Elegi Hujan

Yessy Niarty
Karya Yessy Niarty Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Juni 2016
Elegi Hujan

Adeline mengetuk-ngetuk kotak rokok dan pelan-pelan dikeluarkannya sebatang sambil meraih pemantik mungil yang selalu tersedia di dalam tasnya. Kini rokok tersebut telah terselip diantara bibir terpoles lipstik merah marun miliknya.               

Del, merokok itu gak baik buat kesehatan lo. Apalagi lo itu cewek. Gak kasihan apa sama calon bayi lo nanti?”

Kata-kata Satria yang bergema di sudut kenangan mampu membuat Adeline melempar rokoknya kembali ke meja. Sambil mengerang frustasi Adeline mengacak-acak rambutnya yang sudah awut-awutan dari tadi. Matanya kini menatap layar laptop di hadapannya. Ide-ide fantastis yang ditunggunya sedari tadi tak juga menampakkan diri.

Tiba-tiba pintu kamarnya dibuka dengan keras, membuat Adeline spontan membalikkan kursinya untuk melihat siapa yang telah kurang ajar mengagetkan dirinya yang kini berada di tepi jurang frustasi. Ternyata Yona, satu-satunya sahabat yang dipunyainya dan tentu saja satu-satunya orang yang tahu password apartemennya yang terletak di lantai dua puluh di gedung ini.

“Gue nungguin lo dua jam dan lo gak muncul-muncul juga!” Teriaknya kesal sambil berjalan dengan langkah menghentak-hentak ke arah Adeline.

Adeline hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya.

“Capek.” Alasannya.

“Masa sih?” Yona kini duduk di tepi tempat tidur yang berhadapan dengan kursi yang sedang diduduki Adeline. “Dandanan lo aja masih utuh begitu. Pasti ada apa-apa kan sampe lo tega gak muncul di pestanya Kirana?”

Adeline hanya mengangkat bahunya. “Santai aja sih. Toh, Kirana juga gak masalah gue datang apa enggak.”

Yona merengut kesal. “Bukan begitu! Masalahnya gue yang khawatir sama lo. Mana panggilan gue gak lo jawab-jawab. Buang aja tuh HP!”

Adeline tidak bereaksi apa-apa atas semua ungkapan kekesalan Yona. Dia mengurut-urut keningnya yang terasa semakin nyeri sejak kedatangan Yona.

“Lo kenapa sih? Sakit?” Tanya Yona khawatir.

Adeline menggeleng pelan. “Cuma pusing dikit. Habis lo bawel.”

Yona tertawa. “Kan gue khawatir sama lo.”

“Gimana pestanya? Pasti mewah banget ya?” Adeline berusaha mengalihkan pembicaraan meskipun dia sama sekali tidak tertarik dengan cerita pesta ulang tahun ke-24 seorang Kirana Harani, sang sosialita bermuka dua, setidaknya dalam kamus Adeline.

Yona memutar bola matanya. “Gila! Habis berapa ratus juta ya dia tahun ini? Eh, bisa jadi milyaran kali ya. Nyewa venue nightclub super mewah, belum lagi DJ yang dia undang itu ternyata beneran si Michael yang lagi naik daun itu loh. Lo nabung juga deh biar bisa ngundang DJ kawakan di ulang tahun lo yang akan datang. Oh iya, lo juga mesti lihat sendiri hadiah yang diberikan pacarnya....”

Bla, bla, bla...

Kata-kata Yona selanjutnya tak berarti apa-apa dipendengaran Adeline, tak lebih dari sekedar white noise seperti desiran pelan yang ditimbulkan mesin pendingin kamarnya atau ketukan pelan titik-titik air hujan yang baru turun membasahi dinding kaca apartemennya. Malah kini matanya terpaku pada lelehan air hujan yang kini membasahi bagian luar jendela kaca kamarnya.

“Del, biasanya kalo hujan suka dengerin lagu apa? Lo pasti dapat inspirasi keren-keren pas galau-galau hari hujan kan?”

Kembali kata-kata Satria menggema mengalir di ingatannya. Dasar laki-laki bodoh, rutuk Adeline. Dia tak butuh hujan dan galau untuk inspirasi menulis, dia hanya butuh Satria, dengan hanya mengingat wajah dan senyuman menawan itu, hujan ide-ide fantastis turun ke otaknya.

"Del, Del!”

Sontak Adeline tersadar dari lamunannya dan kembali memandangi Yona yang terlihat semakin kesal.

