Pagi dan Hujan

Yeni Ratnasari
Karya Yeni Ratnasari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 Agustus 2017
Pagi dan Hujan

Sabtu, 29 Juli 2017

Pagi ini, awan hitam berarakan tertiup angin. Yap, cukup tebal dan tersebar merata diseluruh langit yang ada dalam jangkauan mataku. Hujan mulai merintik. Gemuruh sungai terdengar dengan jelas bertanda kuantitas airnya bertambah dan sesekali terdengar guntur samar-samar ditempat lain. Mendung, begitu mendung. Semakin pekat. Langit seperti telah siap menurunkan berkah dari Nya. Lagi, untuk hari ini setelah dini hari tadi.

“Ayo berangkat sekarang, nanti hujannya keburu deras”, seru kakak ku kepada keponakanku yang harus berangkat sekolah. Aku mengurungkan diri untuk mengepel lantai luar karena gerimis yang ternyata semakin merapatkan tetesannya.

“Aku aja yang nganterin”, pintaku. Aku segera mengeluarkan motor dan memanaskannya sebentar. Keponakanku berpamitan dengan mama nya.

“Ayo naik, tapi dibelakang ya biar seragamnya gak basah”, kataku kepada Melin keponakanku yang sudah akan naik didepan.

“Pegangan ya”.

Jalanan lumayan basah membuat ku melajukan motor dengan pelan. Gerimis kecil ini sudah cukup membuatku harus menyipitkan mata karena percikannya. Dingin dan lembut, begitulah rasanya ketika gerimis menyentuh wajah dan tanganku.

Hanya butuh waktu kurang lebih 5 menit untuk sampai tepat di depan gerbang sekolah. Keponakanku segera turun, menyalami tanganku dan segera berlari ke dalam sekolah. Gerimis berubah menjadi rintikan yang lebih deras segera setelah aku sampai di rumah. Suaranya menjadi lebih terdengar. Entah berapa kecepatan setiap titik air hujan itu jatuh dari langit hingga ke permukaan tanah. Dentumannya lumayan keras di genting apalagi dengan beribu ribu titik air yang jatuh. Beruntungnya mereka benda yang lembut, tidak merusak apa yang dijatuhinya.

Aku melihat si meong meringkuk asik disamping boneka yang digeletakan sepupuku begitu saja di kursi luar. Sepertinya si meong begitu kedinginan. Karena aku melihat beberapa kali si meong membenarkan tidurnya, menyelundup-nyelundupkan kepalanya dikaki dengan tangan menutupi matanya. Hampir menjadi bulatan kucing yang sempurna. Kaki dikepala, kepala dikaki. Kali ini aku sedang tidak ingin mengganggu si meong, lebih tepatnya mengurungkan niat untuk mengganggu si meong, mengingat aku belum bersih-bersih rumah.

...

Hujan turun bertahan cukup lama dan reda sekitar pukul 10.00 pagi ini. Matahari sedikit menampakan sinar emasnya meski sebentar, karena setelah itu langit redup lagi oleh awan-awan yang masih mendung dilangit meski tidak sehitam tadi pagi. Aku sedang menyibukkan diri didepan laptopku, sedang berusaha menyelesaikan cerpenku yang sudah seminggu belum selesai selesai. Sesekali melihat keluar jendela kaca dari ruang tengah. Hujan sudah benar-benar reda. Aku menghentikan sejenak menulisku dan beranjak mengambil lap dibelakang untuk membersihkan lantai luar rumah yang kotor lagi.
Tiba-tiba....

  • view 18