MENAHAN AMARAH

Yeni Septi Ariyanti
Karya Yeni Septi Ariyanti Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Juni 2016
MENAHAN AMARAH

Siapa yang mampu tetap tenang dalam tuntutan? Bertahun-tahun saya terjun di dunia organisasi baru kali ini saya harus sering mengelus dada dan beristighfar (red: mohon ampun). Amanah itu hadir dan menuntut totalitas dalam pelaksanaannya. Saya yang tergolong perfectionist selalu ingin semua pekerjaan sempurna. Menghasilkan yang terbaik. Seoptimal mungkin, meminimalisir kesalahan dan kealpaan yang terjadi. Saya detail sekali dalam menyusun rencana tapi tetap saya butuh dukungan untuk mewujudkannya. Dua bulan terakhir ini ada beberapa kegiatan yang beruntun harus diadakan.

Saya berusaha mengoptimalkan semua potensi pengurus yang ada. Di awal saya sudah menanyakan berulang kali siapa yang siap memfollow up acara ini. Tapi semua menggampangkan. Apalah artinya acara besar tanpa follow up. Saya sudah sering menyaksikan acara besar tanpa follow up yang jelas dan terarah. Sampai acara berlangsung, saya masih menanyakan siapa yang mau membantu follow up acara ini. Nihil. Semua seolah pingsan tanpa pesan. Hingga hari follow up tiba, malam sebelumnya saya tidak bisa tidur karena memikirkan siapa yang siap memfollow up. Ingin berteriak dan marah seketika itu. Tapi rasa itu tertahan di tenggorokan. Menyesakkan di hati.

Akhirnya saya juga yang harus turun langsung memfollow up acara. Saya suka bertanya pada diri saya sendiri, apa sebenarnya yang mendasari seseorang ikut dalam event atau organisasi. Apakah hanya sebuah aktualisasi diri tanpa makna. Tanpa makna jika kita hanya mau muncul saat event terjadi. Tapi menghilang saat harus membersamai peserta. Saat rasa marah itu hadir maka saya sejenak menghela nafas dan berdzikir. Ketika genangan air mata tak tertahan, saya biarkan ia mengalir membasahi wajah saya yang sedang tegang.

Lagi-lagi saya belajar bagaimana memanaj perasaan saat berorganisasi atau berinteraksi dengan orang lain. Terkadang bahkan sering saya harus mengorbankan perasaan saya. Sampai seorang teman pernah mengingatkan "Don't bordon yourself! kamu berhak bahagia juga". Tapi lagi-lagi saya mengingat kembali alasan-alasan kenapa saya mau berada dalam perkumpulan manusia. Ini sebuah pembelajaran mungkin ini saatnya saya menahan marah. Bisa jadi disaat yang lain mereka pun menahan marah atas diri saya. Melapangkan hati dan berusaha memaafkan.

  • view 101