penting dan berharga untuk menjaga agar aku tidak jatuh ke jurang itu. Pikiran-pikiran 'itu' bukan ilusi belaka, dia nyata bagiku. Dia mendekapku dan melihat kesempatan untuk menenggelamkanku. Tak ada obat dan jenis kebahagiaan yang tersisa untuk membunuh dan melenyapkannya."

"A..a..aku... Migita..." Aku tergagap.

Migita menyentuh bibirku lembut dengan jemarinya yang dinging. "Ssshh... Tidak apa-apa. Aku begini bukan salahmu. Kamu mengenalku saat aku telah rapuh. Maaf, bahkan setelah ini aku masih sulit menunjukkan padamu sisi baik yang dulu pernah kumiliki, sayangnya kini aku benar-benar telah lupa bagaimana caranya bahagia."

Aku memeluknya erat, erat sekali. Bahkan rasanya aku takut melepaskannya. Khawatir kalau-kalau dia akan runtuh begitu kulepas. Senja telah beranjak, air mataku terus jatuh hingga membasahi bahunya. Anehnya Migita hanya tersenyum dan menepuk-nepuk punggungku, berusaha menenangkanku. Aku menolak sadar akan kenyataan bahwa Migita mengucapkan selamat tinggal padaku saat itu.

----

Pemakaman ini tidak begitu ramai. Hanya keluarga kecil ibu Migita, kenalan-kenalan yang tampak asing serta aku, mama, dan kakak perempuanku. Bunga-bunga segar tergeletak indah di atas pusara dengan nama Migita Alana. Berkali-kali ibu Migita mengusap ujung matanya yang basah sementara tangan kanannya masih memeluk foto Migita di dadanya. Aku kenal betul foto itu, akulah yang memotretnya sebulan sebelum Migita memutuskan mengakhiri hidupnya sendiri. Tidak ada senyuman di wajah pucat potretnya tersebut, hanya kehampaan seperti yang selalu dia tampilkan.

Akhirnya aku, mama dan kakakku pamit pada ibu Migita. Setelah tiba di rumah aku hanya berdiri diam di teras halaman menatap hari yang beranjak senja. Sepertinya malam ini akan turun hujan jika melihat arakan awan hitam di langit sana.

"Bagaimana bisa kau tidak meneteskan setitik air matapun?" Suara kakakku terdengar di belakangku.

"Tidak ada yang perlu ditangisi" Jawabku tanpa berpaling.

"Aku heran." Gumam kakakku pelan.

Akhirnya aku berbalik dan menyunggingkan sebuah senyuman. "Pilihan-pilihan itu milik Migita. Jika dia bisa dengan tenang meninggalkan kita, mengapa kita harus bersedih? Siapa yang tahu dia sudah merencanakan semua ini jauh bertahun-tahun yang lalu?"

"Masih begitu muda, begitu cerdas..." Kakakku masih bergumam pelan sambil menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.

"Kita tidak tahu apa yang nyata, apa yang ilusi. Semua itu nyata bagi Migita. Kepedihan, kesunyian, kerapuhan dan kegilaan itu terlalu nyata untuknya. Tidak ada yang bisa menyelamatkannya, bahkan aku juga tidak bisa membuatnya untuk tetap kuat dan bertahan."

Aku kembali menatap langit senja dan menyadari sesuatu, bahkan untuk hal yang selalu bisa diperjuangkan, dalam hal ini 'harapan', selalu punya batas berbeda bagi setiap orang. Jika inilah batas harapan milik Migita, lalu batas mana yang akan menjadi milikku?  

Thumbnail from Tumblr.

 

  • view 232