Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Budaya 21 Juni 2017   21:25 WIB
Proses Perjalanan Menuju ke Surga

Proses Perjalanan Menuju ke Surga

Saya baru saja duduk di minimarket langganan tepatnya dibelakang Monumen Bom Bali Satu, saat tiba-tiba saya mendengar suara gong khas Bali berikut angklung lewat di depan minimarket tersebut. Saya bertanya pada seorang ketua adat yang kebetulan lewat depan saya tentang upacara apa itu, dan ternyata itu adalah salah satu ritual menuju Ngaben. Di mana, sang jenazah akan di usung bersama seluruh perlengkapan upacara, mengitari beberapa persimpangan​, kemudian ke pinggiran pantai lalu diletakkan di sebuah lapangan kecil yang sudah dipersiapkan untuk menjalani prosesi Ngaben.

Ini prosesi adat pertama yang saya hadiri setelah saya sampai di Bali. Suasananya​ tentu dalam suasana duka. Saat khusuk melihat satu demi satu prosesi Ngaben, sepanjang perjalanan sampai di lapangan, lokasi dilaksanakannya Ngaben, saya menyaksikan ada beberapa sanak keluarga yang tampak meneteskan air mata, sebagian lagi nampak menahan kesedihan, sambil menabur beberapa bunga, air suci dan kain putih ke atas api yang tengah nyala membara, sebagian lagi merapalkan doa diiringi tabuhan gong.

Sungguh, perasaan saya sangat campur aduk saat mengikuti acara ini. Sisi lain saya senang, karena akhirnya bisa melihat secara langsung acara adat Bali yang paling bikin saya penasaran ini, sisi lainnya lagi betapa tak sopannya saya mengabadikan foto-foto sebuah keluarga yang jelas-jelas tengah berduka. Dan untungnya, rasa bersalah saya agak sedikit berkurang ketika saya diizinkan untuk mengabadikan foto dan menulis beberapa catatan setelahnya oleh Pak  Wayan, anak pertama dari (Ibu Made Lestari-berumur delapan puluh lima tahun) yang hendak di antar  menuju ke surga oleh beliau  dan empat saudaranya siang itu. 

Dari Pak Wayan saya tahu tentang beberapa hal mengenai tradisi Ngaben. Upacara penyucian roh ini adalah upacara wajib yang mesti dilakukan oleh warga Bali yang memiliki sanak saudara yang meninggal dunia. Tentunya dengan biaya yang tidak sedikit. Masyarakat Bali, bahkan ada yang mengubur jenazah sanak saudara mereka terlebih dulu jika untuk melakukan prosesi Ngaben itu tidak memungkinkan. Baru, nanti jika pemerintah mengadakan Ngaben massal-yang diselenggarakan oleh  pemerintah selama lima tahun sekali, mereka menggali kuburan itu kembali. Prosesi penguburan tidak sembarang, semua harus melewati prosesi adat yang sudah biasa dilakukan, baik saat penguburan maupun saat pengangkatan jenazah kembali.

Saat saya menyaksikan api melambung tinggi ke angkasa, membakar seluruh jenazah ibunda Pak Wayan, saat itulah saya melihat Pak Wayan meneteskan air mata disela-sela beliau bercerita. Dan beliau segera menghapusnya dengan kain hitam yang dikenakannya hari itu. Saya yang benar-benar merasa bersalah akhirnya memutuskan untuk tidak banyak bertanya lagi. Saya membiarkan Pak Wayan kembali khusyuk melakukan ibadah demi ibadah untuk mengantarkan sang ibunda ke surga, masih diiringi dengan ketukan gong khas Bali dan doa-doa dari para tetua. 

Ngaben melewati beberapa prosesi yang memiliki makna tersendiri. Tadi saya menyaksikan beberapa di antaranya. Yakni, saat keranda jenazah yang menyerupai istana itu sampai sebuah perempatan jalan pertama, maka para pengusung keranda itu akan berputar-putar selama tiga kali dengan iringan tabuhan gong yang terdengar lebih keras pukulannya dari pada saat prosesi Ngaben. Di perempatan pertama ini, menurut Pak Wayan, mengandung makna sebagai simbol perpisahan sang jenazah dengan keluarga. Sementara berputar di perempatan kedua, mengandung makna sebagai simbol perpisahan sang jenazah dengan lingkungan masyarakat dan diperempatan ketiga mengandung makna sebagai simbol perpisahan sang jenazah dengan dunia. Lalu setelah proses Ngaben dilewati maka abu jenazah akan dihanyutkan ketengah laut. Sebuah simbol bahwa keluarga yang ditinggakan sudah ikhlas.

Hal yang membuat saya terharu saat melihat prosesi Ngaben ini adalah ketika langit begitu membiru dan angin begitu semilir. Seolah itu adalah sebuah isyarat bahwa sang arwah sudah sampai di Surga dengan bahagia. Ah, selamat jalan Bu Made Lestari. Semoga engkau damai dan bahagia di Surga sana. Amin.

:Pantai Kuta, pada suatu siang yang semilir.

Karya : Yehan Minara