"Ah, Adel! Kebiasaan deh suka ngelamun kalau gue lagi bicara.” Rajuknya.

“Eh, sorry. Gue lagi gak bisa fokus nih seharian. Bahkan tulisan gue gak kelar-kelar juga. Padahal editor gue udah teriak-teriak deadline dari beberapa hari yang lalu.”

Wajah Yona langsung berubah. “Ya ampun, Del. Bilang kek kalo lo lagi fokus sama deadline tulisan-tulisan lo. Tau gitu gue gak bakal maksa lo buat datang ke pestanya Kirana. Sekarang gue jadi tambah nyesal, nih, karena udah ngomel-ngomel sama lo.”

“Ah, biasa aja. Tadinya gue emang niat mau nyusulin lo ke pestanya Kirana. Tapi, tiba-tiba gue jadi malas dan pengen beresin deadline dulu aja. Gue juga salah sih gak ngabarin lo.”

“Iya, iya. Santai aja, ah!”

Adeline tertawa geli melihat perubahan sikap Yona. Inilah yang selalu disukainya dari diri Yona, gadis ini sangat pengertian dan hatinya sangat tulus dibalik segala kenakalan dan salah gaulnya.

“Gimana kalo kita ke cafe di lantai tiga aja? Kayaknya gue butuh asupan kopi deh biar otak gue jalan dan gak mandek lagi.”

“Boleh juga. Kebetulan gue agak pusing dikit, nih. Mungkin kopi bisa hilangin mabok gue.”

“Lo minum lagi?” Adeline mengernyit tak suka.

Yona cengengesan. “Dikit doang, kok. Seteguk aja. Itupun dipaksa sama si Kirana.”

"Ah, apaan! Katanya mau berhenti dan tobat minum.”

“Lah, apa bedanya sama lo? Katanya mau berhenti merokok. Kok, itu ada rokok di atas meja lo?”

“Loh, kok malah ngomongin gue?”

“Ya gue gak terima aja diceramahin orang yang gak konsisten sama omongannya sendiri. Gak usah ngomongin prinsip dan kelakuan deh sama gue kalo lo sama aja!”

Adeline tertawa geli. “Itu rokok gak jadi gue nyalain kali!”

“Oh. Tapi lo hampir nyerah kan tadi? Kuat juga iman lo.”

Iya, semuanya karena omongan Satria yang selalu terngiang-ngiang di genangan memori otaknya.

“Jadi ngopi kagak?” Tanya Yona tak sabar.

“Ih, iya jadi. Ayo.”

---

“Gue baru sadar ternyata di luar hujan, Del.” Yona memegang cup kopinya dengan kedua tangannya, berusaha menyerap panas yang merembes.

“Habisnya lo agak mabok, sih. Makanya gak sadar dunia.”

“Apaan sih! Masih aja dibahas.”

Adeline tidak berkomentar lagi dan terus berjalan diikuti Yona menuju lift. Yona menekan semua tombol yang terletak di samping pintu lift.

“Ih, apaan sih, Yo. Cukup tekan tombol ke atas aja kali.”

Yona tertawa iseng. “Biarin aja. Biar cepat kita masuk ke liftnya. Habisnya di sini dingin banget.”

“Dasar kampungan.” Ejek Adeline.

Tak lama kemudian lift mulai bergerak turun dari lantai tiga puluh lalu berhenti di lantai tiga tempat keduanya berada. Tak lama kemudian pintu lift terbuka, Adeline dan Yona bersiap-siap akan masuk, namun langkah keduanya terhenti begitu melihat sepasang manusia yang sedang berangkulan di dalamnya.

“Adel? Eh, ada Yona juga.” Sapa sang lelaki sambil tersenyum sumringah. Sementara perempuan yang masih dirangkulnya erat menatap kedua gadis itu dengan rasa ingin tahu.

Adeline dan Yona tidak menjawab sapaan sang lelaki karena terlalu kaget.

“Mau ke atas, ya? Jadi naik gak?” Tanyanya lagi. “Gue sama Saras mau ke parkiran basement sih.”

Lagi-lagi keduanya hanya terdiam. Adeline menelan ludahnya yang terasa amat pahit dengan susah payah. Otaknya terasa lumpuh membuat semua inderanya tak mampu bereaksi.

“Oh, kita ntar aja deh naik liftnya. Nunggu lo turun ke basement dulu aja.”Jawab Yona akhirnya.

