Dear Lina, Terimakasih.

Yehan Minara
Karya Yehan Minara Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Juni 2017
Dear Lina, Terimakasih.

Dear Lina, Terimakasih.

Di antara kisah pertemuan dan pertemanan antar manusia, saya paling menyukai kisah pertemuan dan pertemanan yang tak disengaja. Bagi saya pertemuan dan pertemanan yang diakibatkan karena ketidaksengajaan itu, mampu menyisakan kenangan manis yang tak mudah terlupakan bahkan bisa mengikat ketali persaudaraan, dan diperjalanan ini saya menemukan beberapa di antaranya berlanjut ke hubungan pernikahan. Indahkan?

Malam ini, saya baru saja pulang dari Denpasar, ketika saya mendapati seorang perempuan bule tengah memesan pecel lele di warung makan Bude Laras-warung makan tempat saya menginap beberapa hari belakangan selama saya tinggal di Kuta, dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang fasih.  Bule itu memesan makanan bertepatan dengan pengunjung lain yang kebetulan memesan menu yang sama seperti dirinya. Mendadak saya tak berniat menyapanya, saat mendapati wajah bule itu mulai memerah menahan kesal dan marah. Apalagi penyebabnya kalau bukan pelanggan yang memesan menu yang sama seperti dirinya itu terus merecoki pesananya dengan banyak pertanyaan menggunakan bahasa Inggris yang berantakan, menanyai ini itu seolah dia pelayan di warung  itu, yang lebih parah, sudah berantakan, pertanyaannya terus diulang-ulang​.

Hingga kemudian “saya sudah enam tahun tinggal di Lombok, selain bahasa Lombok saya juga bisa bahasa Indonesia, jadi bisakah kita ngobrolnya pakai bahasa Indonesia saja” si bule itu mulai tak tahan dan si pelanggan itu mendadak diam “oh iya satu lagi, saya suka pedas, saya suka semua jenis ikan, daging, sayuran, lalapan semua saya suka, terserah mau buatkan saya yang mana, yang penting saya bisa makan cepat sekarang, eh ngomong-ngomong ibu pelayan di warung ini?” tanpa menunggu jawaban pelanggan itu, si bule memilih duduk dan mengabaikannya, matanya berkaca-kaca menahan kesal yang teramat sangat dan nafasnya masih naik turun saat saya duduk disebelahnya. Sementara si pelanggan itu memilih masuk ke dapur dengan wajah setengah bersalah, tentu dengan berbisik-bisik menumpahkan kekesalan yang dimulai oleh dirinya sendiri pada Bude Laras.

“Mau orange juice, teh manis atau kopi” saya mencoba memulai percakapan, setelah beberapa menit dia menenangkan diri sambil menutup kedua wajahnya. Sementara di dapur, Bude Laras nampak sibuk membuat pesanan. Sesekali matanya mencuri pandangan ke arah saya, seolah bertanya apa semua baik-baik saja.

“Oh maaf maaf, saya pesen orange juice saja, jangan manis-manis yah” kali ini saya melihat wajah merah marahnya sudah menghilang, berganti dengan cepat menjadi senyuman. Saya segera membuatkan ia orange juice dan dari sanalah tali pertemanan itu dimulai.

Yah, namanya Lina, perempuan asal Jerman ini tengah menengok sahabatnya yang tengah sekarat di salah satu rumah sakit wilayah Kuta akibat sebuah penyakit (Lina nggak mau nyebutin nama penyakit sahabatnya). Lina memiliki mata berwarna coklat muda, dengan bentuk wajah yang sedikit lonjong, jika dilihat dari garis bibirnya, Lina ini seperti orang yang murah senyum, dan saya suka dengan logat bicaranya yang sangat Indonesia sekali. Lina curhat, saat itu ia tengah mengkhawatirkan sahabatnya hingga ia merasa sulit berkonsentrasi melakukan banyak hal, lebih lagi pas mau pesen makan tadi. Saya bisa memahaminya, dan tahu orang emosi seperti dirinya pasti memiliki sebab. Itulah mengapa saya tak minat mengetahui banyak hal tentang dirinya ditengah kondisinya yang kurang enak untuk bicara banyak. 

