Sayyidati Hajar: Mengajar Membuat Saya Bahagia

Yehan Minara
Karya Yehan Minara Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 November 2017
Sayyidati Hajar: Mengajar Membuat Saya Bahagia

 
Di perjalanan saya banyak sekali di pertemukan dengan para perantau dari Timur. Ada yang kuat dan bertahan di belantara kota hingga lupa pulang, namun lebih banyak yang memutuskan pulang membangun kampung halaman. Salah satunya adalah Kak Sayidati Hajar, perempuan lembut asal Nikiniki Timor Tengah Selatan. Saya bertemu dengannya atas rekomendasi Bang Boli, dan saya bersyukur, akhirnya di kontrakannya yang sederhanalah saya bisa istirahat dengan tenang dan nyaman sebelum saya melanjutkan perjalanan menuju Timor Leste.
 
"Buat saya, tanah kelahiran itu seperti ibu. Ketika ibu memanggil siapa yang bisa menolak? Tidak ada to?. Dan karena itulah saya memutuskan kembali ke kampung halaman, menjadi seorang pengajar" ungkap Kak Hajar di awal cerita.

Alasan kepulangan Kak Hajar ke kampung halaman, isi kontrakan yang penuh buku, penyuka sastra, teater, bermimpi membangun taman baca adalah sebuah pertemuan dan perpaduan yang mengesankan antara saya dengan Kak Hajar. Datang ke kontrakan dan mendengarkan cerita Kak Hajar saya seperti pulang ke kontrakan saya di Banten, lalu melepas rindu dengan para buku-buku saya dan dua sosok yang sudah mengisi hari-hari saya selama di sana: Ye dan kakak. Yang membedakan saya dan Kak Hajar adalah bahwa ia bermimpi dan ingin selalu bergelut di bidang pendidikan, sementara saya memilih menggelandang dijalanan.

Ada kisah yang tak bisa di lupakan oleh Kak Hajar, tentang bagaimana ia bisa mengoleksi buku-buku terutama buku-buku sastra. Yaksh, semua berawal dari acara bulan bahasa di kampusnya. Saat itu, Kak Hajar di minta menjemput Pak Sapardi Djoko Damono di rumahnya, yang kebetulan menjadi bintang tamu untuk acara bulan bahasa itu. Saat sampai di rumah Pak Sapardi, Kak Hajar langsung di sambut ribuan buku di rumah Pak Sapardi, dari ujung ke ujung dari sudut ke sudut, isi ruangan itu penuh dengan buku. Dan itu cukup membuat Kak Hajar takjub, dan seketika motivasi memiliki rumah yang penuh dengan buku pun muncul. Kini, satu-satu Kak Hajar mulai mengumpulkan buku, tujuannya pun semakin berkembang, dari hanya ingin mengkoleksi saja, sampai ingin membuka taman baca untuk mahasiswa nya di Universitas Muhammadiyah Kupang.

Mimpi Kak Hajar yang ingin konsen di bidang sastra, pendidikan dan turut menjadi bagian dari keberhasilan mahasiswanya dalam belajar, benar-benar membuat saya kagum. Kak Hajar sudah mempersiapkan semuanya dari sejak ia masuk Unindra-Jakarta. Di sana ia mengambil jurusan Pendidikan Sastra Indonesia untuk S1 dan Pendidikan Bahasa Indonesia untuk S2. Saat tengah menyelesaikan studi S1 dan S2, Kak Hajar mengisi waktunya dengan mengajar privat dan menjadi guru Bahasa Indonesia di sebuah sekolah menengah pertama dan tentu sekaligus bergiat di Ranggon Sastra-Jakarta yang mana ia dan teman-temannya menjadi angkatan pertama untuk komunitas yang bergiat di bidang drama dan tulis menulis tersebut. Kini Kak Hajar sudah menjadi dosen untuk mata kuliah Sastra Indonesia.

Dan rasanya baru dua kali ini saya memiliki perasaan senang ketika ngobrol tentang dunia pendidikan dan ngajar-mengajar. Pertama dengan Ye, kedua dengan Kak Hajar. Dengan Ye, saya selalu kagum pada cara-cara kreatifnya dalam membuat anak-anak betah di ruangan, menurut dan tenang selama ia mengajar di SD, lebih lagi ia adalah sosok guru yang kuat dan paling sabar yang pernah saya kenal. Sementara Kak Hajar, saya juga menemukan kesabaran dan ketegasan luar biasa luas dalam menghadapi murid dan kini mahasiswanya.