Sang lelaki hanya mengangguk pelan. Wajahnya terpampang emosi campur aduk yang sulit dijelaskan, kombinasi antara rasa bingung, sedih, dan merasa bersalah. Sementara perempuan yang bernama Saras kini menatap Adeline dengan rasa ingin tahu yang lebih besar daripada semula. Lalu pintu lift mulai menutupi pandangan mereka dan kembali bergerak turun ke bawah.

Adeline masih terpaku di tempatnya berdiri. Jemarinya menggenggam erat cup kopinya. Sulit baginya mencerna apa yang telah dilihatnya barusan. Seperti melihat hantu saja.

“Del, lo gak apa-apa?” Yona mengguncang pelan bahu Adeline.

Adeline tersentak pelan. “Oh, gak apa-apa.”

Lalu sunyi bergerak semakin cepat dan mencengkam hingga keduanya masuk ke lift yang kini telah kosong dan membawa keduanya ke lantai dua puluh tempat apartemen Adeline berada. Langkah Adeline terasa sangat pelan dan seakan tidak bertenaga saat dia kembali ke apartemennya. Bahkan dia hanya diam terpaku saat sudah berada di depan pintu, membuat Yona berinisiatif memasukkan password-nya.

Setelah pintu terbuka, Adeline seakan-akan dirasuki sesuatu membuatnya berjalan setengah berlari dan masuk ke kamarnya, membuat Yona kaget dan mengikutinya cepat. Adeline langsung meletakkan kopinya di samping laptop, lalu dengan tergesa-gesa dia meraih rokok yang tadi dilemparnya. Jemarinya menggigil saat berusaha menyalakan pemantik. Yona cepat-cepat mengambil alih pemantik tersebut dan menyalakannya untuk Adeline.

Gadis itu lalu menghisap rokoknya dengan takzim sambil memejamkan kedua matanya. Dia tak peduli lagi dengan gema nada mengingatkan tentang bahaya merokok dari Satria yang berputar di memorinya. Rasanya agak menyenangkan saat melakukan hal-hal yang tidak disukai Satria saat ini. Lalu dia berjalan gontai menuju sofa bulat nan empuk yang berada di tepi jendela kaca kamarnya. Yona hanya bisa menatap Adeline tanpa berani memulai sepatah katapun.

Titik-titik air hujan yang turun semakin deras. Adeline kembali menghisap rokoknya dalam-dalam sambil jemarinya mengikuti aliran lelehan hujan di kaca. Tanpa bisa dicegahnya, sebutir, dua butir air mata mulai turun. Lalu dia meletakkan kepala diantara kedua lututnya dan tangisnya semakin deras, seolah-olah bertanding dengan derasnya hujan yang turun di luar sana.

Yona mengambil sekotak tisu yang berada di atas meja lalu dia mulai berjalan mendekati Adeline dan duduk di sebelahnya. Tangan kanannya menepuk-nepuk pundak Adeline dengan penuh simpati.

Adeline mengangkat kepalanya dan menatap Yona. “Pathetic banget ya gue.”

Yona menyerahkan sekotak tisu ke pangkuan Adeline. “Wajar aja sih, Del. Siapa juga yang gak bakal patah hati dan kaget begitu melihat cowok yang selama ini dikira lagi ngedekatin lo eh tiba-tiba menjauh dan sekarang malah jalan sama cewek lain.”

Adeline mengusap air matanya dengan tisu. “Tetap aja gue pihak yang menyedihkan di sini.”

Yona memandang Adeline lekat. “Berhenti deh mengasihani diri lo sendiri. Lo itu kuat dan gak ada yang menyedihkan dari diri lo. Tuh cowok yang kurang ajar. Jelas-jelas dia itu PDKT sama lo selama ini. Sikapnya kelihatan jelas dan tentu saja karena lo juga suka sama dia, lo merasa dilambungkan tinggi-tinggi sama dia. Nah, kenapa sekarang tiba-tiba dia malah jalan dengan cewek lain?!” Yona mengatur nafasnya yang memburu karena emosi. “Lagian siapa sih si Saras ini? Datang dari mana coba?”

Adeline tersenyum getir. “Bagaimanapun, sejak awal gue udah kalah, Yo.”

“Lo ga kalah, Del! Emang Satria aja yang seenaknya mainin perasaan lo.”

Adeline menggeleng lemah. “Mungkin awalnya dia memang ingin memulai sesuatu yang baru dengan gue. Tapi gue bukan pilihan utamanya, gue hanya bayang-bayang dari gadis yang selama ini ada di hatinya dan gadis itu adalah Saras.”

