Merawat Prasangka Baik

Yeni Septi Ariyanti
Karya Yeni Septi Ariyanti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 Juli 2017
Merawat Prasangka Baik

Putaran waktu, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun membawa kita pada sebuah interaksi nyata maupun maya dengan manusia. 

Manusia yang dianugerahi Tuhan, akal, fisik dan hati bertanggung jawab menjaganya tetap seimbang. Seimbang dengan waktu. Seimbang dengan alam. Selaras dengan takdirNya.

Ribuan jam yang dilewati, ratusan hari yang disinggahi selayaknya membawa kita pada kedewasaan diri. Kebijakan akal. Kesempurnaan tawakal. Terkadang rencana dan mimpi kita tak sejalan dengan kenyataan yang Tuhan takdirkan. Bukan mimpi kita yang salah. Bukan takdir Tuhan yang tak adil. Tapi kita hanya perlu kejernihan hati untuk tetap berprasangka baik pada kuasaNya.

Mungkin Tuhan senang dengan tengadah doa-doa panjangmu. Tuhan senang dengan sujud-sujud khusyukmu. Tuhan rindu pinta dan tawakalmu. Hingga akhirnya sampailah pada kebaikannya mewujudkan mimpi dan rencana kita.

Janganlah mudah terombang ambing hanya karena komentar miring manusia lain atas hidupmu. Mereka hanya melihat luar bukan dalam jiwamu. Mereka hanya sanggup menyentuh luaranmu. Jangan sampai mereka terlalu dalam merusak jiwamu.

Sekalipun mereka sayang, tak mungkin menyelipkan luka dalam jiwamu. Bisa jadi mereka tak tau cara membimbingmu atau dirimu yang rentan pada penilaian luaran yang kadang semakin membuatmu rapuh dan terjatuh.

Menjadi dewasa lagi-lagi pilihan untuk benar-benar bisa menerima sepenuhnya takdir Tuhan. Melebihkan prasangka baik atas prasangka buruk. Melebihkan seruan positif dibanding negatif. Karena diri kita sendirilah yang paham siapa kita. Bukan mereka. Yang kadang tak mampu menjaga lisan mereka.

Prasangka buruk hanya akan memperkeruh suasana yang ada. Hingga kebaikan begitu sulit menembus muaranya. Muara segala kebaikan tercermin. Hati. Yaa..segumpal darah yang menjadi pusat rasa tuk memaknai segalanya. 

Rawatlah selalu hati itu. Jauhkan dari noda-noda yang merusak kesuciannya. Hingga mudah bagi kita merasakan bimbinganNya.

Beri makan hati kita dengan kebaikan-kebaikan yang berlipat-lipat. Asupan yang baik. Penjagaan yang sempurna. Agar tak ada celah keburukan menyiksanya.

~Yeni Septi Ariyanti~

  • view 71