Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 18 Februari 2016   07:10 WIB
Di Perantauan Aku Merindu

Malam?

Ibu, malam ini biarkan aku tidur di sebelahmu? seranjang denganmu. Ingin ku dengarkan cerita-ceritamu selama aku tak? di sampingmu. Mengurai lembut tiap helai rambutmu yang telah memutih dari pangkal hingga ujungnya. Ibu mengapa cepat sekali rambutmu memutih ataukah aku yang terlalu lama tak di sampingmu, dan baru menyadarinya. Ibu ingin ku dengarkan pula mengapa pipimu yang kering tampak bekas-bekas air matamu. Dan keriput di wajahmu melipat rapi kepedihan dan kekecewaanmu padaku. Ibu, selama aku tak di sampingmu derai air mata itu mengalir terus, dan saat aku datang bergegas kau mengusap dan mengeringkannya. Ibu, mengapa senyummu begitu indah meskipun tak seindah hari-harimu. Ibu, ajarkan aku tentang ketegaran, yang tak kudapatkan di bangku sarjana. Ibu ajarkan aku menyalakan api keberanian untuk menerangi kegelapan citaku. Ibu, ajarkan aku menyalakan api ketulusan untuk menerangi kegelapan cintaku.

Terlepas dari semua itu, ingin kutanyakan padamu Ibu. Masihkah kau percaya padaku, anakmu. Di saat orang lain meragukanku, bahkan tak percaya padaku. Apakah jawabanmu sama dengan sehari sebelum aku pergi. ?anakku, aku percaya kamu memang bukan suci atau sufi nak! kau tetap anakku. Ibu tak berharap berlebih, kuatkan dirimu nak! Seberapa kuat orang lain mengacaukan kedamaianmu, Ibu masih lebih kuat merangkulmu ketika kamu rapuh. Saat orang lain melukaimu, Ibu masih mampu mengobatimu. Saat orang lain membodohimu, Ibu masih mampu mengajarkan padamu aksara-aksara kehidupan bukan dari buku tapi laku. Itulah yang selalu terngiang. Sebesar apapun salahku padamu.

Ibu, maafkan aku. Telah banyak mengecewakanmu. Merobohkan rangkaian mimpimu. Sekarang masih berserakan di pelataran harapanmu. Ibu, ijinkan aku jauh darimu. Bukan menghindarimu, tapi aku pergi untuk mencari benih-benih kedamaian untuk menghiasi taman yang akan menemani senjamu. Kelak jika ia tumbuh, menjadi peneduhmu saat lelah. Jika berbunga, biar mewangi mendamaikanmu saat gundah. Jika berbuah, Ibu dapat membaginya dengan mereka yang selama ini mengacaukan kedamaianmu, kedamaianku agar mereka menikmati kedamaian.

Biarkan aku lelap di sampingmu Ibu, dan biarkan lentera itu menyala menemani kita. Meskipun cahayanya tak seterang kasihmu, hangatnya tak sehangat pelukmu. Ibu?

Karya : Bi Yasmin