---

Adeline ingat betul saat pertama kali dia bertemu Satria. Hampir setahun yang lalu, tepat 30 November. Adeline sedang kerepotan membawa dua buah kardus yang berisi berbagai macam buku favoritnya. Berkali-kali dia harus menggunakan kakinya untuk memindahkan kardus yang cukup berat tersebut, sementara kedua tangannya harus membawa satu buah kardus lagi menuju pintu lift.

“Butuh bantuan?” Sebuah suara renyah yang terdengar sangat bersahabat menyapanya.

Adeline yang sudah keringatan langsung menoleh. “Eh, serius?”

Laki-laki berperawakan tinggi ramping itu langsung mengangguk sambil tersenyum. “Serius. Kasihan mbak-nya kerepotan bawa kardus-kardus ini.”

Lalu dia langsung mengangkat kardus yang tadi didorong-dorong Adeline dengan kakinya dan mulai berjalan menuju pintu lift. Adeline tersenyum melihat ketulusan laki-laki tersebut lalu dia mulai berjalan mengikutinya. Tak lama kemudian keduanya telah berada di dalam lift yang kebetulan sedang kosong pada pukul 7 pagi tersebut.

“Agak berat loh, mas.”

Laki-laki itu tertawa ramah. “Enggak, enteng begini, kok.”

Adeline suka mendengar tawanya.

“Lantai berapa, mbak?”

“Dua puluh, mas.”

Lalu laki-laki itu menekan tombol dua puluh dan pintu lift mulai tertutup dan bergerak naik.

“Baru pindah?”

“Iya nih, baru kemarin saya pindah. Mas-nya tinggal di sini juga?”

“Iya, mbak. Tapi saya di lantai tiga puluh.” Jawabnya sambil tersenyum

Senyumnya manis juga, komentar Adeline dalam hati. Sebenarnya ini cowok biasa-biasa aja sih, tapi kepribadiannya yang bikin dia menarik banget. Adeline berusaha setengah mati untuk tidak menyuarakan kekagumannya pada laki-laki yang baru ditemuinya beberapa menit ini.

“Nah, udah nyampe, nih. Silakan mbak-nya duluan.”

Gila, sopan banget! Adeline berteriak di dalam hati. Gadis itu lalu tersenyum kemudian mulai berjalan menuju apartemennya diikuti laki-laki tersebut.

“Nah, ini dia apartemen saya. Nomor 209.” Adeline membalikkan badannya dan berhadapan dengan laki-laki yang telah membantunya. “Terima kasih banyak ya, mas. Kalau gak dibantu sama mas, saya pasti masih dorong-dorong ini kardus.”

“Sama-sama mbak, senang bisa membantu. Ini mau saya bantu angkatin sampai ke dalam atau di sini aja?”

“Di sini aja deh, mas, di dalam masih berantakan banget. Saya jadi sungkan.”

Laki-laki itu mengangguk dan meletakkan kardus yang dipegangnya di depan pintu apartemen Adeline. “Ada lagi gak mbak barang yang perlu diangkutin? Saya bisa bantu kok.”

“Kebetulan ini yang terakhir, mas. Tapi, terima kasih sekali lagi untuk bantuan dan tawarannya.”

“Iya, mbak. Saya senang bisa membantu.” Lalu laki-laki itu mengulurkan tangannya. “Oh iya, namanya siapa, mbak? Saya jadi lupa kenalan.”

Adeline langsung menyambut uluran tersebut sementara tangan kirinya masih memeluk kardusnya.

“Adeline, mas. Panggil aja Adel.”

“Gue Satria.” Katanya sambil tersenyum manis.

Begitulah awal perkenalan keduanya. Rasanya semuanya bergerak begitu cepat. Mulai dari bantuan tiba-tiba Satria yang berujung pada perkenalan diantara keduanya, diikuti perubahan panggilan dari saya menjadi gue, kemudian keduanya kembali bertemu hampir setiap pagi dan malam di dalam lift saat akan pergi dan pulang kerja. Keduanya menjadi semakin dekat dan akrab lalu berujung pada bergelas-gelas kopi dan berbagai macam menu makanan yang saling mereka bagi disetiap kesempatan acara hangout keduanya. Lalu Adeline mulai mengenalkan sahabatnya Yona pada Satria dan Satria juga mengenalkan sahabatnya sejak SMA, Ragi,  pada Adeline.

