Monolog Pribadi pt. II

Yessy Niarty
Karya Yessy Niarty Kategori Puisi
dipublikasikan 15 Juni 2016
Monolog Pribadi pt. II

Berkali-kali kututup hamparan layar putih didepanku. Berkali-kali kukembalikan berlembar-lembar kertas putih yang disodorkan padaku. “Aku tak punya alasan untuk berimajinasi.”, keluhku letih.

Ah, sedihnya. Sekejap saja semua hujan ide dan permainan kata itu lenyap, habis, bahkan keraknya saja tak tersisa. Membuatku mati rasa, pikiran, dan dera tak berguna berhari-hari. Apalah arti seorang perangkai kata tanpa kemampuan menyusun aksara menjadi makna?

Mungkin aku sedang haus. Bukan, bukannya aku mengidam zat cair bening bernama H2O itu. Lebih kepada haus batinku akan hadir dan bukti nyata keberadaan sosoknya. Pun aku terlalu memuja dan bergantung pada kata-katanya yang berujung kujadikan puisi dan filsafat di lembaran kosong yang mendadak terisi penuh. Lalu pada suaranya, kuulang-ulang dimemoriku bagaikan vinyl yang tak berhenti berputar. Terlalu akrab, selalu terasa bagaikan panggilan untuk pulang. Meski tak lebih dari sejam, cukuplah jadi permainan yang lebih indah dari resital manapun jua.

Sebelum lelap memeluk malamku, selalu kuingat lagi apa saja kebiasaanmu. Lagu apa yang tak bosan kau dengar, objek apa yang membuat matamu berpendar, menu yang kau pesan saat berkencan, atau apa saja kelakuanku yang membuat kau kesal. Kemudian kututup dengan khayalan indah tentang masa depan. Meski logikaku berontak, mau jadi apa jika lagi-lagi hati yang kecewa?

Mungkin logika saat ini sedang menang. Terbukti kau tak lagi datang menjelang penghujung saat kesendirian. Lalu pelan-pelan kuusahakan kerja otakku tanpa sentuhan kilas bayanganmu. Nihil. Nol besar. Meskipun tertulis, hasilnya tak lebih bagus dari tulisan sampah. Terhenyaklah aku bahwa logika mengharap kepiluan hati akan gagalnya aku memilikimu. Betapa kesedihan menjadi candu. Meski hatiku ngilu saat menyebut namamu hingga jelas di pendengaran.

Kembali kusiksa diriku sendiri, dengan mengulang apa saja yang sanggup kuingat tentang sosokmu. Meski yang paling tak ingin kuingat sedikitpun. Meski kumaki-maki hati lemahku. Kau tahu, semuanya tak lebih demi tulisan mendayu-dayu yang mampu memanipulasi mereka dengan kata-kata berbalut dusta akan bahagia yang dulu hingga sekarang aku sebut cinta.

Sumber thumbnail: di sini

  • view 85