Kak Hajar berkisah, selama ia mengajar, ia pernah juga menampar seorang murid dan memarahi mahasiswa. Itu di lakukan Kak Hajar, karena sudah melewati batas. Menurut Kak Hajar, murid dan mahasiswa yang dalam pengawasannya ini sudah bertindak tidak sopan, dengan memamerkan gambar kelamin yang ia gambar tanpa merasa bersalah dan mencontek saat ujian. Itulah kenapa, Kak Hajar menampar dan memarahi murid dan mahasiswa itu. Bagi Kak Hajar, memiliki sikap sopan adalah karakter yang harus di bangun sejak dini pada anak-anak bahkan mahasiswa dalam menempuh dunia pendidikan. Kadang Kak Hajar merasa sedih, ketika banyak orang tua yang datang ke sekolah hanya menanyakan nilai si anak tanpa bertanya perihal attitude si anak selama disekolah. Padahal menurut Kak Hajar, mau berapapun prestasi dan nilai tinggi si anak, itu tetap harus sejalan dengan sikap dan karakter yang baik, yang  kelak bisa dijadikan pegangan untuk si anak itu sendiri ketika mulai hidup di masyarakat sosial. Meski begitu, Kak Hajar, selalu bersikap terbuka di depan murid dan mahasiswanya. Ia tak segan-segan bertanya dan meminta maaf pada si murid karena ketegasannya itu. Bagi Kak Hajar ini penting dilakukan, sebab dari sanalah  ia bisa merangkul seluruh murid dan mahasiswanya tanpa ada sekat karena ketegasannya. Dan karena ketegasannya itu, Kak Hajar sempat dijauhi oleh teman-teman sesama pengajar. 

"Mengajarkan sikap yang baik pada anak-anak dan bertemu mahasiswa di kampus dengan keadaan pikiran dan hati mahasiswa yang benar-benar "kosong" adalah tugas paling berat yang pernah saya rasakan selama mengajar. Terlebih lagi untuk para mahasiswa, jika mereka mau meluangkan waktu sedikit saja untuk membuka dan membaca buku, saya jamin kelas itu akan ramai dengan diskusi-diskusi santai. Tapi ini, kadang di pancing-pancing pun masih saja sulit" Tentang ini Kak Hajar tak sepenuhnya menyalahkan mahasiswa, ia bisa maklum sebab kondisi sumber buku di NTT memang benar-benar minim. Itulah kenapa, Kak Hajar sangat ingin membuat perpustakaan dan taman baca bagi mahasiswa, saat ini ia benar-benar merindukan akses bacaan yang mudah seperti yang ia dapatkan selama di Jakarta sana, tapi ia tak mau patah semangat karena keterbatasan itu. Justru dari sanalah ia bermimpi bisa menciptakan akses bacaan yang mudah bagi para mahasiswanya dan masyarakat NTT pada umumnya.

Buat saya, Kak Hajar adalah salah satu dari sebagian kecil pendidik yang menyukai buku bacaan dan kini sedang mempersiapkan taman baca untuk mahasiswanya, di antara ribuan pendidik yang ada. Ini penting, kehadiran pendidik, entah itu sebagai guru anak-anak sekolah dasar hingga sekolah menengah sampai dosen, buku itu harusnya menjadi kebutuhan utama untuk mereka. Sebab, profesi sebagai pendidik memang seharusnya tidak jauh-jauh dari buku bacaan yang dengan begitu mereka bisa membuat karya ilmiah dan kembali bisa dijadikan acuan untuk belajar para murid dan mahasiswa-mahasiswanya.

"Saya bahagia menjadi seorang pengajar dan saya tidak mau berhenti karena keterbatasan-keterbatasan buku atau dijauhi pengajar lain karena saya memiliki cara mengajar dan mendidik yang berbeda dengan mereka" ungkap Kak Hajar di akhir cerita.
 
 
 

  • view 131