Banyak hal yang membuat keduanya menjadi akrab. Kepribadian Satria yang super humble mampu menyeimbangkan kepribadian introvert Adeline. Bagi Adeline, Satria adalah sosok cerdas dan sangat intuitif, membuat Adeline merasa nyaman untuk berdiskusi dan bercerita tentang apa saja padanya. Sangat jarang Adeline bertemu sosok laki-laki yang bisa diajak bicara enak mulai dari topik politik dan ideologi yang berat hingga hal-hal yang ringan semisal acara festival musik yang ingin dihadirinya.

Tanpa disadarinya, Satria menjadi aspek penting dari hidupnya. Satria tak hanya sekedar menjadi seorang teman yang menyenangkan, laki-laki itu mulai berkembang menjadi sosok yang menjadi inspirasi dari dunia seorang Adeline. Satria membuat ide-idenya mengalir deras. Tulisan-tulisan yang dihasilkannya selesai dalam waktu singkat dan menuai pujian dari sang editor.

“Del, Del!” Ariana, sang editor langsung menarik tangan Adeline begitu melihat sosoknya muncul di depan pintu kantor penerbitan. “Lo ingat kan tulisan yang sempat ditolak sama penerbit sebulan yang lalu?”

Adeline mengangguk dengan wajah bingung.

“Nah, kan gue suruh lo buat memperbaiki ulang plot-nya dua minggu yang lalu.”

“Iya, kan udah gue kirim ke e-mail lo tiga hari yang lalu. Tapi gue lupa sih bilang sama lo. Soalnya gue kira itu kan bahan tulisan sampingan. Katanya kita mau fokus sama tulisan gue yang lain.”

Ariana menjentikkan jemari lentiknya dengan penuh semangat. “Lupakan kata-kata tulisan sampingan. Sejak tulisan itu lo perbaiki dan gue baca plot yang lo tulis ulang, semuanya benar-benar luar biasa. Gak perlu dua kali buat meyakinkan pihak penerbit supaya tulisan ini kita kembangkan dan menjadi novel utuh.”

Adeline membelalakkan matanya tak percaya. “Seriusan, Ri?”

Ariana mengangguk senang. “Ya, iyalah. Masa gue bercanda soal kerjaan gini. Eh, tapi kok bisa sih lo mengubah plotnya jadi keren begitu? Ya  ampun, gue gak sabar menunggu kelanjutan ini cerita.  Benar-benar terasa nyata dan ide yang lo tuangkan juga anti-mainstream. Dapat inspirasi dari mana sih? Lo lagi jatuh cinta ya? Soalnya gue tau banget kalo selama ini lo agak payah diberikan topik cinta-cintaan buat nulis.”

“Apaan sih, lo!” Adeline mengelak, namun rona dan senyum di wajahnya tak bisa berdusta. Satria lah yang menjadi inspirasi tulisan-tulisan saat ini.

Bulan-bulan berlalu. Hubungan Adeline dan Satria berjalan baik-baik saja. Baginya tidak penting hubungan mereka berdua akan berujung ke mana, yang penting dia punya tambahan seseorang yang bisa dipercayainya dan membuatnya nyaman selain Yona. Gadis introvert sepertinya memang sulit menemukan seseorang yang bisa dia percayai untuk masuk ke dalam hidupnya. Jelas kehadiran Satria merupkan hal istimewa dan membuat hidupnya jauh lebih berwarna.

Adeline yakin jika saatnya tepat, pasti Satria akan mengungkapkan perasaannya. Meski ragu dan rasa takut memang kerap menghampirinya, bagaimana jika perasaan mereka tidak mutual? Bagaimana jika kebaikan dan keramahan Satria selama ini telah disalahartikan olehnya? Adeline paham betul bahwa jatuh cinta mampu menghitamkan logika dan membuat semua aksi orang yang dipuja sebagai tanda bahwa mereka juga memiliki rasa yang sama, padahal belum tentu demikian faktanya. Hanya saja Adeline yakin bahwa Satria pasti akan langsung menjelaskan batas-batas hubungan mereka jika ternyata perasaan ini hanya sepihak. Perasaannya yang lebih dari sekedar berteman dengan Satria jelas sangat terlihat, bahkan orang yang duduk di meja sebelah coffee shop yang selalu mereka berdua datangi tahu bahwa sang gadis memuja laki-laki yang sedang bercerita panjang lebar di hadapannya.

