Hujan

Yeni Ratnasari
Karya Yeni Ratnasari Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Maret 2016
Hujan

Hujan malam itu begitu deras. Pukul 19.15 setelah sholat isya . Tidak membawa mantel untuk segera pulang. Akhirnya tertahan menunggu hujan reda di dalam masjid yang memang cukup jauh dari tempat tinggal. Disana bukan hanya aku, aku bersama kak sakhila. dan seorang laki laki yang tengah membaca alquran sembari menunggu hujan reda juga.Dia adalah kak Azmi. Kami bertiga.

Aku berdiri dan mengambil buku catatan kecilku dari dalam tas. Berharap ada ide yang bisa aku rangkai menjadi puisi di waktu itu. Aku keluar , merasakan hembusan angin malam yang dingin dan air yang ku tadah dengan jemari ku. Sangat segar. Aku kembali lagi ke dalam. Aku berdiam diri di jendela kaca di sebelah pintu masjid. Masih memandang hujan yang semakin deras. Dan merasakan sepoian angin yang menerobos lewat celah jendela kaca. Sesekali aku menengok ke arah kak Azmi. Dan dia tengah berbaring dan sudah selesai membaca Al-Quran.

Pukul 19.45

"Kalian gak bawa jas hujan?", tanya kak Azmi yang mungkin sedari tadi melihatku mondar mandir terlihat ingin segera pulang, atau mungkin bukan aku tapi kami.

"Ngga", jawab kak sakhila.

" Ya udah itu pake mantel ku aja?", tawar laki laki itu.

"Ngga deh.. nunggu reda aja?", jawab kak sakhila lagi.

Aku hanya menyaksikan percakapan mereka. Ya , karena aku belum terlalu mengenal laki laki itu dengan dekat. Hanya sekedar tahu nama. Tapi aku jadi paham dan bertanya dalam hati, "Kenapa kak Azmi tidak pulang duluan? kan dia bawa mantel..".

Aku melanjutkan menulis .

10 Mei 2014

Dingin berhembus diantara malam tanpa sinar bulan
Tetesan air yang menghiasi jatuh dari langit itu
Segar memecah kegerahan hingar bingar sang cuaca
Kulihat rintikan itu dibalik jendela kaca kecil ini
, bergemuruh dan berdenting berjatuhan menerpa permukaan bumi ini
Subhanallah..
"segar hujan malam ini..",gumamku
Dengan cahaya kilatan yang sesekali terlihat.
"Oh Allah..Kau turunkan hujan ini dan mengizinkanku bisa melihat nya, disini..aku bersamanya, didepan mataku ia ada..nyata, Tapi Allah.. aku tak kuasa memandang nya [kak Azmi]".

Pukul 20.07

"Alhamdulilah udah reda.. yuk pulang", ajak kak Sakhila.

Aku merapikan tas ku, tak lupa memasukan buku catatanku. Kami bertiga akhirnya bisa pulang. Kak Azmi sosok orang yang tak banyak bicara, apalagi kepada sesorang yang belum terlalu ia kenal seperti aku contohnya. Namun aku senang bisa bersama nya. Meskipun kak Azmi boleh jadi tidak akan pernah mengetahuinya.

  • view 105