Jejak doa itu..Kamu

Yeni Septi Ariyanti
Karya Yeni Septi Ariyanti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Juni 2017
Jejak doa itu..Kamu

Linimasa ini sudah lama sekali tak kusentuh. Tepatnya sejak aku memutuskan untuk tidak bertemu tulisanmu. Tulisanmu yang terinspirasi diriku. Yaa..itu katamu. 

Aku berjanji untuk tidak lagi menghantuimu. Menggangu ketenanganmu. Menggaduhkan langkahmu yang sering membuatku takjub. Tapi..katamu akulah alasannya.

"Kei, tugas resumenya liat donk. Buat cari inspirasi nih" Rosa menepuk punggungku yang sedang melamunkan sosokmu.

"Ada di meja di dalem buku merah. Ambil aja" pintaku pada Rosa untuk mengambil sendiri lembar kerjaku. 

..Pluuķkk

"Ini siapa?" Tanya Rosa sambil menatap lekat foto ukuran postcard yang terselip di buku merah.

"Teman.." jawabku enteng

"Sejak kapan kamu nyimpen foto laki-laki" selidik Rosa.

"Sejak aku mati rasa dan hilang malu" sahutku tanpa beban dan masih dengan posisi menatap monitor laptop tua pemberian ayah.

"Hmm..aku pinjam lembar kerjanya yaa. Fotonya aku simpan di dalam buku lagi" Rosa pun berlalu dan seolah paham aku sedang tak ingin banyak bergurau.

***

7 hari sebelum hari ini

"Kei, weekend ini pulang yaa Nak. Ibu mau kenalkan kamu sama anaknya teman lama ibu" pinta perempuan paruh baya itu dari sebrang telpon.

"Harus pekan ini kah ketemuannya bu?" Tanyaku masih tanpa semangat menggebu.

"Iyaa Nak..pekan depan dia ada tugas ke luar kota. Nanti susah lagi ketemunya Nak"

"Baiklah bu..insyaa Alloh Kei pulang" jawabku

***

Masih saja aku merapal doa dan namamu. Demi sebuah harap masih ada kesempatan kita memperbaiki yang pernah koyak. Tapi Tuhan sepertinya tak merestui. Semesta tak mendukung doaku. 

Ku putuskan aku pasrah dan memulainya kembali dari nol.

Aku tau ibu sangat ingin bersegera menimang cucu. Disaat beliaulah satu-satunya yang belum mantu diantara puluhan teman sejawatnya. Rasanya bagai luka sembilu. Setiap hari melihat lahir anak-anak lucu tapi itu bukan dari rahimku.

***

Hari pertemuan itu tiba.

Aku tak punya persiapan khusus untuk bertemumu. Nyaris biasa saja. Dengan kerudung velvet segi empat berwarna maroon. Dan ternyata kemejamu berwarna senada. Tanpa rencana untuk sewarna.

Malam itu kita bertemu, dua keluarga. Aku bersama ayah ibu dan kakakku. Kamu hadir bersama ibu dan kakak perempuanmu. Canggung? Pasti. Karena ini pertemuan pertama bagiku. Tapi tidak bagimu, karena ibu pernah menitipkan tulisanku untuk di publish di media online yang kamu pimpin. Biodataku pun sudah kamu pelajari lebih dulu. Aku? Nyaris tak ingin tau lebih tentangmu.

Acara makan malam yang begitu hangat. Itu yang ku rasa. Kita seperti sudah sekeluarga.

Keesokan harinya ibu mengajaku ke taman komplek sambil membeli beberapa tanaman hias. Ibu bertanya pendapatku tentang kamu. Dan aku hanya menjawab "dewasa" just it.

Jujur tak ada cela yang nampak di malam itu. Yang ada rasa kagum yang menjadi-jadi dari tingkahmu. Apalagi saat kamu begitu takzim pada ibumu. Aku makin jatuh hati.

"Lalu bagaimana?" Tanya ibu

"Bagaimana apanya bu?" Aku pura-pura tak paham.

"Cocok!" Tanya ibu memastikan

"Pas banget bu" jawabku.

Tanpa ku ketahui ternyata ibuku dan ibumu menyusun rencana khitbah. Tepatnya 3 hari setelah pertemuan pertama kita. Cepat. Yaa cepat karena ibu ingin ada ikatan walau sementara.

***

Siapa sangka doa yang ribuan kali ku rapal ternyata terselip namamu Mas. Pertemuan singkat. Perkenalan singkat. Membawaku padamu. Tidak ada pesta mewah. Bahkan rencana awal khitbah malah langsung nikah. Dan malam ini aku syahdu sekali menatap wajah pulasmu. Lelah setelah dikejar deadline liputan. 

Yaa aku paham. Bahwa niat baik akan bertemu niat baik. Harus disegerakan. Dan ibu membaca itu semua dengan baik. Segala kelebihanmu membuatku merasa tak pantas mendampingimu. Tapi katamu, dirimu lebih tak pantas meminangku. 

Akhirnya aku paham bahwa jejak doa itu.. Kamu...Mas

 

#cerpen #romantis #cinta

 

  • view 72