Adeline akan membalikkan badannya secara otomatis jika ada yang menyebut nama Satria, matanya akan membulat dan berbinar begitu menatap Satria, bibirnya akan mengembangkan senyum termanis begitu sang lelaki menyenangkan hatinya, dan tentu saja tawa lepas akan keluar dengan ringannya pada setiap lelucon yang dilontarkan oleh Satria. Bahkan Yona merasa tak percaya bahwa seorang Adeline, gadis yang sering dijulukinya memiliki gen Wednesday Addams, karena sikapnya yang cenderung dingin serta anti pada hal-hal yang berbau romantis dan mellow, bisa bersikap seperti ini pada Satria. Tak butuh waktu lama baginya untuk sadar bahwa Adeline telah jatuh terlalu dalam pada Satria.

Semuanya terasa hampir sempurna di kehidupan kecil seorang Adeline. Hingga pada suatu sore yang basah karena hujan yang terus turun tanpa henti sejak siang, semua yang hampir sempurna tersebut harus hancur berantakan. Awalnya dia janjian akan makan siang dengan Satria. Restoran yang biasa mereka kunjungi tersebut memang berada di tengah-tengah antara kantor Satria dan kantor penerbitan di mana Adeline melakukan meeting hari itu.

“Janjian makan siang sama si mas sumber inspirasi ya, Del?” Goda Ariana tak tahan melihat Adeline yang melangkah ringan sambil senyum masih menghiasi wajahnya.

“Namanya Satria.” Gelak Adeline. “Jangan godain gue dengan panggilan begitu ah!”

Lalu ponselnya berdering, ternyata ada sebuah pesan masuk dari Satria. Senyum di wajahnya pelan-pelan pudar.

“Kenapa, Del?”

Adeline menggeleng pelan. “Enggak apa-apa. Ini si Satria katanya ada urusan mendadak. Jadi dia gak bisa makan siang sama gue.”

“Ya udah, makan siang sama gue aja kalau gitu.” Tawar Ariana.

Adeline mengangguk lemah, jelas hatinya merasa kecewa. Satria belum pernah sekalipun membatalkan janji dengannya. Namun cepat-cepat dia menghapus perasaan tersebut, mungkin saja urusan ini benar-benar mendadak dan penting.

“Oke, gue makan siang bareng lo ya, Ri.” Lalu dia kembali mengetik sesuatu di ponselnya untuk membalas pesan Satria. “Gue ajak Satria ketemuan sore aja deh di coffee shop yang biasa kita datengin.”

Beberapa menit kemudian Satria kembali membalas pesannya dan mengatakan bahwa dia akan menemui Adeline di coffee shop langganan mereka pukul 5 sore nanti.  Sore datang juga dan Adeline telah datang lebih awal beberapa menit. Setelah memesan espresso yang selalu jadi pilihan kopinya, Adeline berkali-kali memeriksa ulang dandanannya dan menambah polesan lipstik di bibirnya. Tentu saja dia selalu ingin terlihat sempurna untuk Satria, meskipun hanya sekedar pertemuan kasual di coffee shop yang telah mereka lakukan berkali-kali.

“Emang penulis wajib banget kopinya espresso, Del?”

“Enggak juga sih. Cuma gue butuh kafein dosis tinggi biar bisa tetap waras dan konsen nulisnya.”

“Kalau gue sih cupu, Del. Paling tahan sama affogato aja, soalnya gue suka banget ice cream vanilla.”

Pelan-pelan espresso di cangkirnya tinggal setengah. Adeline menunggu lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, bahkan hingga tiga puluh menit. Gadis itu mulai gelisah, tak biasanya Satria telat. Berkali-kali dia berusaha menghubungi Satria, namun panggilan teleponnya tak kunjung mendapat jawaban dan belasan pesan yang dikirimnya juga tak mendapat balasan. Gelap mulai merayap di luar sana dan hujan masih terus turun tanpa ada tanda-tanda akan reda. Kini espresso-nya jelas telah habis tak bersisa.

“Adel!”

Adeline langsung membalikkan badan dan mendapati sosok yang tidak asing sedang berdiri di belakang kursinya. Rambut dan coat hitamnya agak basah terkena cipratan air hujan. Laki-laki itu langsung menarik kursi dan duduk di hadapan Adeline.

“Ragi?”

“Udah lama, ya?” Tanya Ragi was-was.

“Lumayan, sih. Gue lagi nungguin Satria. Tapi tuh anak belum muncul-muncul juga. Udah setengah jam gue nungguin dia di sini.”

