Pelajaran dan Teguran dari Nostalgia bersama Timehop

Yessy Niarty
Karya Yessy Niarty Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 27 Mei 2016
Pelajaran dan Teguran dari Nostalgia bersama Timehop

Kemarin iseng-iseng aku download aplikasi Timehop, lalu aku sinkronkan sama Facebook, Twitter, dsb. Nah, siang ini muncullah memori 3 tahun yang lalu dari FB, aku nulis gini nih:

Wah, siapa sangka kesulitan dan sumber stress yang aku hadapi di zaman perkuliahan dulu itu tidak ada apa-apanya dengan tubian masalah yang sekarang menyerang. Tapi kemudian aku sadar, bukankah begitu hidup manusia? Semakin bertambah usianya, maka semakin besar juga tanggungan yang dia hadapi. Allah itu Maha Baik, Dia tak akan berikan cobaan yang melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Mungkin bagi seorang Yessy 3 tahun yang lalu tumpukan laporan praktikum, tugas menyusun menu lengkap hitungan gizi serta UTS dan UAS adalah suatu cobaan hidup, namun sesungguhnya Allah tahu, aku bisa mengatasi semuanya. Rasanya kalau dipikir-pikir, mendingan ngulang segala sumber stress 3 tahun silam dibandingkan harus menghadapi realita saat ini hehe. Eh tapi, tapi, selalu ingat janji Allah bahwa setelah kesulitan selalu ada kemudahan. Sabar dan tetap optimis sajalah.

Lalu Timehop kembali membuka memori 5 tahun yang lalu. Ya Allah, tak pernah disangka 5 tahun adalah waktu yang singkat. Ini membawa memori pada saat tahun pertama aku mulai kuliah di IPB. Jadi, aku nulis puisi yang rencananya mau diikutin lomba di kampus. Aku lupa ini buat event apa, yang jelas aku jadi perwakilan ikut lomba puisi dari kelompok asistensi PAI.

Nah, sebelum pusinya aku submit, aku posting dulu entah di notes atau status FB (lagi-lagi aku lupa). Niatnya biar dibaca dan dikasi masukan sama teman-teman FB. Syukurlah, emang ada yang mau bantu ngomentarin dan bahkan ngasi masukan serta ucapan good luck gitu. Kemudian aku tersentak saat membaca rentetan komentar yang totalnya mencapai 22 komentar tersebut. Beberapa dari mereka yang dulu akrab dan ngasi komentar yang bermanfaat itu kok sekarang tidak pernah lagi saling berkabar ya? Aku pun tak ingat entah kapan terakhir berkomunikasi dengan beberapa di antara mereka.

Pelan-pelan aku sadar. Lagi-lagi apa ini sifat alami manusia? Bahkan dalam berkawan, kita punya kapasitas yang terbatas. Aku akui, mungkin aku dekat dengan beberapa diantara mereka, namun pelan-pelan kehadiran mereka memudar akibat egonya jarak, waktu, dan pribadi yang mulai menemukan kenyamanan dengan orang-orang baru. Harusnya pantun klasik yang berkata ‘kalau ada teman yang baru, teman lama jangan ditinggal’ tetaplah jadi panutan dalam ingatan.

Ah, tapi aku hanyalah manusia biasa, sumbernya salah dan khilaf. Mungkin memang aku yang mulai sombong dan berhenti berkabar karena asyik main dengan teman dan sahabat-sahabat baru. Harusnya tak perlu begini. Meski aku punya kapasitas yang sangat kecil agar bisa tetap keep in touch dengan semua orang yang aku kenal, tapi paling tidak aku harus usaha untuk tetap dekat. Sisanya biar Allah yang atur. 

Demikianlah hasil renungan setelah dibuat nostalgia dengan Timehop. Mulai sekarang aku akan mulai menyapa beberapa teman lama jika bertemu selisih di halaman FB, syukur-syukur bisa bertemu selisih di jalan. Alangkah bahagianya jika kita masih terus dikenang orang, dan rasanya sangat menyakitkan saat kita mulai dilupakan orang.

Thumbnail diambil di sini

  • view 81