Saya Hanya Ingin Menjauh Sejenak

Yehan Minara
Karya Yehan Minara Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Juni 2017
Saya Hanya Ingin Menjauh Sejenak

Ini pagi pertama saya yang cerah, setelah beberapa hari tinggal di Kuta. Langit penuh membiru dan angin yang dikirim pun sangat hangat, menarik beberapa turis mancanegara menggelar kain mereka dan mulai tidur terlentang memadati pinggiran pantai. Ah, mungkinkah ini saatnya bagi saya bercerita. Membuang segala resah ke dalam sebuah tulisan?

Sejujurnya, sejak awal saya memutuskan untuk mengelilingi Indonesia Timur, tepatnya awal Ramadhan yang lalu saya kerap sekali dihinggapi perasaan gelisah. Perasaan gelisah yang lahir justru bukan karena perjalanan saya yang nampak berliku dan tajam, tapi karena banyak pertanyaan diluar sana yang tak henti-hentinya menghujat dan menghakimi keputusan saya memilih pergi meninggalkan zona yang membuat saya hampir mati sia-sia selama sekian tahun. Dan sekarang saya mulai kesal sendiri dengan semua penghakiman itu.

Baiklah, maukah kau mendengar suara hati saya sejenak? Saya ingin sekali bercerita tentang hal remeh Sepajang perjalanan beberapa hari terakhir ini. Yah, di sini saya baik-baik saja. Hidup dan numpang tidur di pos polisi satu ke pos polisi yang lain, dari kolong meja warteg ke kolong meja rumah sakit, dan dari supermarket hingga ke pinggiran pantai. Apakah saya tak takut? Kenapa tidak memilih tidur di masjid saja? Ah, saya pernah berbab-bab mengatakan padamu kan? Bahwa takut adalah bagian dari sifat negatif, yang jika dibiarkan akan menjadi penyakit yang sulit disembuhkan? Itulah kenapa saya tak pernah sedikitpun membiarkan pikiran negatif itu hinggap di kepala saya. Di perjalanan saya menyakini bahwa setiap orang itu baik, meski mereka menunjukkan dengan cara yang berbeda-beda. Dan itulah yang saya temukan selama melakukan perjalanan: bertemu banyak sekali dengan orang-orang baik.  Oh iya, perlu kau tahu, masjid di Bali tidak seperti masjid di Jawa dan Jakarta sana, yang bisa kapan saja menerima tamu yang hendak melakukan ibadah atau melepas lelah barang sehari atau dua hari. Masjid di Bali, selain untuk ibadah, tidak ada yang boleh menginap apalagi sampai berhari-hari, lebih lagi untuk perempuan seperti saya.  Tak bisa saya pungkiri, saya sedih bukan main mendapati kenyataan itu. Saya bahkan sampai memohon-mohon agar mereka mau bertoleransi dengan keadaan saya, tapi itu tetap tak merubah apa-apa. Tadinya saya ingin marah, tapi kemudian saya bisa mengerti dan memahami, bahwa fungsi masjid memang seharusnya hanya untuk beribadah. Bukan numpang istirahat dan sebagainya. Itulah kenapa saya memutuskan untuk istirahat ditempat lain, selain dari masjid.

Lalu apa yang saya lakukan selama di perjalanan? Yang pasti saya tidak menghabiskan waktu dengan tidur atau nonton gosip lagi. Di sini saya belajar menemukan cerita, lalu saya tulis untuk kenang-kenangan nanti ketika saya memutuskan pulang. Kadang, saya menyempatkan waktu keluar masuk gang, pasar-pasar tradisional, melihat para warga Bali beribadah dan kalau beruntung saya bisa menyaksikan acara-acara adat atau pesta perayaan seni yang sering sekali diselenggarakan oleh pemerintah Bali, bahkan saya bisa menghabiskan waktu hanya dengan berjemur bersama ribuan turis dari berbagai negara selama seharian penuh. Dan selepas tarawih, saya akan menghabiskan separuh malam dengan duduk-duduk santai di depan minimarket langganan, entah hanya sekedar numpang ngecas hape, merapihkan tumpukan tulisan, baca buku, menemani beberapa bule yang mabuk sekaligus putus asa atau menjadi saksi sepasang Gay yang tengah birahi. Ah, masihkah kau akan terus menghakimi keseruan perjalanan saya ini? Bahkan tak bosan-bosan mengatakan bahwa saya telah menyia-nyiakan hidup saya, dan berani meninggalkan yang pasti-pasti. Andai kau tahu, bahwa yang paling membuat saya takut dan akhirnya memutuskan meninggalkan semuanya adalah karena penghakimaan tiada henti seperti ini. Tapi, ya sudahlah, saya sudah terlalu lelah berandai-andai yang tak jelas kemana arahnya itu. Kini saya hanya ingin mengatakan  padamu, bahwa saya senang dengan perjalanan ini, sebab bisa menikmati hari-hari dengan keajaiban-keajaiban​ kecil yang kerap muncul tanpa pernah saya duga, seperti beberapa hari belakangan ini.

Tapi, satu hal yang mungkin harus kau tahu dan kau ingat. Saya ini bukanlah manusia yang sempurna, yang mampu bertanggung jawab terhadap pilihan hidup dan kehidupan yang sudah saya pilih tahunan lalu. Saya sadar dengan sepenuh hati, telah banyak kesalahan yang saya lakukan, telah banyak kesempatan yang saya sia-siakan dan telah banyak orang-orang yang saya kesecewakan karena tindakan saya ini. Hingga kemudian pada titik inilah saya ingin menjauh sejenak, meredam gejolak, menepi ketempat di mana saya tak lagi mendengar banyak pertanyaan yang membuat jiwa saya semakin riuh dan jauh dari ketenangan.

Baiklah, mudah-mudahan curahan hati saya ini sudah cukup membuatmu tenang di sana. Saya tak bisa menjelaskan lebih banyak lagi, selain hari sudah semakin siang, saya ada janji untuk belajar bahasa Inggris dengan keluarga baru saya di sini. Percayalah, saya sangat sayang sama kamu dan orang-orang yang sudah memberikan pundaknya untuk saya selama ini. 

:Kuta, di bawah langit yang membiru.

 

#catatanharian #catatanperjalanan #bali #kuta #menujuindonesiatimur

  • view 201