Wajah Ragi langsung berubah membuat hati Adeline berdegup kencang. Sesuatu pasti telah terjadi.

“Pasti ada alasannya kenapa lo ke sini.”

“Itu...” Ragi tampak menimbang-nimbang apakah dia akan bercerita atau tidak pada Adeline. “Emang Satria yang nyuruh gue datang ke sini buat nyamperin lo.”

Adeline mengerutkan dahinya dengan bingung. “Loh, emangnya kenapa? Mana Satria?”

Ragi menarik nafas dalam-dalam. “Tadi siang dia ke bandara buat jemput seseorang. Terus sekarang dia masih harus nemenin orang itu.”

“Seseorang? Maksudnya siapa sih, Gi?” Adeline tak sabar.

“Saras...” Jawab Ragi pelan.

---

“Lo pernah patah hati gak, Del?”

“Gue?” Adeline tertawa keras. “Lucu banget sih pertanyaannya.”

Satria cemberut. “Kok lucu, sih? Patah hati itu kan menyedihkan. Bukan lucu.”

Adeline mengulum senyumnya dan menatap Satria dalam-dalam. “Iya, gue tahu kalau patah hati itu menyedihkan, karena sumber utama patah hati itu di saat kekecewaan terbentuk akibat harapan tak sesuai dengan kenyataan. Selama ini gue cukup sering kok patah hati. Apalagi saat naskah yang udah capek-capek gue tulis ditolak mentah-mentah sama penerbit.”

Satria tersenyum. “Iya sih, itu juga bisa bikin patah hati. Maksud gue, lo pernah gak sih patah hati karena seseorang yang lo cintai? Seseorang yang lo anggap istimewa dan dia lo pandang sebagai kekasih?”

Adeline mengangguk. “Pernah dan sejak itu gue berusaha mati-matian buat menjaga hati gue supaya tidak berharap banyak pada seseorang.”

“Kenapa?”

“Berani jatuh hati berarti berani pula patah hati.”

Satria tersenyum. “Jadi sudah beranikah lo buat jatuh hati lagi, Del?”

Adeline terperangah dan senyuman Satria sudah cukup menjadi jawaban atas getaran yang Adeline rasakan beberapa bulan belakangan ini sejak dia berkenalan dengannya.

“Lo sendiri gimana?” Adeline balik bertanya

“Gue pernah patah hati, Del. Rasanya sakit banget dan sampai sekarang rasa sakitnya masih terasa kalau gue ingat-ingat.”

“Siapa dia?”

“Seseorang yang berasal dari masa lalu gue. Dia yang sempat bikin hidup gue rasanya udah berakhir dan tidak berwarna lagi.”

Adeline menarik nafas dalam-dalam. “Lalu, apa sekarang lo siap jika harus menggantungkan harapan dan kebahagiaan lo pada seseorang lagi?”

“Tentu aja gue siap. Buat apa hidup kalau tidak mencoba lagi?”

Adeline tersenyum. “Kalau begitu, gue juga. Gue siap buat mencoba untuk jatuh hati lagi.”

Satria tertawa dan mengangkat tangannya untuk ber-high five dengan Adeline. “Toss buat kita para pejuang cinta yang tak takut mencoba.”

Adeline tergelak.

“Hanya saja, Del, kadang gue takut.”

“Kenapa?” Tanya Adel bingung.

“Semua hal yang ada pada lo benar-benar mengingatkan gue pada sosok yang berasal dari masa lalu gue.”

“Gue gak ngerti.”

“Ya gitu, kadang cara lo berpikir dan mengambil keputusan mirip dengannya. Bahkan selera musik, film, dan kegemaran lo sama dunia sastra benar-benar mengingatkan gue sama dia. Tapi, gak perlu lah gue ceritain lebih lanjut. Gak penting juga. Yang penting, lo janji ya, Del, lo gak akan ninggalin gue saat gue menggantungkan harapan gue sama lo?”

---

“Saras siapa, Gi?”

“Satria gak pernah cerita, ya?”

Adeline menggeleng. Wajahnya terlihat semakin bingung.

“Saras itu bisa dibilang sahabat kita berdua sejak SMA. Satria cinta mati sama dia sejak dulu. Gue tahu sejak lama Satria mendam perasaannya dalam-dalam pada si Saras. Dia selalu ada buat Saras, walaupun Saras telah berkali-kali ganti pacar, perasaan Satria buatnya tetap sama. Akhirnya, setahun yang lalu sebelum Saras pindah kerja ke Semarang, Satria ngungkapin perasaannya selama ini dan meminta Saras buat tetap tinggal. Dia pengen ngelamar Saras. Tapi gadis itu menolak dengan alasan bahwa karirnya lebih penting daripada Satria.”

