Tentang Hal-Hal Manis Selama Beramadhan di Bali

Yehan Minara
Karya Yehan Minara Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 18 Juni 2017
Tentang Hal-Hal Manis Selama Beramadhan di Bali

Tentang Hal-Hal Manis Selama Beramadhan di Bali

Sudah dua puluh tiga hari saya beramadhan diperjalanan. Dan tinggal menghitung hari menuju hari raya. Seketika perasaan sedih itu menguap, membuat nafas saya sedikit sesak. Beramadhan diperjalanan sungguh sangat berkesan buat saya, hingga saya merasa tak rela jika bulan yang mendamaikan hati ini begitu cepat berlalu. Tapi, saya tetap tak bisa berbuat apa-apa. Selain lebih memantapkan hati untuk lebih khusuk beribadah lagi sebelum bulan ini benar-benar berakhir.

Dan sore ini, ketika saya memutuskan untuk berbuka puasa di Nusa Dua, tepatnya di pusat  peribadatan Puja Mandala, tiba-tiba saja, ingatan saya tertuju pada hal-hal yang manis selama beramadhan di sini. Hal manis yang membuat saya jatuh  d cinta setengah mati  dan ingin sekali tinggal di sini selamanya. 

Yah, ini kali pertama saya beramadhan diwilayah minoritas, rasanya sangat mendebarkan. Saat pertama kali saya sampai di sini, saya disuguhi dengan suasana yang jauh sekali dari suasana ramadhan seperti di Banten sana. Pagi-pagi sekali, saya meneguk air liur berkali-kali karena melihat aroma bubur ayam yang sudah dipastikan mampu menggoyang lidah saya, belum lagi aroma jengkol dan sambal terasi yang menguap dari warteg-warteg yang saya lewati, lebih pedih lagi jika siang mulai datang, godaan sop buah lebih-lebih​ mempesona dari pada melihat bule-bule berbikini yang berjemur ditepi pantai. Dan di sini saya merasa, tidak ada nikmat Tuhan yang paling indah selain menahan sabar dari rasa haus dan lapar.

Lalu apakah hal manis yang​ saya rasakan selama di sini? Ibadah. Yeah, saya suka sekali beribadah di sini. Selain perjuangan mencari masjid yang lumayan bikin berkeringat, ibadah di sini ternyata sangat khusuk. Dari sholat fardhu hingga ke tarawih yang tidak buru-buru. Lantunan ayat-ayat Alquran yang panjang terasa lebih mendamaikan hati saat dibaca dengan diqiraahkan. Saya pernah merasakan hal semacam ini ketika saya singgah di Istiqlal selama dua hari awal Ramadhan yang lalu.

Hal lainnya adalah tausiyah menjelang tarawih atau selepas shalat subuh, yang sungguh menyejukkan hati. Satu ayat Alquran yang dibahas, akan dikupas tuntas berikut dengan hadits-haditsnya, isinya tentu jauh dari ajakan-ajakan untuk memojokkan pihak-pihak tertentu, tidak rasis apalagi menyudutkan orang lain yang imannya tak sama dengan kita. Selama saya singgah dari satu masjid ke masjid yang lain di sini, saya selalu mendengarkan isi-isi ceramah yang sejuk, kebanyakan yang disampaikan selalu berisi ajakan untuk membangun toleransi yang tinggi antar umat beragama. Sebagai seseorang yang tengah berupaya menjaga ketenangan lahir dan batin, Bali berhasil membuat saya jatuh cinta dengan cara hidup beragamanya yang tidak gampang mengucilkan orang lain karena menjadi minoritas. 

Sisi lain yang tak kalah seru adalah, hidup berdampingan mencari rizki. Para pedagang muslim tak pernah risau dengan penjual babi guling disebelahnya. Mereka sama-sama berjuang dibulan yang penuh Rahmat  ini, tentu saja di sini orang tak perlu berteriak-teriak​ untuk menghormati sana sini pada mereka yang berpuasa atau tidak berpuasa. Saya pikir, memang begitulah seharusnya urusan beragama dan beribadah. Semua cukup dengan saling memahami dan melengkapi. Sungguh, saya masih memiliki kesedihan luar biasa dalam ketika sampai saat ini masih ada saja orang-orang​ diluar sana yang sibuk mengurusi kehidupan beragama orang lain, hingga menimbulkan sikap intoleransi.

Ah, sebenarnya saya ngeri sekali bicara hal semacam ini, lebih-lebih jika mengingat betapa mengerikannya orang-orang menghakimi saya, saat saya mengunggah foto idola saya yang kini dipenjara. Tadinya, saya juga takut menuliskan pengalaman yang manis selama beramadhan di sini, karena pengalaman beragama di sini pun baru saja saya jalani. Tapi, saya sudah berjanji pada diri saya untuk menulis cerita apa saja yang saya temui dan karena itulah akhirnya saya berani membagikan pengalaman yang belum seberapa ini.

Oh iya, meski ini bulan ramadhan, di sini saya tak pernah membatasi pergaulan saya. Jika saya lelah mengeksplor suatu tempat, saya akan ikut berjemur seharian bersama para ribuan bule yang hanya berbikini dan minum-minuman itu hingga saya terlelap tanpa ada yang berani mengganggu. Malam hari selepas shalat tarawih, jika saya malas menyelesaikan tulisan, saya akan keluar masuk bar. Ikut dansa, atau sekedar mengamati orang-orang yang siap dibuay dunia malam. Saya tak pernah merasa risih, atau mendapat pandangan yang aneh dari orang-orang karena hijab yang saya kenakan. Mereka biasa saja. Tidak ada yang usil dan semua sibuk dengan dunia masing-masing.

Saya tak sedang bicara adab bagaimana seharusnya beramadhan di sini. Silahkan berbeda. Di sini saya hanya tengah belajar memahami banyak hal. Itu saja.

Barangkali inilah hal-hal manis yang ingin saya bagi selama beramadhan di sini. Sungguh ini pengalaman yang luar biasa buat saya. Dan entah kapan lagi saya akan mengulangi momen-momen seperti ini. 

:Bali, rindu ramadhan, di tengah ramadhan.

 

  • view 108