“Boleh saya kagum sama kamu?” tanyanya tiba-tiba sambil memegang tangan saya. Membuat nafas saya berhenti sesaat.

“Kagum kenapa? Perasaan saya nggak ngobrol apa-apa perihal saya ke kamu?” 

“Memang, tapi matamu sudah bicara sesuatu yang mengagumkan dari dirimu” 

Saya mencoba mengabaikannya dengan menyesap teh hangat buatan Bude Laras. Sambil diam-diam mencerna, dan berfikir keras, apa yang sesungguhnya mata saya bicarakan pada perempuan bule ini. Saya tak mengerti, selama melakukan perjalanan ini ada begitu banyak orang-orang seperti dirinya menyapa saya. Langsung kagum, tanpa mengenal lebih dalam dulu. Dan itu membuat saya sangat tidak nyaman. 

“Saya selalu percaya pada apa yang saya lihat dan dengar. Caramu bicara dengan saya, gayamu duduk, tanganmu yang tak lepas dari note, buku yang kamu baca dan ransel yang kamu gendong, sudah cukup bagi saya untuk mengetahui bahwa kamu memiliki visi misi tinggi. Dan entah mengapa, saat pertama kali melihatmu saya merasa tidak sendirian lagi. Oh iya, kamu pasti tengah melakukan perjalanan, iya kan? 

Saya otomatis nyengir kuda demi mendengarkan apa yang dikatakan Lina. Saya jelaskan padanya bawah saya memang tengah melakukan perjalanan dengan membawa mimpi dan misi tinggi. Tapi saya tak suka dengan kekaguman yang disampaikannya. Yang saya lakukan bahkan belum seberapa.

“Ini nomor telepon saya, saya tunggu kamu di rumah saya. Saya sangat ingin jadi teman kamu, saya ingin jadi guide pribadimu selama di Lombok dan ingin mendengar ceritamu lebih banyak lagi”

Saya tak lagi bisa mendebat apa yang Lina inginkan. Jika boleh jujur sayalah yang kagum padanya, sejak pertama kali mendengar dia bicara pakai bahasa Indonesia. Saya ingin tahu lebih banyak tentang dirinya, tentang pekerjaan, kenapa  ia memutuskan tinggal di Lombok, apa kabar orang tuanya, sudah menikah apa belum, pernahkah jatuh cinta sama pemuda Indonesia, sudah bisakah ia memasak nasi di tungku, kenapa ia merasa sendirian dan masih banyak lagi. Tapi, saya hanya bisa memendam itu sampai kemudian ia memeluk saya erat dan berpamitan. 

Yang membuat saya tak mampu mengucapkan apa-apa adalah saat saya sadar, ternyata ia menyelipkan beberapa lembaran uang di buku saya tanpa saya ketahui sama sekali. 

“Ah Lina ... Lina ... Lina. Kenapa kamu mesti melakukan itu, kamu membuat saya menyesal telah menceritakan mimpi saya padamu Lin, sungguh....!”

Tapi baiklah, meski begitu saya tak akan menolak tawaranmu untuk singgah ke Lombok Lin, bukan lantaran kamu siap menjadi guide pribadi seperti yang kamu tawarkan. Saya hanya penasaran bagaimana kamu menjalani hidup sebagai warga Indonesia dan melihat bagaimana caranya kamu nonton matahari pagimu di sana.

Oh iya, maafkan saya karena saya terpaksa mencuri fotomu di whasapp. Lagian kamu susah sekali diajak selpi ????

:Legian, ditengah gegap gempita para pemilik malam.

  • view 93