Penjelasan panjang Ragi menyesakkan dada Adeline dan mati-matin dia menahan tumpukan air di matanya yang mulai memanas. Tidak, dia tidak boleh menangis di depan Ragi dan membuatnya terlihat menyedihkan.

“Sekarang Saras pulang. Itulah alasan mengapa Satria membatalkan janji-janjinya sama lo hari ini. Tadinya dia mau nyusulin lo ke sini, tapi sepertinya dia dan Saras harus membicarakan sesuatu dan gue gak tahu itu apa.”

“Apa dia gak bisa ngasi kabar ke gue? Apa gue gak penting di sini, Gi?”

“Itulah mengapa gue ada di sini, Del. Satria gak tega mengatakan semuanya via telepon apalagi pesan singkat. Jadi dia minta tolong ke gue buat nyamperin lo di sini dan menjelaskan semuanya. Satria janji dia akan bicara dan minta maaf langsung sama lo nanti.”

Adeline tertawa pahit. “Mau bicara apa lagi? Lagian ngapain minta maaf hanya karena tidak bisa datang ke sini?”

Ragi menarik nafas dalam-dalam. “Satria tahu bahwa ini semua akan menyakiti perasaan lo, Del. Satria gak mau lo kecewa.”

“Kecewa kenapa? Toh, dia harusnya tinggal ngasih kabar ke gue tanpa perlu repot-repot nyuruh lo ke sini atau sok-sok jagain perasaan gue.”

“Satria tahu lo suka sama dia. Semua orang di dekat lo juga tahu, Del.”

Kini air mata mulai jatuh di pipinya tanpa bisa dicegah. Ragi tampak bingung dan kikuk, tak tahu harus bersikap apa. Pelan-pelan dia menyentuh bahu Adeline dan mengusapnya.

Sorry, Gi.” Adeline cepat-cepat menghapus air matanya. “Gue gak bisa mengontrol emosi gue. Semuanya terlalu tiba-tiba. Harusnya gue emang gak pernah menggantungkan harapan dan perasaan gue buat seseorang terlalu tinggi. Jadinya sekarang gue harus menanggung beban saat kenyataan tak sesuai dengan khayalan dan harapan gue selama ini pada Satria.”

“Awalnya gue cukup heran melihat Satria dekat sama lo. Gue tahu bahwa selama ini Satria tidak pernah sedekat ini dengan cewek selain Saras. Gue kira dia telah melupakan Saras sehingga dia dekat sama lo, Del.”

Adeline tertunduk. Tidak, Satria tak pernah melupakan Saras. Justru dia mendekati Adeline karena gadis itu benar-benar mengingatkannya pada sosok Saras. Itulah yang membuat Satria pernah berkata bahwa dia berharap Adeline tidak akan mengecewakannya saat dia menggantung harapannya pada gadis itu, seperti yang Saras pernah lakukan padanya. Hati Adeline kecut, sekarang siapa yang malah menjatuhkan harapan yang telah dia gantung tinggi-tinggi?

---

Hujan di luar masih deras. Gelayut elegi kesedihannya terasa nyata di batin Adeline. Entah tepatkah balasan sikap dinginnya pada Satria belakangan ini? Dia menolak bertemu dan mengangkat telepon serta membalas pesan-pesan dari Satria. Kalau dipikir-pikir, Adeline memang berhak marah. Meskipun terkadang dia bingung, kenapa harus marah lama-lama? Toh, dia dan Satria belum melangkah ke tahap yang lebih serius, mereka masih berteman saat Satria berpaling pada Saras. Hanya saja Adeline merasa dipermainkan selama ini karena Satria memandangnya sebagai bayang-bayang seorang Saras, bukan dirinya sendiri.

Namun, bukankah ini yang namanya hidup? Adeline telah dengan suka rela menggantungkan harapannya pada Satria. Jadi dia sendirilah yang kini harus menanggung kenyataan yang menggigitnya. Kadang seseorang hanya ingin bahagia meskipun dalam prosesnya harus menyakiti orang lain, dan Adeline paham, Satria hanya ingin bahagia. Mungkin dia juga harus bahagia, dengan cara yang lain.

Thumbnail diambil di sini

  • view 226