Zaeni Boli: Saya Pulang Untuk Membangun Kampung Halaman

Yehan Minara
Karya Yehan Minara Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 November 2017
Zaeni Boli: Saya Pulang Untuk Membangun Kampung Halaman

 
Jika bicara tentang kota besar seperti Jakarta, selalu yang terlintas di benak saya adalah persaingan, kepadatan dan materi. Dan seumpama saya mencoba menyemai impiam-impian kecil saya di kota bernama Jakarta, seperti: berkebun dibelakang rumah, membangun taman baca dan membuka kedai kopi duren, rasanya itu sesuatu yang tidak mungkin. Membayangkan saja rasanya sudah tidak sanggup. Itulah kenapa, di saat banyak orang berbondong-bondong memadati Jakarta, saya memilih menyepi di jalanan, melihat sudut-sudut Indonesia, sambil mencari tempat yang tepat untuk menyemai impian kecil saya itu. Dan saya tahu, saya sudah menemukan tempat itu. Tapi, saya akan ceritakan tempat indah dan nyaman  itu nanti di lain waktu. Kali ini, saya ingin bercerita tentang seorang sahabat, yang akhirnya juga memilih meninggalkan Bekasi-kota besar yang ia singgahi selama 3 tahun untuk menyepi ke kampong halaman dan menyemai impian-impian besarnya benar-benar dari nol, sahabat saya itu adalah Zaeni Boli dan saya biasa memanggilnya Bang Boli.

Hampir satu minggu lebih, sejak saya singgah di Larantuka dan kini di Kupang, saya memang intens bertemu dengan abang. Bersama dengannya, saya lebih banyak menghabiskan waktu diskusi santai tentang hal-hal remeh soal seni, literasi, bercocok tanam dan sesekali juga ngobrol soal jodoh masa depan. Kami biasa menghabiskan waktu seperti itu di pinggir rumah, dermaga dan kadang di taman kota. 

Bang Boli, di mata saya sama halnya dengan para pejuang mimpi seperti sahabat-sahabat saya di Banten sana. Sebagai seseorang yang hanya memiliki ijazah Aliyah, perjuangan untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang layak pun sulit. Sales penyedot WC, jaga toko foto kopi, jualan buku di UIN Bandung, menjadi pegawai di stim motor bahkan menjadi seorang Santarklous di hari natal adalah bagian kecil kerja serabutan yang pernah Bang Boli jalani. Hingga kemudian, Bang Ane Matahari menemukannya dan mengajaknya berkesenian di Sastra Kali Malang-Bekasi. Dari sanalah Bang Boli mengembangkan bakat seni yang nurun dari ibunya itu dengan bersungguh-sungguh. Berpuisi, berteater, bermonolog, adalah kegiatan sehari-hari selama tiga tahun hidup di bawah bimbngan Bang Ane, yang akhirnya memberikan Bang Boli kesempatan bertemu dengan banyak komunitas sekaligus berkenalan dan berkawan dengan para penyair dan para penulis. Kini sudah lima bulan Bang Boli hijrah ke kampong halaman. Perasaan sepi dan bingung hendak melakukan apa, langsung ia enyahkan jauh-jauh dengan segera menggelar mojok baca di depan rukonya. Sekarang baru ada lima puluh judul buku lebih yang tersedia di Mojok Baca Lautan Ilmu miliknya. Meski pengunujngnya belum seberapa, tapi melihat gairah para pengungjung yang membaca buku-bukunya, membuat Bang Boli harus lebih giat dan bersemangat lagi untuk menambah menu bacaan di mojok bacanya. Bahkan jika ketersediaan buku bacaanya sudah lengkap, rencanya Bang Boli ingin menggelar mojok baca di taman kota dan pusat-pusat keramaian di Larantuka. Baginya, itu adalah cara sederhana untuk menebarkan virus baca pada masyarakat di sekitarnya.
 
Malam ini, sambil menanti persiapan panggung Bulan Bahasa di lapangan Universitas Muhammadiyah Kupang, di mana Bang Boli di undang sebagai pengisi acaranya, saya kembali menanyakan alasan mengapa ia memilih pulang kampong, padahal setahu saya di Bekasi, kesempatan untuk berkresi di bidang seni dan pekerjaan lebih mudah dari pada di kampong halaman. 
 
“Apa yang kehilatan mudah itu sebenarnya tidak selalu mudah. Hidup dari berkesenian di Jakarta barangkali adalah sebuah kesempatan emas bagi yang bersungguh-sungguh. Tapi buat saya itu adalah tantangan berat, apalagi setelah Bang Ane pergi. Selama ini saya selalu memiirkan seni-seni-seni tanpa sebuah pemasukan. Dan sekarang saya sadar, bahwa hidup bukan hanya soal seni, ada realitas lain yang harus saya jalani dan memikirkan hal Itu matang-matang sekaligus mencari jalan keluar, yakni: saya harus mendapatkan inkam yang pas untuk mewujudkan seluruh impian-impian saya, dan saya tahu untuk mencapai semua itu ternyata tidk mudah. Harus saya  akui, peluang pekerjaan di Bekasi memang banyak, tapi yang saya rasakan pemasukannya pun sedikit. Itulah kenapa saya memutuskan untuk pulang kampong” ucap Bang Boli dengan mata berkaca-kaca, saat mengingat kenangan-demi kenangannya bersama Bang Ane dan teman-teman Sastra Kali Malang di Bekasi sana. 

“Memang konyol. Di saat banyak orang berfikir bahwa hidup di kampong halaman itu bukan sesuatu yang menjanjikan, entah mengapa di sanalah saya melihat peluang. Peluang ini bukan hanya sola inkam, tapi soal kesempatan bagi saya untuk  hijrah, menata hidup supaya lebih terarah, belajar membuka mini usaha, mengembangkan Mojok Baca Lautan Ilmu, sekaligus belajar, bergiat dan berbagi ilmu berkesinan bersama para seniman di kampong halaman. Dan di sini saya merasa hidup saya lebih terarah dan bergairah” tambahnya lagi.
 
Inilah yang membuat saya kagum dengan orang-orang dari Timur Indonesia yang saya temui di perjalanan salah satunya seperti Bang Boli ini. Bang Boli tak ragu pulang ke kampong halaman dan bercita-cita membangun kampong halaman lewat seni dan literasi seperti yang lebih dulu dilakukan oleh para senior-seniornya di Asosiasi Guru Penulis Indonesia atau yang biasa di sebut Agupena Flotim. Bang Boli bersyukur bisa bertemu dengan kawan-kawan Agupena dan ia sangat mengapresiasi karya-karya nyata mereka baik di bidang literasi maupun sosial. Bang Boli berharap, ia bisa bertemu dengan lebih banyak lagi para pegiat literasi dan seni, dan bersama-sama menjadi bagian dari perubahan Flotim ke arah yang lebih baik.
 
Barangkali Bang Boli tak akan pernah tahu, bahwa saya telah mencuri secuil keberanian mengambil keputusan yang ia miliki. Ah sudahlah. Sesungguhnya saya hanya rindu ingin pulang.
 
#catatanharian #eastnusatenggara #traveling #travellife #travelstory

  • view 214