Menikmati Pagi di Pasar Tradisional Kuta dan Pasar Seni Bali

Yehan Minara
Karya Yehan Minara Kategori Wisata
dipublikasikan 20 Juni 2017
Menikmati Pagi di Pasar Tradisional Kuta dan Pasar Seni Bali

Menikmati Pagi di Pasar Tradisional Kuta dan Pasar Seni Bali

Pagi yang cerah seperti pagi ini, sudah bisa saya tebak sejak saya usai menyelesaikan shalat subuh tadi. Langit penuh membiru dan matahari mulai terasa membakar kulit, hingga berhasil memproduksi ratusan biji keringat di dahi-dahi para para pencari nafkah di Pasar Tradsional Kuta ini. Meski sangat terik, saya sangat bersemangat sekali untuk mengekplorasi pasar pertama yang saya singgahi selama di Bali.

Yeah, lest fun together with me, beibz.

Mengunjungi pasar tradisional Kuta-Bali, tentu akan sangat berbeda rasanya dengan mengunjungi pasar-pasar tradisional dibeberapa kota yang sempat saya singgahi.

Saya sangat menyukai suasana semarak di Pasar Tradsional Kuta ini, berpetualang melihat-lihat orang berbelanja kebutuhan pokok rumah tangga, dari mulai pakaian,makanan, minuman dan sayur mayur yang di gelar di trotoar dan kios-kios  sampai menemukan sesuatu yang spesial yakni, kebiasaan masyarakat Bali yang membeli bunga dan dupa yang digunakan sebagai syarat sembahyang. Saat saya menemukan momen ini, saya merasa bahwa membeli seperangkat syarat sembahyang berupa bunga-bunga, nasi, biskuit, permen dan masih banyak lagi akan lebih diutamakan dari pada membeli kebutuhan dapur. Itu bisa dilihat dari setiap warga yang turun dari kendaraan pribadi mereka selalu langsung menuju lapak penjualan bunga-bunga dan seperangkat syarat ibadah lainnya. Oh iya, lapak dagangan di pasar tradisional ini, memang didominasi oleh para penjual bunga dan barang-barang lain yang biasa digunakan untuk acara adat masyarakat Hindu-Bali.

Saat sibuk mencari rizki seperti itu, ada banyak masyarakat Bali yang langsung melakukan ibadah di Pura yang terletak di samping pasar. Masyarakat Bali percaya bahwa dengan melakukan ibadah dimana dan kapanpun mereka berada, itu dapat menolak kesialan yang datang pada mereka. Tak sedikit juga yang percaya, bahwa dengan begitu, keberuntungan akan datang pada mereka. 

Saya senang sekali, bisa mengajak ngobrol beberapa  di antara mereka. Menanyakan tentang harga sayur-mayur, makanan ringan, pakaian hingga harga sekantong plastik perangkat sembahyang yang berisi bunga-bunga dan teman-temannya itu.

Setelah puas mengitari pasar tradisional Kuta, saya melanjutkan jalan kaki ke Pasar Seni Bali. Pasar ini tentu berbeda dengan pasar tradisional Kuta, yang lebih mengutamakan menjual kebutuhan sandang pangan dan bunga-bunga untuk sembahyang. Di Pasar Seni Bali yang letaknya tak jauh dari pantai Kuta ini, saya lebih menemukan suasana pasar yang bersih,  asyikdan seru. Kenapa seru? Sebab di sini pembelinya rata-rata turis mancanegara. Di Pasar Seni ini, banyak dijual sovenir kerajinan tangan khas Bali, berupa: kalung, gelang, lukisan, kain, baju, tas dan masih banyak lagi. Dijual dari kisaran harga 10-100 ribu rupiah.

Hal yang paling saya sukai dari pasar ini adalah proses tawar-menawar antara pembeli-para turis mancanegara dan pedagang lokal. Bagaimana tidak, saya pikir-mereka para turis mancanegara, akan dengan begitu saja membeli apa yang mereka butuhkan, tanpa tawar menawar, sebab sekali lagi saya pikir mereka adalah orang-orang yang kebanyakan uang dan siap dihambur-hamburkan​ di Bali. Tapi, ternyata mereka lebih hebat dalam hal ini. Mereka akan terus menawar keharga paling rendah, jika tak mendapat persetujuan dari pedagang mereka akan pergi begitu saja.

Saya pun jatuh cinta dengan Bahasa Inggris para pedagang di pasar ini. Jatuh cinta, sekaligus bikin cemburu. Mereka sangat lancar sekali berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris, lebih-lebih ketika menawarkan suatu barang. Tak ada rasa canggung atau malu. Jika ada turis datang mereka langsung casciscus ini itu. 

Satu catatan pentingnya: kamu, yang turis lokal jangan sampai patah hati kalau dicuekin sama para pedagang di sini, yang kebanyakan lebih memilih menawarkan dagangannya ke turis mancanegara. 

Apa pun itu, bagi saya pasar tradisional tak kalah seru untuk disinggahi selain pantai, monumen, bar, gunung, pura dll. Entah mengapa, pasar tradisional selalu memiliki magnet tersendiri buat saya. Sangat semarak meski hati dalam keadaan sunyi ketika saya menyinggahinya.

:Kuta, catatan di tulis   ketika menunggu waktu berbuka puasa.

 

  • view 75