Meramu Bahagia

Yeni Septi Ariyanti
Karya Yeni Septi Ariyanti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 November 2016
Meramu Bahagia

"Kay, lihat ada siapa disana?" Celetuk Ami padaku yang asyik dengan buku baruku.

"Kay, dia ngobrol sama Laras!" Sambil menepuk pundakku Ami menatap pemandangan yang tak biasa siang ini.

"Kamu kenapa sih? Kamu gak mau nyamperin?" Tanya Ami padaku

"Gak ahh, aku kan udah bukan siapa-siapanya lagi" masih tetap menunduk, sekuat tenaga tak ingin menatap pemandangan yang disampaikan Ami.

"Pergi yuk!" Pintaku sambil menarik lengan Ami

***

Kalaulah indahnya cerita lalu bisa diulang lagi mungkin aku gak akan mengulangnya bersama dia. Dia yang dulu mengisi hariku dengan kisah manis sedikit romantis ternyata hanya masa lalu. Sudah ku kubur dalam kisah itu tapi siang tadi pemandangan itu mengingatkan aku pada masa lalu.

Dia yang dulu selalu ingin tau aku sedang apa, suka apa, mau apa. Kini bak luka sembilu tak peduli sedikit pun tentangku. Bahkan menyakitkan ketika sebentuk ucapan tak digubris sedikit pun. Rasanya memalukan mungkin jika masih bersamaku. Aku sadar kita memang sudah berbeda, dirimu yang begitu cepat melesat di level tertinggi dan aku mandeg masih disini. Masih meramu bahagiaku bersama waktu yang Tuhan beri.

***

Menjelang tidur aku biasa berselancar di beranda sosial media. Semua baik-baik saja. Aku berhasil menemukan ramuan bahagiaku.

Dan aku pun terlelap dalam sebuah mimpi buruk. Buruk sekali, kita benar-benar jauh terpisah. Jauh sekali.

Pagi selepas matahari terbit segera ku buka akun sosial mediaku. Iseng mengetik namamu. Nihil. Mimpiku benar-benar nyata. Aku tak menemukan namamu bahkan aku tidak akan pernah bisa berteman denganmu. Sedih. Secepat inikah. Tapi lagi-lagi takdirMu tak mampu ku tembus. Aku kehilangan. Kehilangan dirimu. Kehilangan bahagiaku. Seketika.

***

"Kay, kok lesu amat sih?" Ami membawakan aku jus buah naga merah sambil mencoba menerka apa yang sedang terjadi.

"Aku lagi gak mood aj kok. PMS kayaknya" sahutku

"Ahh biasanya klo PMS juga gak gini-gini amat. Yaelahh yang lama lupain aja sih. Klo dipikirin kasian yang baru klo mau dateng" celetuk Ami

"Apaan sih! Udahh ahh, main ke UI yukk. Kangenn" pintaku

"Hayukklah..mau naik apa nih tuan putri?" Canda Ami

"Naik kereta aja peri Ami.."

***

Tak terasa tiga puluh menit berlalu dan sampailah kami di masjid UI. Menatap sekeliling. Menikmati semilir angin di selasar kiri sambil memandang danau. Aku mohon izin pada Ami untuk sholat di lantai 2. Membiarkan dia berkeliling dan reuni bersama teman-temannya. Dan aku ingin berdua saja denganNya. Mengadu segala gelisah dan gundah gulana. Semoga ada solusi. Semoga hadir ketenangan dalam diri. 

Beginilah aku, selalu meramu bahagia denganNya tanpa sela tanpa jeda. Dekat dan begitu erat. Semoga selalu cintaNya melingkupi jiwaku yang rapuh.

"Haii kamu..selamat berbahagia"

~Kayla 

  • view 147