Moving Together, With You!

Yeni Septi Ariyanti
Karya Yeni Septi Ariyanti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Juni 2016
Moving Together, With You!

"Runa..kamu sudah tidur?" tanyanya sambil berbisik halus ditelingaku.

"Belum..aku hanya kelelahan" sahutku sambil membalikkan badan dan menatapnya lebih dekat.

"Ohh..maaf ya" balasnya sambil memijit kaki dan punggungku.

"Gak perlu minta maaf, aku yang trima kasih sudah dipijit gratis"

Yaa malam itu sudah hari ke tiga puluh aku membersamainya. Di hari ketiga puluh satu aku meminta untuk kita bisa tinggal mandiri, lepas dari orang tua. Aku yang meminta, dia hanya mendukung pinta seorang perempuan yang telah dinikahinya tiga puluh hari yang lalu. Fuad, dialah suamiku. Laki-laki yang berani mengambil alih pertanggungjawaban atas diriku. Ia begitu yakin aku mampu membersamai mimpi-mimpinya. Tampilannya yang sederhana membuat aku jatuh cinta untuk pertama dan terakhir kalinya pada makhluk yang bernama laki-laki. Sepanjang bersamanya belum terlihat marahnya yang menakutkan. Justru perhatiannya padaku, membuat aku sulit jauh darinya. Runa, yaa itu namaku. Nama panggilan kesayangan keluargaku. Sejak menikah aku merasa panggilan itu terdengar romantis saat Fuad yang mengejanya. Ahh mungkin ini yang namanya jatuh cinta, selalu terdengar beda padahal itu biasa.

***

Di suatu pagi..

"Dek..sore ini jalan yuk?"

"Jalan kemana Mas?"

"Ke hati mu.. "

"Ahh..mulai deh ngegombalnya. Basi tau.."

"Tapi suka kan?"

Huftt lagi-lagi aku tak mampu menutupi rasa suka yang menjadi-jadi setiap harinya. Selalu ada kejutan setiap hari. Selalu ada komunikasi setiap waktu. Begitulah komitmen kami di awal-awal pernikahan. Kami selalu berjanji untuk saling membersamai dalam suka maupun duka. Dua pekan yang lalu aku sakit dan dia gak usah ditanya perhatiannya. Kalah perawat-perawat di rumah sakit yang merawatku. Aku pikir sebagai bungsu, ia manja dan gak peduli tapi ternyata 360 derajat beda. Ia mandiri, sangat-sangat mandiri. Perhatian, sangat-sangat perhatian. Ia selalu mampu menutup celah kekuranganku. Ia pun merasakan aku pun mampu melejitkan potensinya. Yaa inilah kami yang saling melengkapi.

Pagi yang diawali gombalisme itu berlanjut ke kencan sore di taman komplek rumah kami. Ia tau sekali aku senang dengan ruang terbuka. Menikmati alam dan bercengkrama dengan tetangga. "Kamu butuh ketemu orang kalau lagi bad mood" selorohnya ketika aku sedang sensitif. Butuh aktualisasi diri buat buang energi negatif. "Gak usah ketemu orang deh, ketemu kamu aj cukup" balasku. Dan seketika ia akan ke kamar pura-pura tidur supaya gak denger celotehan beteku. Aku? yaa akan ngikutin dia ke kamar dannn... memeluknya erat sampai dia nyerah, hahaa.. kemudian berakhir dengan tawa kami yang beradu.

***

Menikah bagiku adalah sebuah keajaiban. Usiaku yang mendekati kepala tiga dan belum menikah membuat momok keluarga yang menjadi-jadi. Selalu saja tiap ada masalah ujungnya kapan nikah. Terdengar menyebalkan. Kadang aku menangis ditempat ketika orang-orang menanyakan hal yang serupa. Cengeng? iyaa aku emang cengeng. Totalitas kepasrahan sudah diambang batas maksimal. Aku hanya bisa berdoa dan berikhtiar memperbaiki diri. Hasilnya, semua sudah kuasaNya. Dan aku yakin DIA sudah mengatur dengan sebaik-baiknya. Dia akan pantaskan aku segera. Dia akan temukan aku dengan jodohku disaat yang tepat dan dalam kondisi yang siap. Yakinku.

Berbeda dengan Fuad. Fuad, yang usianya relatif lebih muda dariku terlihat lebih santai. Orang tuanya belum menuntutnya untuk segera menikah. Bahkan sudah beberapa kali ada yang minta dinikahi oleh Fuad. Aku yang sebelumnya tak tau perihal ini hanya terdiam menyaksikan idola cewek-cewek kampus yang kini tinggal serumah bersamaku. Inilah kuasaNya, tanpa cacat. Aku dan Fuad jangankan berinteraksi langsung tau namanya saja yaa baru di rumah Om Malik. Om Malik ini yang menjadi perantara kami bertemu dan hingga akhirnya menikah. Fuad di timur aku di barat. Ketemunya di tengah. Fuad sibuk dengan dunia organisasi dan bisnis di belahan timur jawa. Dan aku sibuk mencari jati diri di Jakarta. Kami bertemu di Semarang, rumah Om Malik.

Selepas ijab qabul diucap lantang dan fasih oleh Fuad, di kamar pengantin selepas sholat dhuha Fuad berceloteh "Runa istriku yang sholihah. Hidup itu seperti menaiki sepeda. Akan seimbang ketika terus bergerak. Begitupun pernikahan kita ini. Perjalanan pernikahan kita akan dinamis ketika ada warna di dalamnya entah warna suka maupun duka. Ketika kamu menemukan banyak warna suka maka jangan terlena dalam diam. Tularkan energi bahagia ke orang lain itulah berkah pernikahan yang sebenarnya. Ketika warna duka sedang menyelimuti, mari sama-sama mengintropeksi diri. Jangan diam dalam amarah dan kebencian. Itu gak sehat buat aku, kamu dan lingkungan sekitar kita. Kita pasti bisa melaluinya jika bersama"

Saat itu aku hanya menatap haru wajah kesungguhan Fuad. Tak kuasa aku pun memeluknya dan menangis di pelukannya. Fuad pun memelukku dan mengecup keningku sampai aku terlihat lebih tenang karena kami harus kembali menjamu tamu di luar sana.

Inilah yang aku sebut bahwa menikah itu keajaiban. Anugerah yang Tuhan beri dengan penuh kesempurnaan.

***

Hari ke empat puluh

"Dek.. Mamah datang?"teriaknya

Aku pun bangkit dan mengganti lamunan kenangan awal menikah dengan semangat menyambut ibu mertua yang datang membawa nasi padang buat menantu yang lagi ngidam :)

 

 

 

  • view 125